Jamur Merang: Laba di Atas Cawan

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Keputusan sulit akhirnya diambil Misa Suwarsa. Ia menetapkan pilihan meninggalkan profesi dosen di sebuah perguruan tinggi di Jakarta yang telah dijalani selama 5 tahun. Alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung itu menanggung risiko: dikucilkan keluarga hampir sewindu lamanya. Keluarga besarnya menentang pilihan Misa sebagai pekebun jamur merang yang dinilai kurang bermanfaat.

Misa Suwarsa terngiang-ngiang pertanyaan seorang pakar jamur dari Eropa yang datang ke Indonesia. “Coba hitung sendiri. Dengan gaji Rp1-juta-an (pendapatan sebagai dosen kala itu, red) sampai pensiun berapa yang bisa dikumpulkan? Apakah cukup untuk pendidikan anak?” Berhari-hari mantan aktivis organisasi kepemudaan itu mencerna pertanyaan itu.

Bacaan Lainnya

Akhirnya ia menetapkan pilihan: meninggalkan profesi dosen dan menjadi pekebun jamur merang pada 1990. Alasannya, budidaya jamur merang relatif mudah dan cepat panennya. Hanya dalam waktu 9 hari pekebun sudah memetik hasil. Itu yang ada di benaknya kala itu. Faktanya untuk memulai usaha mengebunkan Volvariella volvacea (bahasa latin: volva = cawan, red) ternyata tidak mudah.

Produksi rendah

Pasterisasi kunci sukses
Langkah pertama yang ditempuh Misa adalah mempelajari budidaya jamur cawan. Para ahli pun disambangi. Namun, “Ternyata para ahli jamur itu belum pernah mengusahakan secara komersil,” ujarnya. Itulah sebabnya lelaki kelahiran Depok, Jawa Barat, 9 April 1959 itu memanfaatkan laboratorium di universitas tempatnya dulu mengajar.

Segala hal tentang jamur dipelajari, mulai dari cara membuat biakan murni sampai inokulasi. Untuk praktek di lapang, sebidang tanah di Bandung disewa. Hasilnya dalam sekali produksi, kumbung seluas 6 m x 4 m mampu menghasilkan 600 kg jamur merang.

Sukses uji coba mendorong peraih Satyalencana Wira Karya 2004 ini mencari lokasi budidaya yang pas. Karawang, Subang, sampai Cirebon dijelajahinya. Di Kecamatan Karawangkota, Karawang, akhirnya ia memulai debutnya.

Di sana pula kemanusiannya terusik. Bagaimana tidak, pekebun hanya bisa menghasilkan 100 kg per bulan. Dengan kondisi ini pasti tidak akan ada perbaikan nasib. “Kenyataan itu makin mendorong tekad saya untuk terjun ke jamur merang,” ungkapnya mengenang.

Hanya dengan berbekal uang Rp 10.000 ia berangkat ke Karawang untuk memulai proyek impiannya. Keterbatasan dana memaksa Misa berhubungan dengan lintah darat. Dengan pinjaman Rp600.000 ia bisa menyewa 3 kumbung dan membeli bibit. Jerami untuk media terpaksa dingkut sendiri, meski berakibat badan lecet-lecet karena tak biasa.

Panen perdana Misa memetik 1.450 kg. Ia menjualnya ke pedagang di Cikampek. Maklum, pada 1990-an jamur merang tidak laku di Karawang. Dengan hargajual Rp1.000 per kg, lelaki berpenampilan sederhana itu menangguk laba Rp 1.450.000. Dari hasil penjualan jamur utangnya sebesar Rp 1.200.000 terbayar.

Periode berikutnya ia bergerilya untuk mendapatkan kumbung. Beruntung, ada seorang warga yang menjual kumbung lantaran terus merugi. Sebuah kumbung seharga Rp100.000 menjadi milik Misa. Karena minim modal, kumbung hanya dilapisi daun pisang dan anyaman daun kelapa kering.

Dengan bekerja keras dari kumbung berukuran 6m x 4m ia menuai 600 kg jamur segar atau senilai Rp600.000. Biaya produksi saat itu hanya Rp1OO.OOO. Keuntungan demi keuntungan terus mengisi pundi-pundinya. Sebagian dibelanjakan untuk menambah kumbung. Dalam waktu 6 bulan terkumpul Rp 10-juta yang digunakan untuk membeli tanah dan sawah.

Dari jamur merang rezeki Misa terus mengalir. Setiap tahun ada saja kumbung baru yang dibangun. Sisanya untuk memperluas areal sawah. Ia berniat melakukan diversifikasi usaha dengan menanam padi. “Usaha terpadu,merangnya bisa dimanfaatkan sebagai media jamur,” ungkapnya.

Jamur merang Bermutu tinggi

Bermodal ketekunan, saat ini Misa Suwarsa mengelola 30 rumah tanam dan 50 ha sawah. Dalam satu kali produksi (3 minggu), tiap kumbung mampu menghasilkan 600 kg jamur segar.

Sebanyak 580 kg kualitas super Rp9.000 per kg. Sisanya 20 kg kualitas BS laku Rp6.000/kg. Dengan biaya produksi Rp1 .200.000 per kumbung, ayah 2 anak ini meraup laba bersih Rp 112-juta per bulan. Pendapatan yang amat besar ketimbang gaji seorang dosen.

Jamur ia pasarkan ke Karawang dan Jakarta. Mutu jamur hasil produksi Misa dikenal baik karena teknik budidaya lebih modem. Pasteurisasi kumbung dilakukan 2 kali selama 12 jam, ketebalan media ditambah hingga 2 kali lipat daripada biasa. Salah satu medianya ampas pabrik tekstil yang bisa menahan kelembapan.

“Kebersihan mutlak dijaga, apalagi saat pembuatan bibit dan penanaman,” tutur Misa. Jika terkontaminasi, bukan miselium yang tumbuh, tapi cendawan asing. Pernah, 250 bibit jamur gagal dibiakkan karena peraih berbagai penghargaan itu lalai menjaga kebersihan.

Yang juga tidak dilupakan adalah soal kedisiplinan. Misalnya menyiram dan memanen harus tepat waktu. Terlambat beberapa jam kualitas jamur turun drastis.

Mulai hari ke-9 jamur sudah bisa dipanen 2 kali sehari. Pedagang dari luar kota mengambilnya sore hari. Ganjaran dari kualitas tinggi, hasil produksi dihargai Rp9.000 per kg basah. Jamur merang produksi pekebun lain hanya Rp7.000—Rp8.000 per kg.

Sosialisasi

Misa Suwarsa, berharap pada Jamur merang
Untuk orang-orang yang ingin belajar, Misa membuka lebar-lebar pintu rumahnya. Itu sebabnya sejak 2000, kebun jamurnya dipilih sebagai lokasi magang nasional. Peserta dari luar kota harus membayar Rp2-juta untuk mengganti akomodasi. Bagi warga Karawang yang berkeinginan menekuni jamur merang tapi tak mampu, ayah dari Muhammad Hidayatullah dan Siti Nurjannah ini tak memungut biaya.

Hari-hari Misa Suwarsa kini padat dengan urusan jamur merang. Aktivitas dimulai dinihari dengan melayani pedagang-pedagang lokal yang menunggu pasokan. Siang hari waktunya habis untuk mengontrol pekerjaan di kumbung. Kadang-kadang ia terjun langsung menangani pembuatan dan penyebaran bibit. Tak ketinggalan membimbing peserta magang. Ia tak pelit membagi ilmu. Sebab prinsipnya semakin banyak pengusaha jamur, semakin besar pula pasar yang tercipta. “Banyak calon pekebun dari berbagai daerah yang berharap banyak dari jamur merang. Makanya saya harus buka-bukaan,” ujarnya.

Boleh dibilang kehidupan Misa sekarang lebih dari cukup. Padahal dulu tidak saja keluarga yang melarang terjun di jamur, lingkungan di sekitar tempat tinggal mencemooh. Bahkan di antaranya berulah merugikan. Pada 1995 misalnya satu tumpuk persediaan jerami senilai Rp35-juta habis dibakar orang. Toh hal itu tidak menjadi masalah serius bagi Misa, ” Yang penting kita menjalani hidup dengan lapang dada saja,” tuturnya.

Impiannya yang sampai saat ini belum terwujud, menemukan teknologi baru agar satu kumbung menghasilkan 1 ton jamur merang. Memang, masih panjang jalan yang harus diretas oleh Misa Suwarsa.

Pos terkait