Hamparan Kebun Leci Nan Luas Di Thailand

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Empat pengunjung mengitari kebun dengan berjalan kaki. Setelah menentukan pilihan, salah seorang di antaranya memesan buah dekat pintu masuk. Karyawan Suthira segera mengambil gunting dan keranjang bambu. Tanpa harus menaiki tangga, ia cekatan menggunting ranting penuh buah ranum. Hasil panen siang itu kemudian di bawa ke sebuah tenda untuk ditimbang. Pengunjung hanya membayar 70 baht-80 baht setara Rpl7.500-Rp20.000 untuk sekilo leci segar.

Leci itu lantas dikemas dalam plastik-plastik transparan berbobot 1 kg. Pengunjung pun dapat meminta buah dikemas dalam keranjang-keranjang bambu sebagai buah tangan. Di sana pelancong diperkenankan memetik sendiri sekadar mencicipi. Untuk urusan itu Suthira tak memungut biaya. Mantan guru Sekolah Dasar itu membudidayakan leci 20 tahun lalu. Pantas diamater pohon mencapai 10 cm.

Perempuan separuh baya itu memilih varietas kom untuk dikebunkan. Dalam bahasa Thai, kom berarti kerdil. Ketimbang varietas lain, tanamannya memang relatif pendek. Daging buah tebal, kering, aroma harum, dan rasanya manis. Yang paling penting kom adaptif di dataran rendah. Harap mafhum ketinggian Amphawa-lokasi kebun Suthira-hanya 10 m dpi. Di dataran rendah itulah Suthira mengebunkan leci.

kebun leci
kebun leci di thailand

Kebun Di Tepi pantai

Suthira menanamnya di bedengan-bedengan berjarak tanam 8 m x 8 m. Antar guludan dipisahkan parit selebar 2 m yang senantiasa tergenang air. Parit antara lain berfungsi sebagai penyedia air dan menjaga kelembapan. Dengan perawatan intensif, produksi sebuah pohon rata-rata 100-300 kg per tahun. Seluruh hasil panen ludes terjual di kebun. Sebab, musim berbuah jatuh pada April-Mei lebih awal ketimbang di Chiang Mai pada Mei-Juni. Sentra leci Chiang Mai, Thailand bagian utara, berketinggian 900 m dpi.

Letih usai menempuh perjalanan dari Bangkok langsung sirna saat mengunjungi kebun leci milik Suthira. Pemandangannya begitu semarak. Menempuh perjalanan ketika siang terik saat suhu mencapai 41 °C mengundang kantuk. Untung saja pemandangan di Jalan Peth Kasem-jalur penghubung Thailand-Malysia yang terletak di Provinsi Ratchaburi, tetangga Samut Songkhram- amat menarik sehingga berangsur-angsur kantuk hilang. Daerah itu dicapai sejam dari Bangkok dengan mobil.

Di kedua sisi jalan itu tampak gerai-gerai sederhana yang menjajakan leci. Melihat panorama itu Mitra Usaha Tani yang ditemani Kissana Tancharoen dari Department of Agriculture Extension, meminta sopir untuk menepikan mobil. Penjual mendirikan tenda sekadarnya. Lalu ikatan-ikatan leci-beberapa helai daun disertakan-ditumpuk di atas meja. Bobot seikat leci, 1 kg, yang dijajakan 80 baht-100 baht.

Pada April pemandangan seperti itu mudah ditemukan lantaran leci tengah panen raya di Samut Songkhram. Setelah pemandangan itu berlalu, kini giliran ladang-ladang garam menghampar. Samut Songkhram memang di tepi pantai. Jarak dari pantai terdekat pun cuma 5 km. Dalam bahasa setempat provinsi di selatan Bangkok itu berarti Tembok Samudera. Beberapa kilometer kemudian tampak gerbang selamat datang di kanan dan kiri. Di bagian atasnya tergambar buah leci. Tanda Samut Songkhram sebagai sentra leci dataran rendah terbesar. Setelah melewati gerbang itu tampaklah pemandangan menakjubkan. Pohon-pohon leci sarat buah berderet di kanan-kiri jalan.

pemilik kebun leci
Suthira di kebunnya

Pedagang

Di dataran rendah Thailand leci telah ratusan tahun tumbuh dan berkembang. Sebagai kota pelabuhan, Samut Songkhram banyak disambangi para pedagang dari Cina yang membawa buah leci. Biji buah itulah yang kemudian ditanam pekebun setempat 200 tahun silam dan ternyata mampu berbuah. Padahal, leci dikenal sebagai tanaman dataran tinggi.

Secara turun-temurun buah asal Cina terus dikebunkan seperti oleh Suthira kini. Pekebun lain yang ditemui Mitra Usaha Tani adalah Alun Canbunmee. Lelaki separuh baya itu menanam 200 pohon pada 1985. Perawatan, pola dan jarak tanam sama persis dengan kebun Suthira. Varietas kom juga menjadi pilihan Alun Canbunmee. Teknologi budidaya semacam itulah yang diadopsi para pekebun leci dataran rendah di Thailand.

Bibit hasil cangkok berbuah perdana pada umur 4 tahun. Dengan cangkok umur 20 tahun tanaman tampak pendek, setinggi 3-5 m. Buah merebak di hampir setiap ranting. Sampai-sampai Alun membungkus tajuk dengan net. Sebab, lokasi kebun persis di tepi jalan besar. Jika tak dibungkus, tentu saja bakal mengganggu kendaraan yang melintas. Setiap tahun Alun memanen 15 ton leci segar dari kebunnya.

Ia tak sempat memasarkan buah ke luar kota. Saat musim panen tiba, banyak pedagang yang menyambangi kebunnya. Di sana harga sekilo leci 80 baht. Toh, Alun tetap menerima tamu perorangan yang tertarik berkunjung ke kebunnya. Buktinya Mitra Usaha Tani yang secara spontan mampir ke kebun pria bersahaja itu dijamu dengan baik. Saat pulang 2 kantong leci segar pun diberikan sebagai oleh-oleh. Selain memperoleh leci segar nan manis, mata pun dimanjakan oleh pemandangan spektakuler: leci sarat buah di dataran rendah.***