Hobi bercocok tanam sayuran hidroponik Tanpa Media Tanah Ala Pejabat

Hobi bercocok tanam sayuran hidroponik Tanpa Media Tanah Ala Pejabat

Mark Sungkar dan Bupati Dadang M Naser berkolaborasi untuk memberikan tips tentang cara menanam sayuran hidroponik di rumah untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka berharap bahwa dengan cara ini, masyarakat dapat menumbuhkan sayur-sayuran yang sehat dan segar tanpa banyak usaha dan biaya tinggi. Dengan begitu, masyarakat dapat memiliki sumber penghasilan tambahan yang stabil. Bupati Bandung, H Dadang Mohamad Naser SH, SIP MSi, yang akrab dipanggil Kang DN, tahu bahwa menjadi kepala pemerintahan sebuah wilayah bukanlah pekerjaan yang mudah. Dengan persoalan yang rumit, ia masih meluangkan waktunya untuk bercocok tanam di pekarangan rumah dinasnya sejak 2012. Ia menggunakan sistem hidroponik, yang tidak memerlukan tanah dan membutuhkan air yang sedikit. Master Ilmu Politik alumnus Universitas Padjadjaran ini mengaku bahwa ia bercocok tanam untuk memberikan contoh kepada warganya dan memanfaatkan lahan secara optimal.

Manfaat Berkebun Sayuran Bagi Warga Sekitar Melalui KRPL dan Sistem

Hidroponik Nutrient Film Technique (NFT)

Kegiatan berkebun sayuran yang dilakukan Bupati telah memberikan dampak positif bagi warga sekitar. Mereka berbondong-bondong mengikuti program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang dicanangkan oleh pemerintah sejak 3 tahun silam. Halaman rumah mereka pun digunakan sebagai lahan bercocok tanam. “Saat KRPL pertama kali dibagikan, Kelompok Wanita Tani (KWT) pun berkesempatan untuk mencicipinya. Saya pun menikmati sayuran hasil pekarangan sendiri,” ungkap Kurnia, istri dari Bupati Bandung. Padahal, semula pekarangan mereka menganggur. Namun sekarang, mereka dapat memetik beragam sayuran untuk kebutuhan mereka, bahkan menjualnya sehingga pendapatan mereka bertambah. Dadang M Naser, lahir di Bandung pada 24 Juli 1961, mengembangkan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) dengan dua tipe: tanpa atap dan di dalam net house atau rumah jaring. Di kedua tipe itu, ia menggunakan pipa PVC berukuran 2 inci sebagai wadah tanam. Menurutnya, budidaya sayuran secara hidroponik juga sangat efektif karena tidak memerlukan lahan yang besar serta tanaman yang dihasilkan berupa tanaman organik tanpa pestisida. Ia menciptakan sistem hidroponik di luar ruangan dengan menggunakan konstruksi rangka besi berbentuk segitiga yang bisa memanfaatkan kedua sisinya. Jarak antarkaki rangka segitiga itu 1,2 m. Di 2 sisi segitiga itu, ia menyusun pipa masing-masing menjadi 6 tingkat dengan jarak antarpipa 20-40 cm dan panjang pipa masing-masing 14 m. Dengan jarak antarlubang tanam 20 cm, Dadang bisa menanam 70 tanam per pipa, yang berarti ia bisa menanam 840 sayuran di luasan 16,8 m2. Berbeda dengan penanaman secara konvensional yang hanya dapat menanam 420 sayuran di luasan yang sama, Bersama istri, Hj Kurnia Dadang Naser, ia menanam sayuran daun seperti kailan, pakcoy, caisim, dan salada, yang menghasilkan panen yang lebih banyak.

Hidroponik sebagai Solusi untuk Menanam Sayuran Lezat dan Menghasilkan

Penghasilan Tambahan

Kurnia, Ketua Umum Tim Penggerak PKK Kabupaten Bandung, menyatakan bahwa rasa sayuran hidroponik lebih lezat daripada yang ditanam secara konvensional. “Rasanya lebih renyah dan lebih segar,” ujarnya. Dadang, sarjana Ilmu Pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani Bandung, juga menyatakan bahwa sayuran hidroponik, seperti kailan, memiliki rasa yang lebih renyah, empuk, dan mudah dikunyah ketika dimasak. Ketertarikan Dadang terhadap pertanian, sebagaimana menanam sayuran, bukanlah tanpa alasan. “ Meski saya tak pernah bersekolah di bidang pertanian, tapi saya bisa menyelesaikan S1 Hukum karena hasil panen petani ayahku,” ujarnya. Selain itu, bersama istri, ia juga menciptakan konsep rumah dinas seperti miniatur dari 31 kecamatan Kabupaten Bandung. “Kami ingin menggambarkan bahwa kami tidak hanya mengajak, tapi juga menunjukkan contoh nyata dengan menanam sayuran organik dan hidroponik di halaman rumah dinas ini,” tuturnya.. Dadang tidak hanya menyantap hasil produksi sayuran hidroponiknya sendiri, tapi juga menjualnya kepada orang lain. Dengan produksi sekitar 200 kg per 2 pekan, ia meraih omzet Rp 2,4 juta. Setelah dikurangi biaya produksi sekitar 60%, Dadang meraih penghasilan tambahan sekitar Rp 960.000 per 2 pekan atau Rp 1,9 juta per bulan. Selain itu, juga dalam program KRPL, ia meyakinkan setiap halaman Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Kabupaten Bandung untuk menanamkan sayuran hidroponik. Dengan demikian, ia berharap bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat.

Mark Sungkar, Petani yang Menggemari Sistem Hidroponik dan Akuaponik

Mark Sungkar, aktor film yang populer pada era 1970-1980-an ternyata lebih senang dikenal sebagai petani. Pada tahun 1979, mark mulai merintis hobi di Akademi Teater Amsterdam, Belanda dan pada 2011, saya memutuskan untuk menjadikannya sebagai bisnis. Ia saat ini bermukim di Vila Sungkar, yang terletak di Cisarua, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.. Untuk menanam sayuran tanpa tanah, saya menggunakan net house berukuran 5 m x 7 m. Ia menanam sayuran seperti kangkung, sawi, selada, tomat, dan cabai dengan sistem hidroponik dan akuaponik. Untuk budidaya hidroponik Mark menggunakan pipa polivinil klorida (PVC) sebagai wadah tanam. Menurutnya, ia merasa bangga jika disebut sebagai petani. Ketika melihat sayuran di kebunnya tumbuh dengan segar, mark pun merasa bahagia. Sebagai tindak lanjut, ia menjual rumahnya di Permata Hijau, Jakarta Selatan, dan menetap di Cisarua. Net pot hitam dengan media berupa hidroton yang menyangga sawi-sawi hijau yang tingginya mencapai 15 cm, dan di salah satu sisi terlihat 5 buah pipa sepanjang 3 m disusun secara horizontal dengan 15 lubang tanam. Akar sawi mencapai nutrisi melalui saluran pipa. Di sisi lain terlihat sebuah meja kayu berukuran 3 m x 1 m ditanami selada dengan sistem hidroponik rakit apung. Selada-selada itu tumbuh hijau di lubang-lubang styrofoam yang mengapung di atas permukaan nutrisi setinggi 30 cm. Menurut Murk, penggunaan sistem rakit apung lebih ekonomis daripada menggunakan talang PVC. Tomat dan cabai pun tumbuh subur di dalam sebuah drum bekas cat dengan media berupa perlit. Meski sekarang Murk belum menjual produksinya dari tanaman sayuran, ia bertekad untuk memulai penjualan tahun 2015. “Jika saya ke Jakarta, saya pasti membawa selada dan sawi dari kebun ini untuk dikonsumsi keluarga besar, dibagikan kepada warga, dan rekan- rekan kerja,” ujar pemilik Green Homes Indonesia itu. Rasa sayuran yang renyah dan tidak pahit membuat keluarga besar Sungkar ketagihan. Mark bercita-cita untuk mengembangkan hobinya itu dengan menjual hasil kebun yang telah dilabeli ke pasar swalayan.

Membangun Petani Akuaponik dan Hidroponik di Indonesia: Pemahaman Mark

tentang Masa Depan Bertani Organik Tanpa Tanah

Menurut Mark, bertani tanpa tanah merupakan cara masa depan Indonesia untuk mengatasi masalah lahan subur yang terbatas di tengah era modern. Ia menggunakan dua buah kolam dari drum berdiameter 100 cm dan kedalaman 120 cm untuk menyediakan nutrisi bagi tanaman-tanaman tersebut. Kolam-kolam itu berisi ikan bawal, mas, dan nila yang memberikan hara berupa sisa pakan dan kotorannya. Bakteri di dalamnya mengubah amonia menjadi nitrat, yang bermanfaat sebagai pupuk alami. “Dengan sistem akuaponik ini, saya tidak perlu membeli pupuk lagi, dan sayuran yang saya hasilkan pun menjadi organik,” katanya. Selain itu, tanaman juga memberikan manfaat dengan menyediakan oksigen yang diperlukan ikan. Air bersih akan mengalir kembali ke dalam kolam secara otomatis tanpa harus diganti. “Ini juga salah satu cara untuk menghemat air,” tambahnya. Mark bercita-cita mengedukasi petani agar bertani secara organik tidaklah mahal. Ia pun mencari pengetahuan tentang budidaya secara akuaponik dan hidroponik dari Murray Hallam, seorang petani akuaponik besar di Brisbane, Australia. Selain itu, ia juga mengikuti pelatihan akuaponik internasional untuk mendapatkan sertifikat dan rajin berselancar di internet, membaca buku, dan Majalah Mitra Usaha Tani untuk menambah pengetahuan.

Penutup

Para pelaku usaha, terutama yang bergerak di bidang pertanian, tentu sangat mengapresiasi pertemuan antara Mark Sungkar dan Bupati Dadang M Naser untuk menggalang ide-ide baru dalam hal menanam sayuran hidroponik. Ini adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah ini. Semoga para pelaku usaha dapat mengambil manfaat dari kesempatan ini.

Share on:

Yudianto
Yudianto Yudianto, penulis aktif di Budidayatani dan Mitrausahatani.com, memiliki hobi di bidang pertanian. Ia sering menulis artikel terkait teknik budidaya tanaman dan usaha tani, berkontribusi untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan dan inovatif.
comments powered by Disqus