Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Perdagangan Komoditas Pertanian di Indonesia

| Ekonomi Pertanian Dan Agribisnis | Mitra Usaha Tani

Fitria Naimatu Sadiyah

Abstract

Pandemi Covid-19 memberikan dampak negatif hampir diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Tidak hanya sektor kesehatan saja yang terganggu namun juga semua sektor lainnya seperti ekonomi, pertanian, transportasi, sosial, dll. Pertumbuhan ekonomi selama masa pandemi terus mengalami penurunan mulai dari triwulan II-2020. Pertumbuhan ekonomi yang tidak mencapai nilai negatif yaitu pertanian, sektor informasi dan komunikasi, serta sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Turunnya pertumbuhan sektor transportasi dan pergudanganjuga berakibat pada perdagangan komoditas pertanian. Terdapat disparitas yang tinggi hingga mencapai diatas 50% pada beberapa komoditas seperti daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, dan bawang merah. Namun ada juga harga komoditas pertanian yang stabil seperti beras, telur ayam, minyak goreng, dan gula pasir. Selain disparitas harga dalam tulisan ini juga membahas tentang prediksi neraca perdagangan komoditas pertanian. Pada komoditas Daging sapi/kerbau terjadi defisit sebanyak 14 ribu ton pada periode Januari-Mei 2021, sedangkan komoditas bahan makanan pokok lainnya mengalami surplus. Bahan makanan pokok merupakan kebutuhan utama masyarakat sehingga pemerintah harus dapat mengintegrasikan jaringan pasar induk pada tiap daerah, meningkatkan manajamen stok dan logistik, serta melakukan peningkatan produksi.

Keywords Covid-19, Pertumbuhan Ekonomi, Disparitas Harga

Full Text:

PDF

PENDAHULUAN

Coronavirus merupakan jenis virus baru yang menyebabkan penyakit menular yang sering juga disebut dengan Covid-19. Covid-19 itu sendiri singkatan dari CoronaVirus Disease-2019. Covid-19 ini pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok pada Bulan Desember 2019. Dalam hitungan bulan Covid-19 ini sudah menyebar ke berbagai wilayah di dunia, salah satunya Indonesia. Covid-19 mulai memasuki Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Covid-19 ini sangat mudah menular dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Tidak hanya kematian, namun Covid-19 ini juga berdampak pada perekonomian dunia karena kebijakan beberapa negara dalam membatasi pergerakan orang, maupun barang. Dampaknya yang meluas menjadikan Covid-19 ini disebut dengan pandemi.

Sebagai upaya menanggulangi meningkatnya angka Covid-19 di Indonesia, pemerintah mengambil kebijakan pembatasan pergerakan orang dan barang. Kebijakan pembatasan wilayah gerak pertama kali dilakukan pada 5 Juni 2020 di beberapa tempat secara tidak serentak yang disebut dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Lonjakan kedua dari Covid-19 terjadi pada bulan Mei 2021 hingga saat ini nilai dari kasus posistif yang aktif belum juga menurun (BNPB 2021). Sedangkan belum ada lembaga yang dapat menjamin kapan pandemi ini akan berakhir. Sehingga dilakukanlah kebijakan pembatasan gerak kedua oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 3 Juli- 20 Juli 2021 secara serentak di Jawa-Bali yang disebut dengan Perberlakukan Pembatasan Kegiatan (PPKM). Adanya kebijakan PSBB dan PPKM yang telah dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia memiliki dampak pada perdagangan komoditas pertanian. Komoditas pertaian yang terganggu mulai dari subsistem hulu seperti perdagangan benih hingga subsistem hilir berupa barang jadi/siap konsumsi ataupun bahan baku industri (Rangga D. Yofa, Erwidodo, dan Erma Suryani 2020). Komoditas pertanian merupakan pondasi utama dalam penuhan kebutuhan pangan manusia, sehingga apabila perdagangan komoditas pertanian terganggu maka dikhawatirkan stabilitas pangan juga akan terganggu.

Menurut Word Bank (2020). Pandemi Covid-19 dapat menimbulkan gangguan pada distribusi dan produksi produk pertanian yang juga produk pangan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. Kondisi wilayah Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan luasan wilayah yang sangat luas, dan infrastruktur yang belum memadai, serta biaya transportasi yang relatif mahal menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menyediakan dan mendistribusikan komoditas pertanian yang merupakan bahan pangan wargannya terutama di era pandemi Covid-19 seperti sekarang. Aliran perdagangan dan pendistribusian komoditas pertanian yang dilakukan melalui darat, udara, dan laut perlu perhatian khusus agar dapat merata ke seluruh Indonesia (Hirawan FB dan Verselita AA 2020). Hal serupa pernah ditegaskan oleh presiden Indonesia pada awal tahun 2020 dengan diadakannya kebijakan penyediaan pangan untuk menjaga ketahanan pangan, mulai dari produksi hingga pendistribusian agar tidak mengalami krisis pangan selama pandemi ini (BKP 2020)

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dampak pandemi Covid-19 terhadap pertumbuhan ekonomi dan perdagangan komoditas pertanian di Indonesia. Pada pertumbuhan ekonomi akan dilihat dari berbagai sektor yang dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (y-on-y) ataupun triwulan sebelumnya saja (q-to-q). Dalam perdagangan komoditas pertanian akan dilihat bagaimana dinamika harga, dan ketersediaan pangan di masa pandemi ini.

METODE PENELITIAN

Sektor pertanian salah satu yang terdampak oleh pandemi Covid-19. Pembahasan yang akan dilakukan yaitu pembahasan data sebelum pandemi 2019, selama pandemi 2020, dan 2021. Data yang digunakan adalah data sekunder yang didapatkan melalui tinjauan pustaka dengan menggali informasi dari berbagai sumber seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Badan Nsional Penanggulangan Bencana, Bank Indonesia, Publikasi hasil-hasil penelitian dan Prosiding. Data sekunder yang telah dikumpulkan kemudian di analisis menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang menjabarkan pemecahan permasalahan dengan menyajikan, menganalisis, dan mengintepretasikan data-data yang ada (Achmadi A, dan Narbuko 2015)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertumbuhan Ekonomi Nasional Selama Masa Pandemi Covid-19

World Health Organization (WHO) mengumumkan Covid-19 menjadi pendemi dunia pada tanggal 9 Maret 2020. Setelah itu pemerintah Indonesia juga mulai mencegah penyebaran Covid-19. Pemerintah juga ikut berkomitmen dalam penanggulangan peyebaran wabah dengan penyediaan anggaran di bidang kesehatan dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi Indonesia saat itu. Dampak pandemi yang dialami tidak hanya kepada fisik manusia tapi juga pada seluruh bidang seperti sektor ekonomi, kesehatan, sosial, budaya, transportasi, dan lain sebagainya.

Pada awal masuknya Covid-19 di Indonesia yaitu pada triwulan I-2020, pertumbuhan ekonomi nasional jika dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) masih positif 2,97%. Jumlah PDB berdasrkan harga berlaku pada triwulan II tahun 2020 adalah Rp3.687,7 triliun, namun jika jumlah PDB berdasarkan harga konstan (tahun dasar 2010) sebesar 2.589,6 triliun. Kemudian dampak pandemi Covid-19 mulai dirasakan pada pada triwulan II-2020 yaitu terjadinya kontraksi atau penurunan dibandingkan dengan triwulan II-2019 sebesar 5,32%. Selanjutnya pada triwulan III dan IV juga mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2019 yaitu sebesar 3,49% dan 2,19%(BPS 2020a,b,c,d). Hal serupa tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di Amerika Serikat, Italiam Perancism Jerman dan Korea Selatan (Setneg 2020).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan periode sebenlumnya (BI 2020). Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 4%-5% pada triwulan I. Fakta yang terjadi pertumbuhan ekonomi dibawah itu yaitu 2,97% yang merupakan angka pertumbuhan terendah sejak tahun 2001 (Modjo MI 2020). Penurunan serupa terjadi jika dibandingkan antara pertumbuhan triwulan I-2020 dengan triwulan I-2019, yaitu lebih rendah 2,1%. Sedangkan kondisi terkini PDB atas dasar harga berlaku di triwulan I-2021 sebesar Rp3.969,1 triliun dan pada dasar harga konstan 2010 sebesar Rp2.683,1 triliun. Jika dibandingkan ekonomi Indonesia triwulan I-2021 terhadap triwulan I-2020 terjadi kontraksi pertumbuhan sebesar 0,74% (y-on-y). Dari segi produksi, sektor yang mengalami kontraksi terdalam adalah lapangan usaha trasnportasi dan pergudangan yaitu sebesar 13,12 %. Sedangkan dari segi pengeluaran yang mengalami kontraksi terdalam adalah Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yaitu sebesar 4,54% (BPS 2021a).

Ekonomi Indonesia pada triwulan I-2021 jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q) mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,96%. Dilihat dari segi produksi, lapangan usaha jasa pendidikan mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam yaitu 13,04%. Sedangkan dari sisi pengeluaran, kontraksi pertumbuhan terdalam dialami oleh Komponen Penegeluaran Konsumsi Pemerinta (PK-P) yaitu 43,35% dapat dilihat pada Gambar 1. Pada triwulan I-2021 secara spasial struktur ekonomi Indonesia didominasi oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa yaitu 58,70%, dengan pertumbuhan kontraksi kinerja ekonomi sebesar 0,83% (y-on-y). Selanjutnya kelompok Provinsi Papua dan Maluku tercatat memiliki peranan sebesar 2,44% dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 8,97% (y-on-y). Dilihat dari data-data yang ada maka jelas pandemi Covid-19 ini memiliki dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Namun diluar dugaan, sektor pertanian memiliki daya dukung yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi indonesia, karena selama penurunan pertumbuhan ekonommi yang di alami Indonesia, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terus mengalami nilai yang positif. Pada periode triwulan I-2020 sebesar 0,01 % . Sedangkan pada triwulan IV-2020 mengalami pertumbuhan 2,59% dan pada triwulan I-2021 juga mengalami pertumbuhan sebesar 2,95% (y-on-y). Hal ini menunjukan bahwa sektor pertanian dapat diandalkan dalam masa pandemi, karena pada dasarnya sektor pertanian merupakan penunjang dasar dari kehidupan manusia, yaitu kebutuhan makan.Hal serupa juga pernah terjadi pada krisis global ppada tahun 2008, sekotr pertanian tidak terdampak secara signifikan (Yusdja, Yusmichad, Haryono Soeparno. 2011).

Gambar 1. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (y-on-y) dalam Persen Sumber : BPS 2021

Gambar1 | Ekonomi Pertanian Dan Agribisnis | Mitra Usaha Tani

Gambar 1. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (y-on-y) dalam Persen Sumber : BPS 2021

 

Hal serupa dapat dilihat pada peran pertanian pada distribusi PDB menurut lapangan usaha pada Tabel 1. Pada masa pandemi selain pertumbuhan pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang pertumbuhan yang positif juga memiliki prosentase yang cukup besar dalam PDB Indonesia. Pada triwulan I-2020, dan triwulan IV-2020 memiliki kedudukan ke-3 terbesar, sedangkan pada triwulan I-2021 naik menjadi peringkat 2 prosentase tersbesar dalam distribusi PDB berdasarkan lapangan usaha.

Tabel 1. Distribusi PDB Indonesia Menurut Lapangan Usaha (Dalam Persen)

Lapangan Usaha 2020 2021
Triw I Triw IV Triw I
-1 -2 -3 -4
A. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 12,84 11,97 13,17
B. Pertambangan dan Penggalian 6,82 6,48 7,65
C. Industri Pengolahan 19,98 19,81 19,84
D. Pengadaan Listrik dan Gas 1,17 1,17 1,18
E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan 0,07 0,07 0,07
Daur Ulang
F. Konstruksi 10,70 10,96 10,80
G. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan 13,20 12,85 13,10
Sepeda Motor
H. Transportasi dan Pergudangan 5,17 4,68 4,28
I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 2,80 2,63 2,56
J. Informasi dan Komunikasi 4,25 4,57 4,58
K. Jasa Keuangan dan Asuransi 4,70 4,57 4,58
L. Real Estat 2,88 2,90 2,88
M,N Jasa Perusahaan 2,00 1,91 1,88
O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 3,60 3,95 3,46
P. Jasa Pendidikan 3,31 3,82 3,24
Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,20 1,43 1,25
R,S, T,U. Jasa Lainnya 2,05 1,97 1,94
Nilai Tambah Bruto Atas Dasar Harga Dasar 96,74 95,74 96,46
Pajak Dikurang Subsidi Atas Produk 3,26 4,26 3,54
Produk Domestik Bruto (PDB) 100,00 100,00 100,00

Sumber : BPS 2021

Perdagangan di Sektor Pertanian

Pandemi Covid-19 di Indonesia terus meningkat, pada situs resmi pemerintah Indonesia yang mengupdate tentang data Covid-19 pada Gambar 2 memperlihatkan bahwa lonjakan Covid-19 yang tajam terjadi 2 kali. Peningkatan tajam terjadi pada awal bulan Desember 2020 dan Bulan Mei 2021. Hal ini terjadi karena adanya libur panjang di Bulan Desember dan juga libur lebaran Idhul Fitri di bulan Mei 2021.

Gambar 2. Data Kasus Aktif Covid-19 Di Indonesia

Gambar2 | Ekonomi Pertanian Dan Agribisnis | Mitra Usaha Tani

 

Sumber : BNPB 2021, diolah 2021

Jika dilihat pada Gambar 1, maka sektor yang paling buruk karena adanya dampak pandemi Covid-19 adalah jasa transportasi dan pergudangan karena mengalami kontraksi pertumbuhan /penurunan pada triwulan IV-2020 sebesar 13,42% dan 13,12% pada triwulan I-2021. Kemudian sektor kedua yang memiliki dampak keterpurukan yang tinggi adalah sektor penyediaan akomodasi dan makanan minum. Itu artinya akan memberika dampak negatif pula pada pasokan komoditas pangan utama.

Kebijakan PSBB dan PPKM yang diterapkan beropengaruh terhadap ketersediaan pangan di pasar konsumen karena adanya penumpukan produk dan juga penurunan jumlah pembeli yang disebabkan oleh turunnya daya beli masyarakat (Saktyanu K. Dermoredjo, Yonas H. Saputra, Delima H. Azahari 2020). Oleh sebab itu, beberapa permasalahan yang terjadi pada masa pandemi yaitu (a) Pasokan tersedia namun karena terkendala transportasi maka tidak dapat dikirim. Selanjutnya karena sifat komoditas pangan yang mudah rusak maka penumpukan barang yang tejadi akan menyebabkan kualitas menurun sehingga, (b) Kurangnya tenaga kerja mengakibatkan penyaluran sarana produksi juga terhambat, (c) Permintaan konsumen yang fluktuatif menyebabkan sulit untuk meramalkan permintaan sehingga distribusi juga akan terhambat (Akerman 2020).

Tabel 2. Perkiraan Kebutuhan dan Ketersediaan Pangan Nasional (Januari-Mei 2021) Dalam Ribu Ton

Nama Komoditas
Kebutuhan
Ketersediaan
Neraca
Beras
12336
24901
12565
Jagung
9176
12576
3401
Minyak goreng
2199
2675
475

JEPA, ISSN: 2614-4670 (p), ISSN: 2598-8174 (e)

Nama Komoditas
Kebutuhan
Ketersediaan
Neraca
Telur ayam ras
2143
2217
73
Daging ayam ras
1336
1538
202
Kedelai
1304
1503
198
Gula pasir
1219
1587
368
Cabai besar
432
496
64
Bawang merah
417
445
28
Cabai rawit
393
449
56
Daging sapi/kerbau
280
266
-14
Bawang putih
244
407
163

Sumber : Kementerian Pertanian 2021

Perkiraan Neraca selama pandemi mulai dari pertengahan Maret 2020 hingga Desember 2020 menunjukan kondisi surplus (Saktyanu K. Dermoredjo, Yonas H. Saputra, Delima H. Azahari. 2020). Sedangkan neraca bahan makanan pada bulan Januari-Mei 2021 seperti pada Tabel 2, diperkirakan akan terjadi defisit sebesar 14 ribu ton daging sapi/kerbau. Hal ini mungkin terjadi karena adanya Hari Raya Idhul Fitri pada Bulan Mei sehingga konsumsi daging sapi/kerbau meningkat.

Komoditas selain daging sapi/kerbau diperkirakan ketersediaan yang ada dapat mencukupi kebutuhan masyarakat. Pada komoditas bawang merah, cabai rawit, dan telur ayam ras neraca tidak surplus terlalu jauh sehingga tingkat ketersediaan dan kebutuhan diperkirakan akan relatif seimbang. Dari tabel 2 dapat dilihat adanya dinamika neraca pada bahan makanan sehingga perlu adanya intervensi dari pemerintah untuk memeratakan pendistribusian ke seluruh wilayah di Indonesia.

Harga komoditas pangan strategis nasional selama masa pandemi dapat dilihat pada Gambar 3. Komoditas yang memiliki harga relatif stabil yaitu beras, minyak goreng, gula pasir, dan telur ayam. Sedangkan pada komoditas yang merupakan perbumbuan seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah dan cabai rawit memiliki harga yang sangat berfluktuatif. Pada komoditas daging sapi meningkat pada puncaknya pada bulan mei 2021, diperkirakan karena adanya Idhul Fitri. Fluktuasi harga tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pembatasan wilayah saja namun juga faktor-faktor lainnya.

Fluktuasi harga akibat dari adanya pembatasan wilayah selama pandemi Covid-19 telah diantisipasi oleh Kementerian Perdagangan dengan mengeluarjan surat keputusan menteri No. 317/ M-DAG/ SD/ 04/2020 tanggal 3 April 2020 kepada Gubernur DKI Jakarta serta Bupati/Walikota seluruh Indonesia (Kementerian Perdagangan 2020). Surat tersebut menekankan supaya selama masa PSBB para kepala daerha dapat menjaga ketersediaan dan kelancaran pasokan kebutuhan masyarakat. Hal ini juga berkaitan dengan (a) tetap membuka akses pengantaran distribusi kebutuhan pokok dan barang penting lainnya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, (b) Mengatur jam operasional pasar dan toko swalayan yang menjual kebutuhan pokok dan tetap menjalankan protokol kesehatan, (c) Menghimbau para pedagang pasar rakyat dan pengecer dapat tetap menerapkan jaga jarak dan mengutamakan pelayanan pesan antar.

Gambar 3. Harga Rata-Rata Komoditas Pangan Strategis Nasional Selama Pandemi Covid-19

Gambar3 | Ekonomi Pertanian Dan Agribisnis | Mitra Usaha Tani

Gambar 3. Harga Rata-Rata Komoditas Pangan Strategis Nasional Selama Pandemi Covid-19

 

Sumber : Bank Indonesia 2021

Pola distribusi pada komoditas bahan makanan pokok selama pandemi mengakibantkan variasi yang cukup lebar pada disparitas harga. Nilai disparitas tertinggi yaitu daging ayam ras sebesar 74,07%. Kemudian komoditas dengan disparitas tertinggi kedua adalah cabai merah yaitu sebesar 65, 57%. Komoditas daging sapi dan bawang merah memiliki nilai yang hampir sama yaitu 59,61% dan 55,56%. Pada komoditas gula pasir mengalami disparitas 24,20%. Tidak jauh dari angka tersebut yaitu pada komoditas beras dan telur ayam ras yang sebesar 18,,17% dan 16,84%. Sedangkan minyak goreng merupakan komoditas bahan makanan pokok yang memiliki nilai disparitas paling rendah yaitu 5,21% (Saktyanu K. Dermoredjo, Yonas H. Saputra, Delima H. Azahari 2020). Hal ini diakibatkan karena terganggunya transportasi dalam pengiriman barang bahan makanan selama pandemi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dampak Covid-19 yang dirasakan oleh Indonesia pada semua aspek, sehingga terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi pada semua aspek. Hanya ada 3 sektor yang nilai nya tidak mencapai nilai negatif selama masa pandemi, yaitu sektor pertanian, sektor informasi dan komunikasi, serta sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Sedangkan pada segi perdagangan sektor pertanian terjadi disparitas harga yang sangat berfluktuatif terutama pada bahan makanan pokok. Hal ini disebabkan karena sektor transportasi dan pergudangan yang terganggu. Namun terdapat harga komoditas yang stabil selama masa pandemi yaitu beras, telur ayam, minyak goreng, dan gula pasir.

Perkiraan neraca perdagangan komoditas pertanian pada jangka waktu Januari-Mei 2021 terdapat komoditas yang defisit yaitu daging sapi/kerbau. Hal ini juga diperkirakan dipengaruhi oleh adanya hari raya Idhul Fitri sehingga konsumsi atas daging sapi/kerbau akan meningkat. Selain itu perlu diperhatikan juga perbedaan yang terlalu tinggi pada nilai neraca komoditas beras dan jagung, karena dapat mempengaruhi keseimbangan perdagangan.

Saran

Dalam menghadapi pandemi Covid-19 perlu adanya integrasi pengelolaan jaringan pasar induk. Integrasi yang dilakukan agar dapat menanggulangi disparitas harga yang tinggi serta ketersediaan produk di seluruh wilayah. Penuruna pertumbuhan sektor jasa transportasi dan pergudangan harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah agar tidak mengganggu distribusi dan perdagangan bahan pokok makanan. Selain adanya integrasi jaringan pasar, diperlukan juga adanya peningkatan manajemen stok dan logistik pangan. Peningkatan produksi pada masing-masing daerah.

DAFTAR PUSTAKA

Akerman, Yandra, Hermadi I. 2020. Sistem logistik pangan saat pandemi Covid-19 dan setelahnya. Bahan presentasi pada Webinar Sistem Logistik Pangan, DPIS, IPB; 2020 Mei 6.

[BI] Bank Indonesia. 2020. Sinergi, transformasi, dan inovasi menuju Indonesia maju. Laporan Perekonomian Indonesia Maret 2020. Jakarta (ID): Bank Indonesia.

[BI] Bank Indonesia. 2021. Tabel Harga Pangan Strategis Indonesia [Internet]. [diunduh 2021 Juli 9]. Tersedia dari : https://hargapangan.id/

[BKP] Badan Ketahanan Pangan. 2020. Berita BKP : Kementan Siapkan Strategi Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19 [Internet]. [Diakses pada 12 Juli 2021]. Tersedia pada:       http://bkp.pertanian.go.id/blog/post/kementan-siapkan-strategi-ketahanan-pangan-di-tengah-pandemi-covid-19

[BNPB] Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2021. Tabel Data Pandemi Covid-19 di Indonesia. [Internet]. [Diunduh 2021 Juli 9]. Tersedia dari : https://bnpb-inacovid19.hub.arcgis.com/datasets/statistik-perkembangan-covid19-indonesia/data

[BPS] Badan Pusat Statistik [Internet]. 2020a. Berita resmi statistik 5 Mei 2020 : Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2020 [Inetrnet]. [Diunduh 2021 Juli 9]. Tersedia dari: https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/05/05/1736/ekonomi-indonesia-triwulan-i-2020-tumbuh-2-97-persen.html

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2020b. Berita resmi statistik 5 Agustus 2020 : Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan III-2020 [Inetrnet]. [Diunduh 2021 Juli 9]. Tersedia dari: https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/08/05/1737/-ekonomi-indonesia-triwulan-ii-2020-turun-5-32persen.html#:~:text=Ekonomi%20Indonesia%20triwulan%20II%2D2020%20terhadap %20triwulan%20sebelumnya%20mengalami%20kontraksi,Komponen%20Ekspor%2 0Barang%20dan%20Jasa

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2020c. Berita resmi statistik 5 November 2020 : Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan IV-2020 [Inetrnet]. [Diunduh 2021 Juli 9]. Tersedia dari:https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/11/05/1738/ekonomi-indonesia-triwulan-iii-2020-tumbuh-5-05-persen–q-to-q-.html#:~:text=Ekonomi%20Indonesia%20triwulan%20III%2D2020,Komponen%20Pe ngeluaran%20Konsumsi%20Pemerintah%20(PK

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2021. Berita resmi statistik 5 Mei 2021 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I-2021 [Inetrnet]. [Diunduh 2021 Juli 9]. Tersedia dari : https://www.bps.go.id/pressrelease/2021/05/05/1812/ekonomi-indonesia-triwulan-i-2021-turun-0-74-persen–y-on-y-.html

Hirawan FB, Verselita AA. 2020. Kebijakan pangan pada masa pandemi covid-19 [Internet]. CSIS Commentaries DMRU-048-ID. Jakarta (ID): Centre for Strategic and International Studies; [diunduh 2020 Ags 25]. Tersedia dari: https://csis.or.id/download/242-post-2020-04-14-SISCommentaries_DMRU_048_ID_ HirawanVerselita.pdf.

Kementerian Pertanian. 2021. Tabel Perkiraan dan Ketersediaan Pangan Nasional (Januari-Maret 2021) [Internet]. [diunduh 2021 Juli 10]. Tersedia dari: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/03/19/beras-dominasi-kebutuhan-pangan-nasional-hingga-mei-2021#

Kementerian Perdagangan. 2020. Surat keputusan menteri No. 317/ M-DAG/ SD/ 04/2020 [Internet]. [diunduh 20219Juli].Tersedia dari :https://ppid.bogorkab.go.id/media/SE_Mendag_terkait_Ritel_saat_wabah_Covid19_1 50920030751.pdf

Achmadi A, Narbuko. 2015. Metodologi Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara.

Modjo MI. 2020. Memetakan Jalan Penguatan Ekonomi Pasca Pandemi. The Indonesian Journal of Development Planning. 4(2):103-116.

Rangga D. Yofa, Erwidodo, Erma Suryani. Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Ekspor Dan Impor Komoditas Pertanian. Dalam prosiding Dampak Pandemi Covid-19: Perspektif Adaptasi dan Resiliensi Sosial Ekonomi Pertanian Hal 149-170. ISBN: 978-602-344297-3. Jakarta : IAARD Press.

[Setneg] Sekretariat Negara. 2020. Pidato Presiden RI pada sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR RI dan DPD RI dalam rangka HUT ke-75 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia [Internet]. [diunduh 2021 Juli 10]. Tersedia dari: https://www.setneg.go.id/baca/index/pidato_presiden_ri_pada_sidang_tahunan_mpr_r i

Saktyanu K. Dermoredjo, Yonas H. Saputra, Delima H. Azahari. 2020. Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Perdagangan Dalam Negeri Komoditas Pertanian. Dalam Prosiding Dampak Pandemi Covid-19: Perspektif Adaptasi dan Resiliensi Sosial Ekonomi Pertanian Hal 127- 148.. ISBN: 978-602-344-297-3. Jakarta : IAARD Press.

World Bank. 2020. A shock like no other: The impact of covid-19 on commodity markets. Commodity Markets Outlook April 2020:7-15. Washington (US): World Bank.

Yusdja, Yusmichad, Haryono Soeparno. 2011. Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Pertanian Di Indonesia. Bogor : IPB Press

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.