Halfmoon Generasi Emas dari Thailand

Ketiga pendatang baru itu dibawa oleh Hermanus J Hariyanto, hobiis halfmoon di Tomang, Jakarta Barat. Mereka terbang ke tanah air bersama 20 halfmoon berkualitas lain. Rata-rata nilai transfernya S$120 per ekor setara Rp720-ribu. Harga itu terjangkau karena transaksi dilakukan sebelum turun kontes. “Selepas lomba, nilai transfer jauh berlipat,” kata Hermanus.

Bukan tanpa alasan Hermanus mendatangkan halfmoon bernuansa emas. Ia menduga warna itu akan ngetren pada 2005. Pasalnya, tren warna cupang bergerak dinamis dan cepat mengikuti perkembangan tren di Thailand. Awal 2004 misalnya, dunia halfmoon nusantara diramaikan oleh warna cupper alias tembaga. Kini di negeri Gajah Putih, halfmoon berwarna keemasan siap menjadi pengganti. Lazimnya hobiis cupang di tanah air siap menyalip.

Menurut Hermanus, nenek moyang halfmoon gold adalah halfmoon cupper. Ia disilang terus menerus dengan warna lain sehingga muncul warna emas. Itulah yang dilakukan oleh peternak di Thailand. Chok Pendit misalnya. Peternak yang kerap menjadi juri di even internasional itu memperkenalkan halfmoon gold berumur 4 bulan pada Agustus 2004. Sejak itu warna logam mulia menjadi buah bibir di kalangan hobiis halfmoon. Berikut 3 jenis gold yang bermukim di tanah air:

Doubletail halfmoon gold

Doubletail halfmoon gold, terbaik Singapura

Halfmoon bermental baja itu tubuhnya diselimuti warna keemasan. Sayang, di bagian ekor masih tampak semburat biru. Berekor ganda dan berbentuk simetris. Sirip atas dan bawah lebar. Bila sedang mengembang alias ngedok ekor dan sirip berimpit satu sama lain membentuk setengah lingkaran atau setengah bulan.

Menurut Hermanus, doubletail berumur 3,5 bulan yang ada di tangannya keturunan F4 atau F5. Nenek moyangnya halfmoon cupper yang disilangkan dengan white opaque alias putih tak tembus cahaya. Muncullah halfmoon cupper gold dan platinum. Diduga halfmoon gold “tercipta” dari silangan cupper gold dengan kuning. Melalui beberapa tahap persilangan, bahkan di-backcross, disilang kembali dengan induknya.

Halfmoon red gold

Emas berpadu merah. Itu kata yang tepat untuk menyebut halfmoon red gold. Dua pertiga bagian ekor, sirip atas, dan sirip bawah berwarna merah. Hanya 1/3 bagian di ujungnya yang berwarna putih transparan. Walau begitu, nuansa logam mulia tetap kental menyelimuti sekujur tubuh. Ia kian elok saat sirip dan ekor mekar. Kecantikannya bagaikan ekor merak yang sedang mengembang.

Warna merah di red gold muncul dari induk betina berwarna kuning yang disilangkan dengan cupper gold jantan. Harap mafhum, pada warna kuning itu tersimpan gen resesif (tersembunyi, red) merah. Persilangan satu lubuk sampai alias satu nenek moyang menyebabkan warna merah muncul kembali. Kilau emas diturunkan dari moyang jantan cupper gold.

Lavender halfmoon

Generasi kedua berkilau emas

Walau pendatang anyar di tanah air, lavender tidak asing lagi di kalangan hobiis. Pasalnya, ia adalah generasi kedua dari lavender yang pernah ngetren 2 sampai 3 tahun silam di mancanegara. Hobiis di Indonesia menyebutnya sebagai cupang maskot. Kelebihan dibanding pendahulunya hanya pada kilau emas di tubuh. “Paduan warna lembayung tampak lebih memikat,” kata pengusaha komputer itu.

Ada tiga kemungkinan asal usul lavender halfmoon yang kini beredar. Pertama, hasil silangan maskot merah dengan white opaque. Induk berwarna putihlah yang menyumbangkan kilau logam. Kedua, silangan cupper gold dengan maskot merah. Kemungkinan lain, induknya adalah cupang berwarna kuning yang disilangkan dengan cupang berdarah emas. “Ia bisa dicetak dari induk yang tidak sama warnanya,” kata Hermanus.

Ketiga pendatang anyar itulah yang kini siap meramaikan arena halfmoon di tanah air. Mereka dipersiapkan untuk kontes yang digelar di Indonesia dan Singapura sepanjang 2005. “Target saya, mereka populer di Aquarama 2005,” kata Hermanus. Bukan tak mungkin, varian warna baru itu mampu memikat para juri di arena kontes sehingga layak jadi nominator jawara.