Selasa, September 21, 2021
BerandaartikelKembalinya Rambutan si Buruk Rupa

Kembalinya Rambutan si Buruk Rupa

“Ehm…manis banget, dagingnya tebal lagi,”seru Elly Syahbana saat mencicipi rambutan cilengkeng. Sepintas penampilan Nephelium lappaceum itu tak meyakinkan. Kulit buah merah kusam dengan rambut pendek dan keriting. Toh, dengan rasa istimewa, anggota keluarga Sapindaceae itu ludes diborong pengunjung Pameran Buah Nasional 2020 di Golden Ballroom Jakarta Hilton International Hotel.

Semula banyak yang enggan melirik rambutan di anjungan milik Mubin Usman itu. Dibanding sinyonya yang ada di sebelahnya ia memang kalah jauh. Cilengkeng hanya sebesar duku, berbobot 13,8 sampai 16 g. Rambutan lain lazimnya 20 sampai 50 g. Warna kulit merah kusam dengan rambut pendek dan keriting kalah mentereng ketimbang sinyonya yang besar lonjong, berambut halus, panjang, dan rapat, serta berwarna cerah.

Namun, soal rasa jangan ditanya. Ia tidak kalah oleh binjai, garuda, maupun rapiah. “Manisnya mirip lengkeng,” kata Mubin Usman. Daging buah agak kenyal, berair, dan berserat. Daging semakin terlihat tebal karena biji sangat kecil, seukuran kacang tanah. Sayangnya tidak semua cilengkeng ngelotok, sekitar 30% madur.

Rambutan Langka

Di Jakarta dan sekitarnya sulit menemukan cilengkeng karena langka,bahkan hampir punah. Warga Depok wilayah asal cilengkeng enggan menanam karena ia sulit berbuah. Dari setiap malai paling hanya 4 sampai 6 bunga yang jadi buah. Konon, batang pohon harus digoyang-goyang setiap hari agar cilengkeng marak buah.

Namun, Mubin mementahkan mitos itu. Di kebunnya di Citayam, Bogor, cilengkeng berbuah cukup lebat. Dalam 1 dompol digelayuti 15 sampai 20 buah. “Asal kebutuhan air cukup dan dipangkas sehabis panen, cilengkeng mau berbuah,” ucap ayah 3 anak itu.

Beberapa tangkai memang tampak kosong akibat gugur bunga. Toh, pemilik Wijaya Tani itu bisa menuai 1 kuintal buah dari pohon berumur 5 tahun. Musim panen berlangsung antara November sampai Januari. Rasa istimewa dan jumlah terbatas membuat harga cilengkeng melambung tinggi.

Sebagian orang kerap salah mengenali cilengkeng sebagai rapiah. Sepintas sosok fisik yang mungil dan nyaris gundul memang mirip rapiah. Bedanya rapiah sudah enak dinikmati meski kulit masih hijau. Namun, jangan keliru. Di Kecamatan Salaman, Magelang, rapiah disebut cilengkeng.

Rambutan Basariah

buah rambutan Basariah
Basariah, mirip binjai

Selain cilengkeng, Mubin Usman juga menanam basariah, rambutan asli Depok, Jawa Barat, yang populer sejak puluhan tahun lalu. Ukuran buah sebesar bola pingpong. Kulit diselimuti rambut panjang yang agak jarang. Buah matang berwarna kuning kemerahan. Daging buah tebal, rasa manis, biji kecil, dan ngelotok.

Ia bisa panen 2 kali setahun, pada Januari dan Agustus. Buah tumbuh di ranting, cabang, batang, bahkan pangkal pohon. Lantaran rajin berbuah rambutan berdaging putih bening itu layak dijadikan tabulampot. Ia pun termasuk genjah. Pada umur 1,5 tahun bunga dan buah sudah memuncul. Bila dibiarkan tumbuh di lahan bebas tingginya mencapai 5 m. Produktivitas pohon berumur di atas lima tahun mencapai 1.000 ikat.

Di pasaran basariah sering mengecoh penggemar rambutan. Maklum sosok fisiknya mirip binjai. Bedanya buah bisa dipanen walau masih hijau. (Destika Cahyana/Peliput: Prita Windyastuti)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments