Jagung Lokal dan Hibrida Bertarung di Gorontalo

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Gorontalo saat ini menjadi ajang “pertarungan” benih jagung lokal dan hibrida. Sejak Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo, mencanangkan program Agropolitan Jagung, berbondong-bondong para produsen benih menyerbu provinsi yang ibukotanya ada di Teluk Tomini itu. Mayoritas petani memang masih menanam benih lokal. Namun, benih hibrida “menangangin” lantaran pemerintah daerah menjamin harga beli jagung, asal memakai benih hibrida.

Jagung saat ini memang menjadi andalan Gorontalo. “Branded. Kita perlu branded. Branded-nya jagung,” ujar gubernur yang juga pengusaha ini. “Jagung komoditas industri yang bisa diolah menjadi 17 macam produk,” tambahnya.

Sang gubernur tampak serius sekali dengan gebrakan ini. Dalam waktu 8 bulan ia berhasil mendongkrak harga jagung dari Rp400/kg menjadi Rp700/kg. Ongkos kirim ke Surabaya yang semula Rp250/kg berhasil ditekan sampai RplOO/kg. Produktivitas pun melonjak drastis. Jika tahun 2001 hasil panen hanya 40.000 ton, sekarang mencapai 70.000 – 80.000 ton. Pada 2003 ditarget menjadi 200.000 ton. “Tahun depan, semua teknologi jagung ada di Gorontalo,” ucap lulusan ITB 1972 itu.

Yang saat ini sedang dirintis ialah pembangunan institut jagung pertama di Indonesia, bekerja sama dengan BPPT.

Hibrida vs lokal

lokal dan hibrida
Dipipil, dikeringkan, dan diekspor ke Sabah

Geliat jagung itu tampak sekali di berbagai pelosok Gorontalo. Ambil contoh di Desa Pontolo, Kelurahan Temilo,. Kecamatan Limboto. Para petani di sana semula menanam kacang hijau. Begitu harga jagung dijamin pemerintah, mereka langsung banting setir. Marli Manu contohnya. Saat dikunjungi Mitra Usaha Tani, ia baru saja panen jagung. Marli Manu menanam hibrida C7 di luasan 1/2 hektar dengan modal Rpl.650.000. Waktu panen ia memetik 7 ton jagung yang dijual seharga Rp775/kg. Jadi, selama 3 bulan diperoleh laba lebih dari Rp3,5-juta. Dahulu, di luasan yang sama ia menanam benih lokal dan cuma panen 200 kg.

Benih hibrida memang salah satu cara yang dipilih Fadel Muhammad untuk mendongkrak produktivitas. Di Gorontalo tercatat beredar benih jagung, antara lain: C7, B1SI, Pioneer, NKRI, Bisma, komposit manado kuning, komposit kalingga, dan lokal. Pada musim tanam 2002, benih hibrida ditanam di lahan seluas 5.740 ha; komposit, 2.159 ha; lokal, 9.039 ha. Pemakaian benih hibrida melonjak pesat. Ambil contoh kasus yang dialami Agus Syakbani dari Monsanto, produsen benih C7. Dalam waktu 5 bulan mereka bisa mendongkrak penjualan dari 5-7 ton/musim tanam menjadi 70 ton/ musim tanam.

Toh, benih lokal masih lebih banyak dipakai lantaran bisa dibuat sendiri oleh petani, sementara benih hibrida tidak mungkin ditanam ulang. Selain itu, harga jual jagung lokal lebih tinggi Rp25-Rp50/ kg daripada hibrida. Ini dibenarkan oleh Leonard Yokom. “Pembeli minta warna jagung merah. Yang lokal kecil, tapi merah. Hibrida jagungnya oranye,” papar Yokom.

Kualitas warna ini dituntut baik oleh pembeli dalam maupun luar negeri. Yokom berpendapat, prospek jagung baik sekali karena, “Penuintaan ekspor tak terbatas.” Pada masa panen raya ia setiap hari menampung 100-200 ton jagung dan mengirimnya ke Sabah dengan kontainer 20 feet (20-22 ton).

Davao, Filipina, sebenarnya juga pasar potensial. Namun, ia hanya bisa masuk ke sana ketika taifun melanda. Saat itu, untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, pemerintah Filipina membebaskan bea masuk jagung impor sebesar 60%. Malaysia tidak menerapkan tarif bea masuk karena di sana tidak ada yang menanam jagung.

Jagung Gorontalo yang masuk ke Yokom lebih dari 50% diekspor, sisanya dikirim ke pabrik pakan di Jawa Timur. Yokom membeli jagung dari pengumpul seharga Rp800/kg, dijual Rp950- Rp 1,050/kg. Ternyata pembeli dalam negeri lebih rewel daripada ekspor. Untuk pengiriman ke luar negeri, kadar air 17% masih bisa diterima. Di pabrik pakan, kadar air tidak boleh lebih dari 15%.

Demplot

Agropolitan jagung dicanangkan Fadel Muhammad sejak Februari 2002. Sebulan kemudian program ini diangkat secara nasional oleh menteri pertanian. Untuk mendukung pengembangan jagung,direncanakan pembangunan pusat peternakan sapi di Kabupaten Boalemo. Sejumlah 2.000 ekor sapi akan digemukkan dan dipasarkan ke Bontang melalui Pelabuhan Kwandang.

Pola yang dipakai di program ini ialah demplot dan pengembangan. Di 30 lokasi -masing-masing seluas 2,5 ha-dibuat kebun percontohan jagung dengan benih hibrida. Selanjutnya memperluas areal tanam dan meningkatkan produksi per satuan luas. Di Tenilo, Kelompok Tani Ilopuno membuktikan, pemakaian benih hibrida membuat hasil panen 6 kali lebih tinggi daripada benih lokal.

Bukti tersebut, ditambah jaminan pembelian jagung Rp700/kg, diharapkan dapat merangsang petani menanam jagung. Dengan demikian, dari potensi lahan seluas 60.000 ha, ditargetkan penanaman seluas 40.000 ha. Pada tahap pertama, yang tampaknya terealisir ialah penanaman jagung seluas 20.000 ha.