Manajemen Rantai Pasokan Dan Analisis Benchmark Eksternal Pada Waralaba Magfood Red Crispy

Magfood 2 | Agricultural Socio-Economics | Mitra Usaha Tani

ABSTRACT

This research aimed to describe the partnership implementation based on supply chain management between franchisor and franchisee, to analyze inventory function performance MRC franchise business and to analyze external benchmark in MRC franchise business with its benchmarking partner.

The research results are : (1) The product flow as the primary factor in inventory function happens more in start up stage, where franchisee needs franchisor’s help to deliver utilities needed to build and continues its business, while in follow up stage and evaluation stage, money flow and information flow happens more than products flow. (2) The inventory function performance of MRC franchise business is inventory turnover rate achieved 78 in 2005, increased become 95 in 2006.

It means that to run this franchise business, franchisee needs to make a product procurement (food seasoning) 78 times in 2005, and 95 times in 2006, getting along with the profit increase in 2006. While the inventory days of supply variables performance of MRC in 2005 is 4,25 days, it means that franchisee needs 4,25 days so that the finished product is sold out to the consumers. In year 2006, inventory days of supply is increased +0,55 become 3,7 days, which means that the franchisee is getting faster in selling finished products to the consumers. In fill rate variables, has increase in its performance from 93,33% in 2005 to 95,83% in 2006. (3) The benchmarking partner

(McDonald’s) has better inventory performance than MRC. It is supported with the data collected from the internet that in 2005, McDonald’s inventory turnover rate is 105,93 rise as much 113,33 in 2006. The inventory days of supply rise 0,36 became 0,2 and also fill rate increased from 97% in 2005 became 98,89% in 2006.
Keywords: Supply Chain Management, Franchisee

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi kemitraan berdasarkan manajemen rantai pasokan antara franchisor dan franchisee, untuk menganalisis kinerja fungsi persediaan pada usaha waralaba MRC dan melakukan analisis benchmark eksternal pada usaha waralaba MRC dengan mitra benchmarkingnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa :

  1. Aliran produk sebagai faktor utama fungsi persediaan lebih banyak terjadi pada tahapan awal kegiatan usaha waralaba MRC, dimana franchisee membutuhkan bantuan franchisor untuk mengirimkan barang-barang yang digunakan untuk melangsungkan usaha waralaba MRC, sementara pada tahap tindak lanjut dan tahap akhir, aliran yang lebih banyak terjadi adalah aliran informasi dan aliran uang
  2. Kinerja fungsi persediaan usaha waralaba MRC adalah tingkat perputaran persediaan MRC mencapai angka 78 selama tahun 2005, meningkat menjadi 95 di tahun 2006.

Artinya untuk dapat beroperasi dalam setahun, franchisee melakukan 78 kali pembelian produk bumbu makanan cepat saji MRC dan mengalami peningkatan menjadi 95 kali, seiring dengan profit yang diterima outlet MRC pada tahun 2006. Kinerja variabel tingkat perputaran persediaan meningkat sebesar +17. Kinerja persediaan MRC pada variabel suplai harian persediaan pada tahun 2005 adalah 4,25 hari, dimana franchisee membutuhkan waktu 4,25 hari agar persediaan produk jadi dapat habis terjual kepada konsumen.

Pada tahun 2006, suplai harian persediaan meningkat menjadi 3,7 hari, dimana franchisee semakin cepat dalam menjual persediaan produk jadi kepada konsumen sebesar +0,55 hari. Sementara pada tingkat fill rate (pemenuhan jumlah produk setengah jadi/produk bumbu makanan cepat saji MRC yang diminta oleh franchisee kepada franchisor) mengalami peningkatan kinerja pada tahun 2006 dari fill rate 93,33% menjadi 95,83%. (3) Mitra benchmarking memiliki kinerja persediaan yang lebih baik daripada MRC.

Hal ini dapat dilihat dari data yang dikumpulkan dari internet bahwa sejak tahun 2005, tingkat perputaran persediaan mitra benchmarking MRC adalah 105,93 meningkat ke 113,33 pada tahun 2006. Suplai harian persediaan meningkat dari 0,36 menjadi 0,2 dan tingkat pemenuhan permintaan franchisee kepada franchisor meningkat dari 97% pada tahun 2005 menjadi 98,89% pada tahun 2006.

Kata kunci: Manajemen Rantai Pasok, Waralaba

PENDAHULUAN

Waralaba lokal merupakan salah satu bagian dari sektor UKM yang menjadi penyangga Perekonomian Nasional Indonesia(Parman, 2006). Waralaba merupakan pola hubungan kemitraan antara pemberi hak waralaba (franchisor) dan penerima hak waralaba (franchisee) yang memberikan keuntungan berupa adanya alternatif sumber dana, penghematan modal dan efisiensi (Soetawi, 2002).

Metode waralaba menerapkan pendekatan manajemen rantai pasokan dimana pengelolaan tersebut terkait dengan aliran informasi, aliran produk dan aliran uang dalam kegiatan intinya yaitu persediaan, atau yang disebut dengan inventory (Indrajit dan Djokopranoto, 2002).

Manajemen rantai pasokan mengutamakan arus produk antarperusahaan, sejak paling hulu sampai paling hilir, dimana arus produk ini mengandalkan pada pengelolaan fungsi persediaan (inventory). Pengelolaan aliran produk dengan tepat adalah salah satu tujuan utama dari manajemen rantai pasokan.

Permasalahan yang ditemui di lapang mengenai manajemen rantai pasokan adalah keterlambatan pengiriman produk, adanya produk yang cacat selama pengiriman dan kurangnya pengawasan kuantitas produk oleh franchisee di outletnya. Adanya manajemen rantai pasokan dapat menekan penimbunan produk di dalam gudang franchisee sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi minimal.

Pendekatan analisis benchmark menelaah bahwa upaya perbaikan efisiensi manajemen rantai pasokan tidak mungkin dicapai tanpa adanya indikator kinerja (Heiskenen et al, 2007). Indikator kinerja tersebut berdasarkan kinerja paling baik yang telah dicapai oleh mitra benchmarking. Benchmarking perlu dilakukan terhadap manajemen rantai pasokan usaha waralaba MRC mengingat masih lemahnya pengelolaan aliran informasi, produk dan uang usaha waralaba MRC.

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mendeskripsikan manajemen rantai pasokan aliran produk, uang dan informasi antara franchisor MRC dengan franchisee MRC,
  2. Menganalisis kinerja fungsi persediaan usaha waralaba makanan cepat saji MRC,
  3. Melakukan analisis benchmark eksternal pada usaha waralaba makanan cepat saji MRC.

METODE PENELITIAN

Analisis Deskriptif Kualitatif

Analisis ini digunakan untuk menjawab tujuan penelitian pada poin ke-1 yaitu mendeskripsikan aliran uang, aliran informasi dan aliran produk dalam manajemen rantai pasokan yang terjadi antara franchisor dan franchisee MRC dalam setiap tahap awal,tindak lanjut dan akhir sesuai dengan teori yang dijabarkan oleh Mendelsohn (1993) dan Sarosa (2004).

Analisis Kinerja Fungsi Persediaan

Terdapat 3 variabel yang menjadi indikator efisiensi fungsi persediaan yaitu:

  1. Inventory Turnover Ratio (tingkat perputaran persediaan)

HPP IITR =
Dimana :
ITR = Tingkat perputaran persediaan (kali/tahun)
HPP = Harga Pokok Penjualan (Rp)
I = Nilai persediaan rata-rata produk jadi di gudang outlet franchisee dalam periode
satu tahun (Rp)

  1. Inventory Days of Supply (suplai harian persediaan)

IDS = I
HPP harian
Dimana :
IDS = Suplai harian persediaan selama tahun 2005 dan 2006 (hari)
I = Nilai persediaan rata-rata produk jadi di gudang outlet franchisee dalam periode
satu tahun selama tahun 2005 dan 2006 (Rp)
HPP harian = hasil bagi antara HPP (Rp) dengan hari kerja franchisee per tahun (hari)
HPP hari ker ja franchisee per tahun
HPP harian =
Fill rate (tingkat pemenuhan permintaan)
FR = Q1 x100%
Q 2
Dimana :
Q1 = jumlah total produk bumbu makanan MRC (produk setengah jadi yang terkena biaya royalti) yang dikirim dari gudang franchisor ke franchisee MRC selama satu tahun pada periode tahun 2005-2006 (kg/unit).
Q2 = jumlah total produk bumbu makanan MRC (produk setengah jadi yang terkena biaya royalti) yang diminta oleh franchisee kepada franchisor selama satu tahun pada periode tahun 2005-2006 (kg/unit).

Analisis Benchmark Eksternal

Analisis ini digunakan untuk membandingkan capaian kinerja fungsi persediaan usaha waralaba MRC dengan mitra benchmarking-nya yaitu McDonald’s. Hal ini berfungsi ntuk melihat apakah kinerja fungsi persediaan usaha waralaba MRC sudah efisien atau belum terhadap McDonald’s. Selisih capaian kinerja usaha waralaba MRC dengan McDonald’s dijadikan sebagai dasar untuk memperbaiki kinerja fungsi persediaan sehingga efisiensi dapat ditingkatkan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Manajemen Rantai Pasokan Aliran Uang, Produk, dan Informasi Antara Franchisor dan Franchisee MRC

Pelaksanaan manajemen rantai pasokan pada usaha waralaba makanan cepat saji MRC merupakan hasil interaksi yang terintegrasi antara fungsi utama dalam manajemen rantai pasokan yang diterapkan oleh franchisor MRC di Jakarta Selatan dan fungsi utama dalam manajemen rantai pasokan yang diterapkan oleh franchisee MRC di Kota Gresik dimana setiap pelaku usaha waralaba makanan cepat saji berusaha menerapkan strategi JIT (Just in Time/Tepat Waktu) dalam mengelola persediaannya. Secara sederhana, pengelolaan komponen aliran informasi, produk dan uang dalam manajemen rantai pasokan antara franchisor dan franchisee MRC di Jawa Timur dijelaskan pada Gambar 1 berikut.
Word Image 68 1 | Agricultural Socio-Economics | Mitra Usaha Tani
Gambar 1. Pengelolaan Aliran Informasi, Produk dan Informasi dalam Manajemen Rantai Pasokan Antara Franchisor dan Franchisee MRC

Setelah melakukan kegiatan produksi, franchisor MRC mendistribusikan informasi dan produk kepada Kantor Cabang Surabaya. Kantor Cabang Surabaya berkewajiban mendistribusikan kembali aliran informasi dan produk tersebut kepada franchisee di wilayah Jawa Timur.

Setelah franchisee menerima informasi dan produk dari franchisor melalui Kantor Cabang Surabaya, franchisee melakukan pengolahan produk bumbu makanan cepat saji MRC dengan bahan baku makanan cepat saji berupa kentang, ayam, dan nasi menjadi produk jadi yang siap untuk dijual kepada konsumen MRC.

Sebagai distributor produk bumbu makanan cepat saji MRC, Kantor Cabang Surabaya bertugas mendistribusikan produk sampai ke tangan franchisee dalam jumlah yang tepat, ke tempat yang tepat dan pada saat yang tepat (Just in Time). Tugas Kantor Cabang Surabaya yang lainnya adalah melaksanakan tiga fungsi pemasaran yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi penyediaan dengan melibatkan sejumlah aliran produk, uang dan informasi, yang dijelaskan sebagai berikut:

 Fungsi pertukaran

Fungsi pertukaran terdiri atas kegiatan penjualan dan pembelian, dimana dalam setiap kegiatan tersebut terdapat perpindahan aliran uang dan produk. Aliran uang dimulai setelah franchisee memperoleh pendapatan dari hasil penjualan produk makanan cepat saji MRC dan melakukan pembelian kembali produk bumbu makanan cepat saji MRC di Kantor Cabang Surabaya.

Fungsi fisik

Fungsi fisik meliputi kegiatan pengangkutan dan penyimpanan. Kegiatan pengangkutan dilakukan saat produk bumbu makanan cepat saji MRC tiba di biro jasa pengiriman barang dimana karyawan Kantor Cabang Surabaya harus mengambil dan mengangkutnya untuk disimpan di gudang Kantor Cabang Surabaya. Penyimpanan dilakukan sampai franchisee datang membeli produk tersebut.

Fungsi penyediaan

Produk bumbu makanan cepat saji MRC yang diterima oleh franchisee MRC di Kota Gresik berasal dari persediaan produk yang ada di gudang Kantor Cabang Surabaya. Ada suatu kondisi ketika persediaan produk bumbu makanan MRC di Kantor Cabang Surabaya habis sebelum waktu pemesanan kembali sehingga tidak dapat melayani permintaan franchisee.

Hal tersebut mengakibatkan kontinyuitas produk bumbu makanan cepat saji MRC di gudang outlet milik franchisee terganggu sehingga franchisee tidak melakukan kegiatan produksi selama beberapa hari untuk menunggu pengiriman produk dari franchisor ke Kantor Cabang Surabaya.

Meskipun relatif sedikit, masih terdapat beberapa resiko yang harus ditanggung franchisee saat menjalankan usaha waralaba MRC berupa biaya operasional yang melebihi pemasukan usaha waralaba MRC sehingga berakibat pada rendahnya pendapatan yang diterima franchisee.

Resiko lain yang muncul berkaitan dengan kemampuan sumber daya manusia franchisee dalam mengelola usaha MRC, yaitu dalam pengelolaan persediaan produk bumbu makanan cepat saji di gudang outlet dan timbulnya perbedaan rasa serta kualitas produk makanan cepat saji yang disajikan di outlet franchisee untuk konsumen MRC. Untuk meminimalkan resiko tersebut, franchisor menerapkan cara preventif (pencegahan) sejak dimulainya usaha waralaba makanan cepat saji MRC dengan tiga macam cara yaitu:

Tiga Tahap Manajemen Rantai Pasokan

Tahap Awal

  1. Introduksi usaha waralaba MRC :
  • Melalui keikutsertaan franchisor dalam pameran UKM Agroindustri yang diadakan Departemen Pertanian dan Depperindag.
  • Pengadaan seminar/presentasi Magfood Red Crispy oleh franchisor kepada masyarakat dan calon franchisee.
  1. Melakukan penandatanganan persetujuan kontrak antara franchisor dan franchisee MRC Kesepakatan visi dan misi antara franchisor dengan franchisee MRC dicantumkan dalam persetujuan kontrak kerjasama. Penandatanganan kontrak kerjasama tersebut mengikat hubungan antara franchisor dan franchisee secara hukum jika sewaktu-waktu terdapat wanprestasi di antara pihak-pihak yang bersangkutan dalam usaha waralaba MRC sehingga masing-masing pihak melakukan hak dan kewajibannya dengan baik.
  2. Pembayaran franchise fee (biaya awal untuk membeli usaha waralaba MRC) oleh franchisee kepada franchisor sesuai kontrak yang telah ditandatangani.
  3. Perakitan peralatan (assembling) memulai menjalankan usaha waralaba MRC sesuaipesanan franchisee di kantor pusat franchisor.
  1. Pengiriman peralatan memulai menjalankan usaha dari franchisor kepada franchiseesesuai paket investasi yang dibayar oleh franchisee.
  1. Penerimaan barang oleh franchisee di lokasi usaha (Gresik)

Tahap Tindak Lanjut/Follow Up

Franchisee dengan jelas menjalankan bisnis waralaba MRC melalui prosedur operasional standar (Standard Operating Procedures/ SOP) yang harus ditaati oleh franchisee dan karyawannya.. Dukungan yang diberikan franchisor berupa promosi, iklan dan pelatihan sumber daya manusia.

Tahap tindak lanjut (follow up) dalam kegiatan usaha waralaba MRC yang berupa proses awal dan pelatihan. Franchisor memberikan pelatihan bagi franchisee agar dapat mencapai target yang diharapkan. Proses awal yang dilakukan franchisor adalah mendatangi outlet franchisee dan memberikan pelatihan berupa demonstrasi cara melakukan proses penyimpanan bahan baku makanan cepat saji MRC, cara memasak makanan cepat saji MRC, cara mengoperasikan peralatan yang ada di counter, cara menyajikan makanan kepada konsumen, cara melakukan pembukuan keuangan hasil penjualan produk, cara mengelola persediaan barang di gudang outlet dan cara melakukan promosi yang disesuaikan dengan keadaan outlet MRC dan konsumen MRC di Kota Gresik.

Tahap Akhir (Evaluasi Dan Monitoring)

Tahap akhir (evaluasi dan monitoring) dilakukan sebagai upaya franchisor dalam mempertahankan keberlangsungan usaha waralaba MRC sehingga dapat berjalan serta memberikan keuntungan yang bermanfaat secara finansial bagi para franchisee-nya.

Tahap ini berkonsep proses pemberian bantuan secara terus menerus dari franchisor kepada franchisee. Selama menjalankan kegiatan operasional usaha waralaba makanan cepat saji MRC, franchisor bertanggungjawab terhadap franchisee secara terus menerus agar franchisee dapat meningkatkan pendapatan (maximizing profit) dan mengurangi biaya operasional (cost reduction) dengan cara:

  1. Melaksanakan kunjungan berkala dari, dan akses ke karyawan franchisee
  2. Memberikan pelatihan ulang dan fasilitas-fasilitas pelatihan untuk franchisee dan karyawannya.
  3. Menghubungkan franchisor, franchisee, lain untuk bertukar pikiran dan pengalaman.
  4. Koordinasi franchisor dan staf kantor pusat MRC
  5. Inovasi produk
  6. Riset pasar
  7. Promosi di tingkat lokal dan nasional
  8. Konsultasi jasa manajemen dan pembukuan keuangan

Analisis Kinerja Fungsi Persediaan

Inventory Turnover Ratio (Tingkat Perputaran Persediaan)

Tingkat perputaran persediaan yang ada di gudang milik franchisee MRC di Outlet Kota Gresik dipengaruhi oleh estimasi produksi makanan cepat saji MRC, ketersediaan produk dari Kantor Cabang Surabaya, efisiensi dari jadwal pembelian dan proses produksi. Franchisee melakukan penjadwalan pembelian bahan baku produksi makanan cepat saji MRC sebanyak lima sampai enam kali dalam sebulan dan mencapai 55-60 kali per tahun.

Setiap kali melakukan pembelian bahan baku di Kantor Cabang Surabaya, franchisee menggunakansarana transportasi mobil boks yang dapat memuat semua bahan baku tersebut. Franchisee juga mengambil keputusan untuk memperkirakan kapasitas produksi makanan cepat saji per bulan berdasarkan informasi yang didapatkan dari karyawan produksi (production staff), sehingga pengelolaan tingkat persediaan juga menjadi bagian dari pengendalian yang dilakukan oleh franchisee.

Tingkat perputaran persediaan merupakan indikator kinerja persediaan untuk melihat seberapa cepat produk bumbu makanan cepat saji MRC mengalir relatif menjadi produk jadi terhadap jumlah nilai rata-rata persediaan yang diukur dalam waktu per tahun. Tingkat perputaran persediaan ditingkatkan dengan mengurangi waktu produksi makanan cepat saji MRC.

Data yang diperlukan untuk penghitungan tingkat perputaran persediaan adalah harga pokok penjualan dan nilai persediaan rata-rata produk jadi selama tahun 2005 dan 2006. Pada tahun 2005, tingkat perputaran persediaan adalah 78 dan meningkat menjadi 95 pada tahun 2006. Hal ini menunjukkan bahwa dalam setahun, franchise melakukan pembelian produk bahan baku berupa bumbu makanan sebanyak 78 kali pada tahun 2005 dan 95 kali pada tahun 2006.

Inventory Days of Supply (Suplai Harian Persediaan)

Analisis ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi franchisee dalam mengelola aset baik aset tetap (fixed asset) maupun modal kerja (working capital) untuk mencapai kepuasan konsumen. Suplai harian persediaan dihitung dengan membagi nilai persediaan rata- rata produk jadi dengan harga pokok penjualan per hari kerja.

Metriks suplai harian persediaan mengukur kecukupan persediaan bahan baku, produk bumbu makanan MRC dan produk jadi di gudang outlet MRC Kota Gresik dalam satuan hari, yang menunjukkan lamanya rata-rata hari franchisee dapat bertahan dengan jumlah persediaan yang dimiliki. Kinerja fungsi persediaan dikatakan efisien bila mampu memutar suplai harian persediaan dengan nilai yang tinggi. Semakin pendek suplai harian persediaan, semakin efisien kinerja fungsi persediaan franchisee.

Hari kerja outlet MRC Kota Gresik selama tahun 2005 adalah 327 hari, sementara hari kerja outlet MRC Kota Gresik selama tahun 2006 meningkat menjadi 351 hari. Faktor lamanya kerja inilah yang meningkatkan perputaran persediaan dan suplai harian persediaan pada tahun 2006.

Suplai harian persediaan pada tahun 2005 sebesar 4,25 dan pada tahun 2006 sebesar 3,70. Hal ini menyatakan bahwa terjadi efisiensi karena suplai harian persediaan menjadi lebih pendek daripada sebelumnya (+0,55 hari). Pada tahun 2005 franchisee membutuhkan waktu 4,25 hari agar persediaan mampu memenuhi permintaan konsumen sebelum franchisee melakukan pembelian ulang bahan baku dan barang setengah jadi. Sementara pada tahun 2006, waktu yang dibutuhkan lebih singkat yaitu sebesar 3,7 hari.

Fill Rate (Tingkat Pemenuhan Pesanan franchisee Oleh Franchisor)

Tingkat pemenuhan pesanan (fill rate) adalah persentase jumlah produk bumbu makanan cepat saji MRC (yang dikenai biaya royalti, yaitu bumbu chili) yang dikirim franchisor sesuai permintaan yang diajukan oleh franchisee dalam waktu ± 24 jam. Metriks tingkat pemenuhan pesanan yang efektif dalam mencapai pelayanan terhadap franchisee diselesaikan dalam waktu kurang dari 24 jam.

Jumlah barang yang dihitung adalah total produk bumbu makanan cepat saji MRC (yang dikenai biaya royalti) yang dikirim oleh franchisor MRC selama tahun 2005 dan tahun 2006. Semakin tinggi persentasenya, maka menunjukkan tingkat efisiensi pemenuhan pesanan yang tinggi.

Hasil tersebut diperoleh dari membagi jumlah barang yang dipenuhi oleh franchisor dengan jumlah barang yang diterima franchisee dan dikali dengan 100. Kebutuhan jumlah barang yang diminta oleh franchisee berupa produk bumbu makanan cepat saji MRC sebanyak 112 unit pada tahun 2005 dan 115 unit 2006 dari kebutuhan sebanyak 120 unit bumbu chili per tahunnya sehingga persentase tingkat pemenuhan pesanan sebesar 93,33% pada tahun 2005 dan 95,83% pada tahun 2006.

Secara keseluruhan, kinerja fungsi persediaan McDonald’s mengalami peningkatan dengan poin yang lebih besar daripada MRC. Data tersebut menunjukkan kinerja persediaan McDonald’s yang efisien sehingga dapat menjadi proses pembelajaran oleh usaha waralaba makanan cepat saji MRC sebagai upaya perbaikan untuk mencapai hasil yang lebih efisien daripada kinerja sebelumnya.

Pada tahun 2005 dan 2006, kinerja fungsi persediaan McDonald’s lebih efisien dan lebih baik daripada kinerja fungsi persediaan MRC. Hal ini berhubungan dengan penggunaan strategi JIT pada usaha waralaba McDonald’s yang berbeda dengan MRC. McDonald’s melakukan pendekatan JIT dengan menekankan pada pemeliharaan total dan pengendalian mutu total serta membina hubungan baik dengan pemasok (supplier).

Keunggulan kompetitif yang dimiliki McDonald’s diantaranya adalah aset atau sumber daya yang dapat menyediakan efisiensi dan pengurangan biaya termasuk didalamnya adalah biaya relatif dan pengendalian bahan baku, tenaga kerja ahli, lini produk yang terdeferensiasi dengan baik, pengendalian distribusi, konsumen yang layak, reputasi perusahaan, serta teknologi yang lebih maju.

Analisis benchmark eksternal jenis fungsional dilakukan untuk mendapatkan tolok ukur tingkat kinerja salah satu fungsi dalam manajemen rantai pasokan yang terbaik, yaitu fungsi persediaan yang dimiliki oleh merek dagang McDonald’s sebagai mitra benchmarking usaha waralaba makanan cepat saji MRC. Dari data diketahui bahwa terjadi kenaikan tingkat kinerja persediaan McDonald’s dari tahun 2005 ke tahun 2006. Peningkatan inventory turnover rate (tingkat perputaran persediaan) sebesar +7,4, inventory days of supply (suplai harian persediaan) naik sebesar +0,12 dan fill rate (tingkat pemenuhan permintaan franchisee oleh franchisor) naik sebesar +1,89.

Variabel kinerja fungsi persediaan McDonald’s yang mengalami peningkatan lebih banyak daripada peningkatan MRC adalah inventory turnover rate (ITR/tingkat perputaran persediaan) sebesar +7,4. Faktor utama yang membuat kinerja fungsi persediaan McDonald’s pada variabel ITR lebih efisien daripada kinerja fungsi persediaan adalah aplikasi strategi Tepat Waktu/JIT (Just in Time) yang merupakan pendekatan untuk meminimalkan total biaya penyimpanan dan pengangkutan barang yang sangat berbeda dari pendekatan tradisional dengan menekan biaya-biaya ini sampai nol, yang dilakukan dengan mengurangi persediaan sampai ke tingkat yang sangat rendah. Pendekatan inilah yang mendorong untuk persediaan nol dalam sistem JIT yang diterapkan McDonald’s.

Analisis Benchmark Eksternal Terhadap Fungsi Persediaan

Analisis benchmark eksternal jenis kompetitif sebelumnya telah dilakukan oleh franchisor MRC terhadap beberapa perusahaan pesaing yang bergerak di bidang makanan cepat saji. Analisis ini bertujuan mengetahui keunggulan kompetitif posisi usaha waralaba MRC di bidang makanan cepat saji. Keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh usaha waralaba makanan cepat saji MRC dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya adalah harga jual yang mampu dijangkau semua kalangan masyarakat baik masyarakat kalangan bawah (dengan penghasilan ≤ Rp 736.000 per bulan), kalangan menengah (berpenghasilan antara Rp 737.000 – Rp 2.000.000), hingga masyarakat kalangan atas (berpenghasilan ≥ Rp 2.000.000).

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Hasil dari penelitian manajemen rantai pasokan MRC menyatakan bahwa aliran produk sebagai faktor utama fungsi persediaan lebih banyak terjadi pada tahapan awal kegiatan usaha waralaba MRC, dimana franchisee membutuhkan bantuan franchisor untuk mengirimkan barang-barang yang digunakan untuk melangsungkan usaha waralaba MRC, sementara pada tahap tindak lanjut dan tahap akhir, aliran yang lebih banyak terjadi adalah aliran informasi dan aliran uang.
  2. Hasil dari kinerja fungsi persediaan waralaba Magfood Red Crispy (MRC) adalah tingkat perputaran persediaan MRC mencapai angka 78 selama tahun 2005, meningkat menjadi 95 di tahun 2006. Artinya untuk dapat beroperasi dalam setahun, franchisee melakukan 78 kali pembelian produk bumbu makanan cepat saji MRC dan mengalami peningkatan menjadi 95 kali, seiring dengan profit yang diterima outlet MRC pada tahun 2006. Kinerja variabel tingkat perputaran persediaan meningkat sebesar +17. Kinerja persediaan MRC pada variabel suplai harian persediaan pada tahun 2005 adalah 4,25 hari, dimana franchisee membutuhkan waktu 4,25 hari agar persediaan produk jadi dapat habis terjual kepada konsumen. Pada tahun 2006, suplai harian persediaan meningkat menjadi 3,7 hari, dimana franchisee semakin cepat dalam menjual persediaan produk jadi kepada konsumen sebesar +0,55 hari. Sementara pada tingkat fill rate (pemenuhan jumlah produk setengah jadi/produk bumbu makanan cepat saji MRC yang diminta oleh franchisee kepada franchisor) mengalami peningkatan kinerja pada tahun 2006 dari fill rate 93,33% menjadi 95,83%.
  3. Hasil penelitian benchmarking eksternal antara MRC dan McDonald’s adalah kinerja fungsi persediaan pada McDonald’s lebih unggul dibandingkan dengan kinerja fungsi persediaan MRC dimana kinerja fungsi persediaan McDonald’s pada tahun 2005 untuk tingkat perputaran persediaannya bernilai 105,93 dan meningkat menjadi 113,33 pada tahun 2006, sementara suplai harian persediaan meningkat dari 0,36 pada tahun 2005 menjadi 0,2 di tahun 2006. Untuk nilai pemenuhan pesanan pada tahun 2005 adalah 97% menjadi 98,89% pada tahun 2006.

Saran-saran dari penelitian ini adalah :

  1. Diperlukan penelitian yang lebih lanjut mengenai segmentasi pasar, tempat dan kebutuhan konsumen lainnya untuk mendukung manajemen rantai pasokan yang terjadi dari franchisor hingga ke end user;
  2. (2) Sebagai mitra benchmarking yang paling baik, usaha waralaba MRC dapat menggunakan strategi JIT (Strategi Tepat Waktu) yang diaplikasikan oleh McDonald’s, dengan memperhatikan kondisi usaha waralaba MRC;
  3. Diperlukan penelitian mengenai jenis benchmarking yang lain sehingga dapat mengatasi permasalahan di lapang terkait dengan manajemen rantai pasokan, terutama mengenai sumber daya manusia, yang berdampak pada pengelolaan fungsi persediaan.

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, R.D. Isaskar, R. dan Asmara, R. 2005. Perilaku Konsumen dalam Agribisnis. Modul Ajar. Universitas Brawijaya. Malang

Heiskenen, et al. 2007. Developing A Benchmark Tool For Sustainable Consumption: An Iterative Process. MTT Agrifood Research. Finland

Indrajit, Richardus dan Richardus Djokopranoto. 2002. Konsep Manajemen Supply Chain: Cara Baru Memandang Mata Rantai Penyediaan Barang. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta

Mendelsohn, Martin. 1993. Franchising: Petunjuk Praktis Bagi Franchisor dan Franchisee. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta

Parman, Ardiansyah. 2006. Waralaba Salah Satu Harapan Perkembangan Ekonomi Nasional.

Majalah Info Franchise Edisi 11/I/10 November – 9 Desember 2006. Halaman 42 – 44

Pujawan, 2005. Supply Chain Management. Guna Widya. Surabaya

Sarosa, Pietra. 2004. Mewaralabakan Usaha Anda. Elex Media Komputindo. Jakarta

Soetawi. 2002. Manajemen Agribisnis. Bayu Media dan UMM Press. Malang

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.