Rabu, Oktober 20, 2021
BerandaAgrobisnisJamur Merang: Kala Pasar Menanti Pasokan

Jamur Merang: Kala Pasar Menanti Pasokan

Jari jari tangan Basuki Rachmat, manajer PT Lestari Hayati Mutuprima, terlihat serius menekan tombol tombol di telepon selulernya. Setiap akhir pekan kesibukan pemasok jamur merang di Bandung itu bertambah. Ia harus menghubungi pemasok lain untuk memenuhi permintaan yang melambung tinggi, 0,8 4 ton per hari. Padahal perusahaan yang dipimpinnya hanya mampu mengirim 0,4 sampai 0,6 ton per hari.

Rata rata kekurangan 4 kuintal per hari di setiap akhir pekan itu dirasakan PT Lestari Hayati Mutuprima sejak 6 tahun silam. Sudah banyak upaya yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan itu. Misalnya, meluaskan jaringan pengepul ke sentra jamur merang di Karawang. Sayang, jalur tata niaga di wilayah lumbung beras nasional itu sudah penuh.

Sentra lain seperti Cirebon dan Indramayu pun dilirik. Namun, kedua daerah itu sudah mempunyai pasar tetap, Jakarta. “Di sana tengkulak dan pengepul banyak. Kita tidak mampu menembus langsung ke pekebun,” ujarnya.

Itulah sebabnya sejak 1998, Basuki masih mengandalkan pekebun di Pagaden, Subang, untuk memenuhi permintaan 36 restoran dan 4 pasar swalayan di Bandung. “Di sana kita bisa menembus pekebun sehingga harga lebih kompetitif,” ujar alumnus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung itu.

Kekurangan pasokan masih dipenuhi dari pemasok lain. Namun, ia tidak mau selamanya seperti itu. Kini Basuki sedang mempersiapkan sumber daya manusia untuk bisa menampung jamur merang dari pekebun di Karawang. Misalnya, dengan cara membangun kemitraan.

Tidak perlu mewah
Menurut Basuki yang juga sekretaris MAJI Bandung Raya kebutuhan Jawa Barat, Jakarta, dan Banten terhadap jamur mencapai 16 ton per hari. “Jumlah itu bisa seperti masuk ke laut saja,” ujarnya. Itu semakin besar bila dihitung dengan permintaan untuk bahan olahan, 55 ton per hari. Hingga saat ini permintaan industri tak pernah terpenuhi.

Sebetulnya, bukan tanpa alasan jamur merang banyak diminta pasar. Ia menjadi menu wajib di restoran restoran Cina. Bahkan restoran lokal pun mulai banyak menggunakan Volvariella volvacea sebagai bahan baku. Mi ayam misalnya, semakin nikmat bila dicampur jamur merang. Di sisi lain masyarakat menyadari jamur bergizi tinggi, terutama kandungan asam amino yang lengkap. Ia sulit disubstitusi oleh jamur dan komoditas lain.

Yang istimewa, sejak 1975 hingga kini permintaan jamur merang tak pernah terpenuhi. Musababnya, belum ada satu perusahaan pun yang memproduksi anggota keluarga Agarcaceae secara besar besaran. Itu berbeda dengan jamur lain seperti shiitake dan champignon yang dihasilkan oleh perusahaan besar. Jamur merang yang beredar di pasaran adalah hasil panen pekebun yang tersebar di sentra sentra padi. Supa pare sebutan jamur merang di Jawa Barat itu diusahakan sebagai usaha sampingan dengan modal relatif kecil.

Merebak

Peluang itu ditangkap oleh Misa Suwarsa, pelopor budidaya jamur merang modern di Karawang. Pada 1990 ia membudidayakan Volvariella volvacea di sebuah kumbung rumah jamur bekas dengan modal pinjaman. Dengan teknologi modern berupa pengomposan dan pasteurisasi ia berhasil memanen 600 kuintal dari kumbung berukuran 6m x 4m. Ia tak pernah merugi karena harga supa genduk sebutan jamur merang di Jawa Tengah itu terus naik. Ketika itu harga jamur merang Rp 1.000 per kg dan terus naik hingga sekarang Rp9.000 per kg.

Setiap hari Misa rata rata memanen 500 kg. Pada tingkat harga Rp9.000 per kg ia meraup omzet minimal Rp4 juta per hari atau Rp120 juta per bulan. Padahal biaya produksi untuk menghasilkan 1 kg jamur hanya Rp2.800 per kg. Wajar, dari 32 kumbung jamur merang, butir butir keringatnya bersalin rupa menjadi 50 ha sawah, 2 rumah di Karawang dan Depok, serta sebuah penginapan di Karawang.

Selain di Karawang, maraknya budidaya jamur merang juga tampak di Sragen, Jawa Tengah. Sebagian besar mereka adalah pekebun melon yang merugi dan kini melirik straw mushroom. Maklum, saat ini harga melon di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur itu melorot tajam.

Sudamo, guru Sekolah Dasar di Desa Belimbing, Kecamatan Sambirejo, Sragen pun menyambi berkebun jamur. Sembari berangkat mengajar ia menenteng puluhan kg jamur yang dipetik dari 2 kumbung. Selain melayani pesanan sesama pendidik, ia memasok kebutuhan pegawai Puskesmas setempat.

Kumbung yang dimiliki Sudamo masing masing berukuran 2 m x 4 m terdiri atas 8 rak. Dalam satu periode tanam ia menuai 60 kg, dijual dengan harga Rp7.000 per kg. “Banyak juga masyarakat di sini yang membeli 1-2 kilo,” katanya. Baginya omzet mengusahakan jamur merang menjadi tambahan pendapatan yang lumayan.

Awasi langsung

Harus diawasi pemilik
Yangjuga mengandalkan jamur merang sebagai penopang hidup adalah H Supardi di Desa Bayurlor, Kecamatan Cilamaya Kulon, Karawang. Di wilayah yang terletak di sebelah timur laut atau 0,5 jam perjalanan bermobil dari Kota Karawang itu, Supardi mengusahakan jamur merang sejak 1980 an. “Ia cocok di Karawang. Jerami padi juga berlimpah,” ujarnya.

Kini ia memiliki 4 kumbung dikelola sendiri dan 11 kumbung oleh pekebun mitra. Masing masing kubung berukuran 6 m x 4 m. Menurutnya, biaya produksi setiap kumbung per periode Rp 1 juta. Hasil rata rata per kumbung mencapai 4 kuintal terdiri atas 350 kg kualitas super dan 50 kg kualitas biasa. Harga jual Rp7.800 per kg kualitas super dan Rp5.000 per kg kualitas biasa.

Dari setiap kumbung Supardi minimal mendapatkan omzet Rp2,98 juta, atau keuntungan bersih Rp1,98 juta. Bila dihitung harian, setiap hari ia bisa memanen 3 kuintal masing masing 260 kg kualitas super dan 40 kualitas biasa senilai Rp2,2 juta per hari.

Dulu, 3 sampai 4 tahun silam, ia adalah pekebun jamur merang terbesar di Karawang. Total kumbung yang dimiliki bersama pekebun mitra 254 buah. Sayang, ia sempat tergoda bisnis lain sehingga kumbung terabaikan. “Waktu itu saya berniat meluaskan usaha. Eh, ternyata jamur merang harus diawasi langsung,” ujarnya. Belajar dari kesalahannya itu tahun ini, ia kembali menangani langsung jamur merang.

Menurut, Toto Haryanto, pekebun inti jamur merang di Desa Bayurkidul, Kecamatan Cilamaya Kulon, Karawang, persiapan dan perawatan kumbung adalah kunci utama sehingga harus diawasi sendiri oleh pemilik. Tanpa itu membudidayakan jamur merang pasti gagal. “Kalau tidak diawasi, pekerja menggunakan cara lama. Kalau sudah begitu hasilnya sedikit, di bawah 100 kg per kumbung. Malah bisa gagal sama sekali,” ujarnya.

Pengomposan

Sebetulnya, yang perlu diperhatikan dalam budidaya jamur merang adalah sterilisasi dan pengomposan jerami. Jerami harus kering. Jika lembap ditumbuhi cendawan lain yang menghambat pertumbuhan jamur merang.

Penggunaan kapur juga harus tepat agar keasamaan media sesuai dengan yang dikehendaki jamur merang. Demikian, pasteurisasi memerlukan waktu lama, di atas 3 jam. Misa Suwarsa melakukan pasteurisasi lebih dari 6 jam. Menurut Toto, banyak pekebun mempasteurisasi sekadar formalitas. Padahal itu adalah tahapan yang paling penting.

Produksi rendah, hanya 1 kuintal per kumbung di kalangan pekebun menjadi kendala berbudidaya jamur merang. Oleh karena itu harga yang terus merangkak naik sampai Rp9.000 per kg tak serta merta memicu merebaknya pekebun jamur. Padahal beberapa pekebun dengan tehnik pasteurisasi dan pengomposan yang baik berhasil memanen 200 sampai 600 kg per kumbung. Hanya dengan cara itulah ceruk pasar yang menganga lebar, bisa terisi.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments