Selasa, September 21, 2021
BerandahobiHarga Selangit Burung Albino

Harga Selangit Burung Albino

Harga tinggi itu diperolah Anda setelah terlibat tawar-menawar alot selama beberapa pekan. Wajar harga itu disematkan pada sang burung bercorak putih bak salju. Bulu tampak putih bersih berpadu dengan bingkai mata berwarna kuning muda. Kontras dan terlihat cantik. Kicauan suaranya pun terdengar merdu. Pantas saja pembelinya rela bersabar untuk mendapatkannya.

Jalak suren itu bukan burung pertama yang dijual Anda. Sebelumnya ia sudah menjual 33 jalak suren albino. Harga bervariasi tergantung umur, minimal Rp 10 juta per ekor. Semua jalak itu dicetak dari sepasang induk berwarna normal. Lelaki kelahiran Surabaya 18 Juli 1970 itu memang terkenal sebagai penangkar jalak suren dan cucakrawa. Dari 20 kandang, 1 kandang rutin menelorkan albino.

“Begitu piyik pertama menetas ternyata berwarna putih, padahal induknya normal. Sampai sekarang terus begitu,” ujar Anda. Indukan itu didapat secara tidak sengaja. Sejak dijodohkan pada 2002 hingga sekarang kandang di Solo Baru itu sudah 11 kali menetaskan telur. Semuanya langsung laku terjual. Pembeli datang dari Jakarta hingga Surabaya. Jalak suren berwarna putih memang kondang sebagai burung eksotis.

Albino Mata merah

Sebenarnya selain jalak suren, Anda masih memiliki burung albino lain, seperti perenjak, cendet, dan cucak jawa putih. Sosok mereka tak kalah cantik dibanding jalak suren albino. Perenjak hadir lebih dulu. Klangenan milik alumnus STIE YKPN itu tampil beda. Sosoknya bak golden snitch dalam permainan quiditch dalam cerita sihir Harry Potter. Tangkas dan lincah bergerak ke semua sudut. Keelokan burung berjuluk white snitch itu kian nyata saat ia mendongak. Perpaduan dengan sepasang mata berwarna merah terang laksana batu permata ruby membuat mata enggan terpicing.

Setiap pagi sebelum beraktivitas Anda selalu menyempatkan diri menengok sang perenjak. Sebuah sangkar khusus diletakkan di lantai 2 rumahnya. Setiap kali ada orang mendekat, perenjak “bule” itu langsung ramai berkicau. Suaranya terdengar nyaring dan merdu. Yang jelas tidak mudah untuk mendapatkan dari pemilik sebelumnya. Bapak 2 anak itu harus sabar menunggu. Awal 2003 perenjak putih itu bisa diboyong pulang dengan imbalan 2 pasang jalak suren seharga Rp8-juta.

Hampir setiap orang yang melihatnya melontarkan pujian. Bahkan sudah ada yang menawar hingga Rp 10-juta. Namun, suami Dewi Savitri itu bergeming. “Eman-eman. Susah dapetnya, sampai sekarang pun saya belum bisa menangkarkannya,” ujarnya. Anggota famili Sylviidae ini memang terkenal sulit diternak. Di alam sudah j arang ditemui. Itulah alasan Anda merasa sayang untuk melepasnya.

Kegandrungan mengoleksi burung langka tidak berhenti sampai di sini. Selang 1 bulan setelah membeli perenjak, Anda tertarik pada cendet putih. Sosoknya pendek dan mungil, lebih gemuk daripada perenjak. Selain albino, corak pink menyeruak dari paruh dan kaki. Sepasang bola mata berwarna hitam bertengger di atas paruh pendeknya, menambah kecantikan burung itu.

Oleh Anda kedua burung albino itu digantung di lantai 2. Penat seharian bekerja langsung hilang begitu melihat kelincahan sang klangenan. Suaranya terdengar ramai memenuhi ruangan. Untuk bisa membawanya, mantan pemasar obat itu harus melepas sepasang jalak suren seharga Rp4-juta sebagai penukar.

Bisa ditangkar

Burung Cendet albino
Cendet, ditawar Rp 25-Juta

Pertengahan 2004 koleksi Anda bertambah dengan kehadiran cucak jawa. Begitu seorang kenalan menawarkan kepadanya, Anda langsung tertarik. Dibanding pendahulunya harga manuk krucuan julukan cucak jawa di Jawa Tengah itu memang lebih murah. Meskipun begitu penampilannya tak kalah apik. Tubuhnya didominasi warna putih dengan semburat kuning di dekat kaki. Ujung sayap dan ekor bagian atas berwarna cokelat susu.

Saat ini cucak betina itu sudah mulai beranak-pinak. Di kandang setinggi 2 m ia disandingkan dengan cucak jawa cokelat muda. Perjodohan berjalan sukses. Terbukti hingga saat ini sudah 4 anakan berwarna sama yang dihasilkan. Semuanya langsung laku dengan harga Rp2-juta per pasang. Karena sudah bisa diternak, perlakuannya sedikit istimewa. Burung tidak pernah disentuh agar tidak stres. Anda pun harus puas memandangnya dari luar kandang.

Burung Eksotis

Megananda Daryono, pemilik Mega Bird Farm juga mengoleksi 4 pasang love bird albino. Ia membelinya dari Belanda seharga Rp 10 juta per ekor. Setelah diternak, anakan pun albino. Berbeda dengan love bird umumnya, albino miliknya berbulu putih dan bermata merah. Yang mengincarnya tidak sedikit. Buktinya anakan umur 1,5 bulan laku dilepas dengan harga Rp2,5 juta per pasang.

Burung albino memang eksotis. Nilainya akan berbeda jika muncul pada murai batu, jalak suren, atau cendet. Menurut Dr drh Edi Boedi Santosa, MP dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, perenjak dan cendet albino memang langka. Kedua burung ini juga tidak gampang diternak. “Prestasi membanggakan kalau bisa menangkarkan perenjak dan cendet, apalagi jika mendapatkan albino,’’ujar Edi, panggilan akrab doktor lulusan Jerman itu.

Sifat albino diturunkan dari induk betina yang memiliki gen albino. Induk albino 100% menurunkan keturunan albino. Si induk bisa saja bercorak normal, tapi beranak “bule” karena ada gen albino. Seperti jalak suren milik Anda, “Peluang untuk mendapatkan indukan seperti itu sangat kecil, 1.000:1,” kata Edi. Toh, tidak semua albino bernilai eksotis. “Kenari albino sudah tidak aneh, meski tetap unik. Sebab mereka mudah sekali diternakkan,” lanjut Edi. Nilai kelangkaan memang tergantung jenis burung. Jadi jangan heran jika perenjak dan cendet albino milik Anda Priyono berharga selangit.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments