Analisis Diversifikasi Konsumsi Pangan Dalam Memantapkan Ketahanan Pangan Masyarakat Pedesaan

Diversifikasi Konsumsi Pangan | Agricultural Socio-Economics | Mitra Usaha Tani

Abstract

Kabupaten Jombang merupakan salah satu daerah yang memiliki kriteria daerah yang tahan pangan di Jawa Timur. Kriteria dari daerah yang tahan pangan ditentukan oleh beberapa aspek, antara lain aspek ketersediaan pangan, aspek akses pangan, dan aspek kegunaan pangan.

Tidak  hanya itu, untuk memantapkan kondisi ketahanan pangan suatu daerah diperlukan diversifikasi konsumsi pangan. strategi diversifikasi pangan digunakan untuk mengarungi ketergantungan terhadap konsumsi beras, dan keuntungan dari diversifikasi pangan adalah beragamnya alternatif jenis pangan yang ditawarkan,tidak hanya terfokus pada beras.

Dalam upaya untuk meningkatkan diversifikasi konsumsi pangan dari masyarakat pedesaan, perlu diketahui factor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi diversifikasi konsumsi pangan secara nyata, melalui analisis regresi. Nilai dari diversifikasi konsumsi pangan yang dihitung menggunakan Indeks Entropy (IE) masih menunjukkan nilai yang sangat rendah.

Sedangkan melalui hasil analisis dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap diversifikasi konsumsi pangan adalah tingkat pendidikan ibu dan kepala rumah tangga. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan optimalisasi faktor non ekonomis untuk meningkatkan diversifikasi konsumsi pangan.

Hal ini sejalan dengan program pemerintah yaitu perbaikan diversifikasi pangan dalam mencapai ketahanan pangan nasional dengan jalan mengoptimalkan sumber pangan lokal yang berpotensi di masing-masing daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan memperbaiki tingkat pendidikan dan skill serta menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang.

Kata kunci : Diversifikasi Konsumsi Pangan, Rumah Tangga Pedesaan, Faktor-Faktor Non Ekonomis, dan Indeks Entropy

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

 PENDAHULUAN

Saat ini Indonesia sedang menghadapi suatu permasalahan yang cukup serius yaitu kerawanan pangan. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap konsumsi beras sebagai bahan makanan pokok yang sangat tinggi, hal ini ditunjukkan oleh data susenas (1990,1993, 1996, 1999), yang menyebutkan tingkat konsumsi beras di berbagai wilayah di Indonesia yang rata-rata mencapai 100 persen (kecuali Maluku dan Papua). Tingkat ketergantungan yang sangat tinggi, namun tidak diimbangi oleh kemampuan produksi dalam negeri inilah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap kerawanan pangan.

Dengan pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan kini telah mencapai 220 juta jiwa, maka dikhawatirkan produksi akan beras tidak akan mampu memenuhi permintaan dari konsumen. Hal ini memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan impor akan beras, dimana hal ini akan membawa konsekuensi semakin bergantungnya masyarakat akan konsumsi beras berarti kita tidak dapat melepaskan diri dari impor beras secara terus-menerus.

Kebijakan pemerintah yang selama ini telah berjalan dinilai belum mampu mengatasi persoalan kerawanan pangan, karena pemerintah cenderung memprioritaskan ketersediaan pangan terutama beras. Hal ini menyebabkan ketergantungan terhadap beras semakin tinggi dan tidak menguntungkan terhadap ketahanan pangan, terutama yang terkait dengan stabilitas kecukupan pangan.

Berdasarkan fenomena di atas maka diperlukan suatu solusi kritis yang dapat menanggulangi ketergantungan terhadap impor beras dalam rangka mencapai ketahanan pangan nasional. Solusi tersebut adalah kebijakan diversifikasi pangan yang strategis dalam menanggulangi ketergantungan terhadap beras. Manfaat diversifikasi adalah semakin beragamnya alternatif jenis pangan yang dapat ditawarkan, tidak terfokus pada pangan tertentu saja.

Penelitian diversifikasi pangan ini diadakan di daerah pedesaan. Dengan pertimbangan desa merupakan penghasil bahan-bahan pangan nasional. Dengan demikian, didalam penelitian ini dapat memberikan sebuah informasi mengenai bagaimana kondisi tingkat diversifikasi pangan tingkat rumah tangga di pedesaan. Diharapkan nantinya akan lebih memudahkan bagi pemerintah daerah maupun pemerintah nasional dalam menentukan kebijaksanaan yang lebih tepat sasaran dalam menyikapi kondisi tersebut dalam rengka mencapai ketahanan pangan nasional.

Kabupaten Jombang merupakan salah satu daerah yang memiliki kriteria tahan pangan di Propinsi Jawa Timur. Kriteria tahan pangan diperoleh berdasarkan indikatot penentuan daerahrawan pangan oleh Badan Ketahanan Pangan Propinsi Jawa Timur yang meliputi aspek food availability, aspek food access, dan food utility.

Namun berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Jombang tahun 2004, Kabupaten Jombang memiliki nilai Pola Pangan Harapan (PPH) sebesar 50,95. Nilai ini mengindikasikan kondisi diversifikasi pangan di daerah ini masih rendah karena nilai PPH yang baik bila menunjukkan skor 100. Kondisi ini yang akan menimbulkan masalah tersendiri apabila tidak ditindaklanjuti secara serius karena akan membawa pada situasi kerawanan pangan.

Dalam penelitian ini akan melihat bagaimana kondisi diversfikasi konsumsi pangan di ruang lingkup yang lebih sempit lagi yaitu tingkat dusun. Dengan menggunakan metode lain yaitu perhitungan Indeks Entropy (IE) untuk mengetahui tingkat diversifikasi konsumsi pangan di daerah penelitian apakah sudah menunjukkan nilai keberagaman yang tinggi atau belum. Selain itu akan diteliti pula bagaimana pengaruh faktor-faktor non ekonomis (jumlah anggota rumah tangga, tingkat pendidikan ibu dan kepala rumah tangga, usia ibu dan kepala rumah tangga, pemanfaatan lahan pekarangan, dan akses informasi).

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah (i) bagaimana tingkat diversifikasi pangan yang meliputi konsumsi karbohidrat, lemak dan protein masyarakat pedesaan menggunakan Indeks Entropy dan (ii) Faktor-faktor non ekonomis apa sajakah yang berpengaruh terhadap kondisi diversifikasi konsumsi pangan rumah tangga pedesaan.

Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah (i) menganalisis tingkat diversifikasi konsumsi pangan pada masyarakat pedesaan dengan menggunakan Indeks Entropy dan (ii) menganalisis faktor-faktor non ekonomis yang mempengaruhi diversifikasi konsumsi pangan pada masyarakat pedesaan.

METODE PENELITIAN

Penentuan lokasi untuk Penelitian ini di lakukan secara purposive (sengaja) di daerah Jombang tepatnya di Dusun Klagen, Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Penentuan lokasi tersebut didasarkan pada kriteria ketahanan pangan dari lokasi penelitian tersebut yang merupakan daerah tahan pangan. Kriteria tersebut diperoleh dari data penelitian sebelumnya.

Dari delapan dusun yang terdapat pada Desa Kepuhkembeng ini, hanya satu dusun yang dipilih yaitu Dusun Klagen, atas dasar pertimbangan di dusun tersebut memiliki potensi pertanian yang juga diperlukan untuk penggalian data yang lain dari penelitian. Dengan dua pertimbangan tersebut yaitu kriteria tahan pangan dan juga potensi pertanian di daerah tersebut maka Dusun Klagen ini dipilih sebagai dareah penelitian untuk melihat bagaimana kondisi diversifikasi konsumsi pangan masyarakatnya.

Penentuan responden di dalam penelitian ini menggunakan random sampling untuk mendapatkan jumlah responden rumah tangga yang akan diteliti. Asumsi dasar dari penggunaan rumus ini adalah populasi menyebar normal, hal ini ditunjukkan oleh kondisi populasi di daerah ini yang relatif homogen dari tingkat pendidikan kepala rumah tangganya. Rumus random sampling dari Slovin (dalam Umar,1999:78) adalah sebagai berikut :

$$
n=\frac{N}{1+N e^2}
$$
Dimana :
n = Ukuran sampel.
N = Ukuran populasi.
E = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir (15%).
Dengan perhitungan menggunakan rumus tersebut didapatkan 34 responden rumah tangga dari total 152 rumah tangga yang terdapat di daerah penelitian.
Metode Analisis yang digunakan adalah:

  1. Analisis deskriptif

Analisis ini dipergunakan untuk mendeskripsikan karakteristik lokasi penelitian, responden yang diteliti, serta hubungan antara variabel-variabel umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota rumah tangga, dan akses informasi terhadap konsumsi kebutuhan rumah tangga. Data yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan pengeditan dan ditabulasikan dalam tabel, setelah itu dilakukan pembahasan secara deskriptif. Untuk data yang jenisnya data kuantitatif diberikan ukuran deskriptif seperti jumlah responden (orang) maupun angka prosentase. Pendeskripsian secara kualitatif penting untuk memberikan gambaran dari hasil analisis agar lebih mudah untuk dipahami.

  1. Analisis diversifikasi konsumsi pangan
    1. Konversi satuan dan tabulasi pengelompokan konsumsi bahan pangan.

Data pola konsumsi pangan yang diperoleh melalui metode Food recall 1×24 jam masih berupa data mentahan berat konsumsi pangan berupa satuan Ukuran Rumah Tangga (URT) tertentu yang berbeda tiap bahan pangannya. Oleh karena itu perlu dilakukan konversi satuan URT ini kedalam satuan berat gram. Untuk mempermudah maka dalam penelitian ini digunakan Daftar Ukuran Rumah Tangga (DURT). Setelah dilakukan konversi berat dalam URT, kemudian dilakukan tabulasi pengelompokan jenis bahan pangan yang telah dikonsumsi oleh rumah tangga kedalam sembilan kelompok pangan. Dalam melakukan tabulasi dan pengukuran untuk bobot tiap-tiap bahan makanan digunakan bantuan software “master konversi gizi”.

    1. Perhitungan Nilai Aktual Kandungan Karbohidrat, Lemak dan Protein Pada Tiap Bahan

Pangan.
Perhitungan ini digunakan untuk mengetahui masing-masing nilai kandungan asupan gizi (karbohidrat, lemak, dan protein) pada setiap bahan pangan yang dinyatakan dalam satuan gram. Sama halnya dengan pengukuran berat dari masing-masing bahan pangan, untuk mengetahui kandungan asupan gizinya menggunakan software ”master konversi gizi”.

    1. Indeks Entropy

Untuk menjawab tujuan pertama dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat diversifikasi pola konsumsi pangan dengan jalan mengukur nilai asupan gizi dari setiap menu pangan yang dikonsumsi oleh suatu rumah tangga dalam suatu desa digunakan salah satu indeks pengukur diversifikasi, yaitu Indeks Entropy (IE), yang memiliki persamaan sebagai berikut :
n
IEK = – {(ki * Ci )/ ∑ ki * Ci ) ln((ki * Ci )/ ∑ ki * Ci ))}/ln k
i =1
n
IEL = – {(li * Ci )/ ∑ li * Ci ) ln ((li * Ci )/ ∑ li * Ci ))}/ln l
i=1
n
IEP = – Y {(pi* Ci )/ ∑ pi * Ci ) ln ((pi* Ci )/ ∑ pi* Ci ))}/ln pi
i=1
IE = ({IEK+ IEL +IEP}/3)
Dimana :
IEK = indeks Entropy untuk mengukur diversifikasi pangan karbohidrat.
IEL = indeks Entropy untuk mengukur diversifikasi pangan lemak.
IEP = indeks Entropy untuk mengukur diversifikasi pangan protein.
IE = indeks Entropy untuk mengukur diversifikasi pangan keseluruhan.
ki = nilai kandungan karbohidrat dari komoditas pangan jenis i.
Ci = konsumsi sumber komoditas pangan jenis i.
li = nilai kandungan lemak dari komoditas pangan jenis i.
pi = nilai kandungan protein dari komoditas pangan jenis i.
Angka Indeks Entropy (IE) menunjukkan tingkat keragaman, sehingga semakin tinggi nilai IE, mengindikasikan semakin tinggi pula tingkat keberagaman (diversitas) nilai yang diukur. Dengan mengetahui proporsi dari setiap nilai gizi seperti karbohidrat, lemak, dan protein pada pola pangan yang dikonsumsi seseorang maka dapat diketahui bagaimana nilai tingkat diversifikasi nilai gizinya. Sedangkan untuk mendapatkan nilai diversifikasi keseluruhan pada pola konsumsi pangan dengan cara menjumlahkan tingkat diversifikasi pangan karbohidrat, tingkat diversifikasi pangan lemak, dan tingkat diversifikasi pangan protein lalu kemudian dibagi 3.

  1. Analisis Regresi Linier Berganda

Sesuai dengan tujuan kedua dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui besarnya pengaruh antara variabel bebas secara keseluruhan yaitu tingkat diversifikasi konsumsi pangan dengan variable terikat yaitu faktor-faktor non ekonomis, dimana untuk pengujian hipotesisnya menggunakan analisis regresi linier berganda sebagai berikut :
Y = β0 + X1.β1+ X2 .β2+X3.β3+X4.β4+X5.β5 + X6.β6 + X7.β7+ e
Dimana :
Y = Variabel Diversifikasi konsumsi pangan menggunakan Indeks Entropy.
β0 = Intersep (menunjukkan titik potong antara garis regresi dengan sumbu Y) β1, β2 , β3, β4 , β5, β6, β7= koefisien regresi parsial untuk X1, X2, X3, X4,X5, X6,X7 X1 = Variabel jumlah anggota rumah tangga
X2 = Variabel pendidikan ibu rumahtangga
X3 = Variabel pendidikan kepala rumah tangga
X4 = Variabel umur ibu rumah tangga
X5= Variabel umurkepala rumah tangga
X6 = Variabel luas lahan pekarangan yang dimanfaatkan
X7 = Variabel akses informasi e = Kesalahan pengganggu

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil perhitungan nilai Indeks Entropy per rumahtangga dalam satu daerah penelitian dapat dketahui bahwa nilai Indeks Entropy terendah ialah 0,01 yang menunjukkan tingkat diversifikasi pangan yang paling rendah di daerah penelitian, dan nilai Indeks Entropy yang paling tinggi adalah 0,14 yang menunjukkan tingkat diversifikasi pangan paling tinggi di daerah penelitian, dengan nilai rata-rata Indeks Entropy sebesar 0,06.

Sedangkan Jika dilakukan perbandingan antara nilai Indeks Entropy rata-rata untuk konsumsi karbohidrat, lemak, dan protein di desa ini, maka dapat diketahui yang tertinggi adalah nilai tingkatdiversifikasi konsumsi protein yang mencapai 0,068. Kedua, diversifikasi konsumsi lemak yang mencapai 0,061.

Dan yang paling rendah adalah diversifikasi konsumsi karbohidrat yang mencapai 0,053. Dari ketiga nilai dapat dilihat bahwa nilai indeks entropy yang sangat kecil, sehingga dapat dikatakan tingkat konsumsi karbohidrat, lemak, dan protein masih belum terdiversifkasi dengan baik.

Dari hasil analisis regresi linier berganda dapat diketahui nilai Fhitung sebesar 8,917 dengan Ftabel sebesar 2,39 sehingga nilai Fhitung > Ftabel, Sehingga disimpulkan bahwa variabel bebas jumlah anggota rumahtangga, pendidikan ibu dan kepala rumah tangga, usia ibu dan kepala rumah tangga, lahan pekarangan yang dimanfaatkan, dan akses informasi secara bersama-sama berpengaruh secara nyata terhadap variabel terikat diversifikasi konsumsi pangan.

Nilai R2 sebesar 0,706 yang menunjukkan bahwa semua variabel bebas jumlah anggota rumahtangga, pendidikan ibu dan kepala rumah tangga, usia ibu dan kepala rumah tangga, lahan pekarangan yang dimanfaatkan, dan akses informasi yang dimasukkan pada model regresi tersebut mampu menjelaskan variabel terikat tingkat diversifikasi konsumsi pangan sebesar 70,6%, sedangkan sisanya sebesar 29,4% dipengaruhi oleh variabel bebas lainnya yang tidak terdapat dalam model.

Pada hasil analisis regresi, juga diketahui nilai VIF untuk masing-masing variabel jumlah anggota rumahtangga, pendidikanibu rumahtangga, pendidikan kepala rumahtangga, usia ibu rumahtangga, usia kepala rumahtangga, lahan pekarangan yang dimanfaatkan, dan akses informasi sebesar 1,300; 1,838; 1,901; 1,115; 1,220; 1,625; dan 1,518 yang berarti tidak terjadi multikolinearitas karena nilai VIF lebih dari 10. Model ini juga terdistribusi normal yang ditunjukka oleh nilai asymp.sig. (2-tailed) > α, atau 0,848 > 0,05 pada hasil uji Kolmogorov-Smirnov.

Variabel bebas pendidikan ibu rumah tangga dan pendidikan kepala rumahtangga memiliki nilai sig sebesar 0,003 dan 0,037 yang berarti sig < α. Hal ini menunjukkan bahwa variabel pendidikan ibu rumah tangga dan pendidikan kepala rumahtangga berpengaruh secara signifikan terhadap diversifikasi konsumsi pangan dengan taraf signifikansi 95% atau α 0,05

Jumlah anggota rumah tangga memiliki pengaruh negatif terhadap diversifikasi konsumsi pangan (nilai Indeks Entropy) yang ditunjukkan oleh nilai thitung (-0,926) < ttabel (1,89) pada taraf signifikansi 95% atau α 0,05. Tingkat signifikansi sebesar 0,363 yang berarti sig > α, berarti jumlah anggota rumah tangga tigak memiliki pengaruh yang nyata terhadap diversifikasi konsumsi pangan pada taraf signifikansi 95% atau α 0,05.

Usia ibu rumah tangga, luas lahan pekarangan yang dimanfaatkan, dan akses informasi masing-masing memiliki thitung;1,208; 1,433; 0,115, dimana thitung > ttabel. Hal ini menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut berpengaruh positif terhadap diversifikasi konsumsi pangan.

Nilai sig untuk usia ibu rumah tangga, luas lahan pekarangan yang dimanfaatkan,dan akses informasi masing-masing; 0,238; 0,164; 0,909; yang berarti variabel-variabel tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap diversifikasi konsumsi pangan.

Usia kepala rumah tangga memiliki pengaruh negatif terhadap diversifikasi konsumsi pangan (nilai Indeks Entropy) yang ditunjukkan oleh nilai thitung -1,635 < ttabel (1,89). Tingkat signifikansi sebesar 0,114, yang berarti sig > α, berarti usia kepala rumah tangga tigak memiliki pengaruh yang nyata terhadap diversifikasi konsumsi pangan pada taraf signifikansi 95% atau α 0,05.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Pola konsumsi pangan masyarakat pedesaan di daerah penelitian belum mencerminkan kondisi diversifikasi konsumsi pangan yang baik yang ditunjukkan oleh nilai Indeks Entropy yang sangat rendah. Jika dilihat dari Indeks Entropy rata-rata untuk masing-masing asupan gizi, yang memiliki diversifikasi paling tinggi adalah Indeks Entropy Protein dan yang memiliki nilai diversifikasi pangan paling rendah adalah Indeks Entropy Karbohidrat. Hal ini menunjukkan konsumsi pangan yang memiliki tingkat keberagaman paling tinggi adalah Konsumsi Protein, hal ini dikarenakan pangan sumber protein relatif mudah didapat di daerah penelitian seperti ikan-ikanan, tahu, tempe, dan lain sebagainya.
  2. Faktor- faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat diversifikasi pangan rumahtangga pedesaan adalah pendidikan ibu dan kepala rumah tangga (X2 dan X3), yang memiliki arti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang ibu dan kepala rumah tangga maka semakin tinggi pula diversifikasi pangannya. Hal ini dikarenakan di daerah penelitian seorang kepala rumah tangga yang memegang kekuasaan tertinggi dalam mengalokasikan pendapatan rumah tangga termasuk untuk konsumsi, sedangkan ibu rumah yang menentukan menu konsumsi suatu rumah tangga.
  3. Variabel yang memiliki pengaruh namun tidak signifikan adalah usia ibu rumahtangga (X4), yang lebih memiliki pengaruh secara nyata terhadap diversifikasi konsumsi pangan ibu rumah tangga adalah tingkat pendidikan. Untuk luas pekarangan yang dimanfaatkan (X6) tidak memiliki pengaruh nyata karena hasil dari pekarangan lebih banyak dijual untuk meambah pemasukan daripada untuk konsumsi sendiri. Sedangkan akses informasi (X7) tidak berpengaruh nyata karena kurang begitu dihiraukan dan diperhatikan oleh rumah tangga.
  4. Variabel yang mempunyai pengaruh yang berbanding terbalik dengan diversifikasi pangannya adalah jumlah anggota keluarga (X1), dan usia kepala rumahtangga (X5), yang memiliki arti: (a) semakin banyak jumlah anggota rumahtangga akan semakin menurunkan tingkat diversifikasi pangannya, akan lebih mudah bagi ibu rumah tangga untuk menyiapkan menu konsumsi yang seragam untuk jumlah anggota rumah tangga yang banyak, (b) semakin tua usia kepala rumah tangga akan semakin menurunkan tingkat diversifikasi pangannya, hal ini dikarenakan semakin banyaknya pantangan dalam mengkonsumsi pangan dengan bertambahnya umur kepala rumah tangga yang berkaitan dengan kesehatannya.

Saran

Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah:

  1. Perlu adanya usaha peningkatan kualitas konsumsi pangan di masyarakat melalui sosialisasi ataupun penyuluhan yang berkesinambungan dan berkala mengenai pengetahuan tentang pangan dan gizi.
  2. Pendidikan ibu rumahtangga yang memiliki pengaruh signifikan didalam diversifikasi konsumsi pangan ini memiliki peran penting dalam mengatur dan mengelola sumberdaya keluarga terutama pangan. Oleh karena itu program-program khusus untuk memberdayakan ibu rumahtangga perlu digalakkan. Program-program itu bisa melaui mengoptimalkan posisi kelembagaan organisasi perempuan (PKK) untuk eksis dan berkembang agar dapat berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan kehidupan keluarga di pedesaan. Selain itu juga bisa melalui peningkatan akses pendidikan baik formal maupun non formal yangmendukung pelaksanaan diversifikasi pangan, pemberdayaan ekonomi berbasis ibu rumahtangga, dan pemberian pengetahuan tentang teknik pengolan pangan yang baik.
  3. Disarankan untuk penelitian selanjutnya untuk menambahkan variabel yang belum tercantum dalam penelitian ini, yang mungkin memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap diversifikasi konsumsi pangan masyarakat pedesaan, seperti pendapatan perkapita, penerimaan RASKIN, ataupun karakteristik budaya (etnis, agama, dan sebagainya) maupun karakteristik lainnya, sehingga diperoleh gambaran pola konsumsi pangan yang dapat melengkapi penelitian ini.
  4. Untuk penelitian selanjutnya yang ingin meneliti tentang tingkat diversifikasi pangan,disarankan agar mengambil lebih dari satu daerah penelitian. Karena indeks Entropy juga dapat menunjukkan nilai diversifikasi pangan suatu daerah dan dapat dibandingkan dengan daerah yang lain. Maka dapat diketahui bagaimana tingkat diversifikasi pangan antar daerah penelitian.
  5. Metode yang digunakan untuk mengetahui pola konsumsi rumah tangga dalam penelitian ini adalah food recall 1 x 24 jam karena kendala keterbatasan waktu saat melakukan observasi yang menjadi kelemahan dari penelitian ini maka digunakanlah food recall 1 x 24 jam. Dan saran untuk pelitian selanjutnya agar menggunakan food recall 2 x 24 jam agar informasi pola konsumsi rumah tangga yang di dapat lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Ariani, Mewa. 2005 Diversifikasi Pangan di Indonesia: Antara Harapan dan Kenyataan.Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.

Ariani,M dan Ashari. 2003. Arah, Kendala dan pentingnya Diversifikasi Konsumsi Pangan di Indonesia. Forum Agro Ekonomi, Vol. 21 No. 2, Desember. Bogor

Asmara, Rosihan dan Hanani, Nuhfil. 2003. Arah Pembangunan Ketahanan Pangan, Sebuah Kajian Teoritis. 213 – 221. Dalam kumpulan Makalah Seminar Hasil dan Lokakarya Nasional PERPADI dalam Mensukseskan Ketahanan Pangan Nasional. Universitas Brawijaya dan PERPADI. Malang.

Ellis, F. 1989. Peasant Economics. Farm Households and Agrarian Development. Cambridge University Press. Cambridge. New York. New Rochelle, Melbourne and Sydne..

Jalal, A. Suryana, M.A. Husaini, M. Atmowidjojo, dan S. Koswara (Eds.). Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. LIPI. Jakarta

Khumaidi,M. 1994. Bahan Pengajaran Gizi Masyarakat. Departemen Pendidikan dan KebudayaanDirektorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi,Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Luqman L, Tony. 1996. Dasar Diversifikasi Pangan. Available at http://miqraopini.blogspot.com/2007/08/diversifikasi-dan-ketahanan-pangan.html. (verified at 15th 2 2008).

Nurhayati. 2001. Pola Pengeluaran Konsumsi Pangan Pada Rumah Tangga Perkotaan. Skripsi Fakultas Ekonomi. Unpublished. Universitas Brawijaya Malang.

Pakpahan, Agus dan Sri Hastuti Suhartini. 1989. Permintaan Rumah Tangga Kota di Indonesia Terhadap Keanekaragaman Pangan.Staf Peneliti Pusat Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Sanjur. 1982. Social and Cultural Perspective in Nutrition. Prentice-Hall Inc. Enlewood Cliffs. New York.
Suryaman, Maman. 2006. Diversifikasi dan Ketahanan Pangan. Pikiran Rakyat. Bandung.

Syarifuddin,1981. Garis Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Pangan. Yayasan Agro Ekonomika. Yogyakarta.
Theil, Henri. 1972. Statistical decomposition analysis. Amsterdam: North-Holland Publishing Company.

Umar, Husein. 1999. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Thesis Bisnis. Cetakan kedua. Jakarta : PT Grafindo Persada

World Bank. 2006. Repositioning Nutrition as Central to Development A Strategy for Large- Scale Action.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.