Kendala Pemasaran Gambir Lokal Ke Pasar Internasional

Di pasar internasional harga gambir relatif stabil. Namun, tingginya biaya pengapalan menyebabkan harga jual gambir Indonesia relatif lebih tinggi ketimbang negara pesaing. Siapa bilang gambir cuma dibutuhkan nenek-nenek tua untuk menyirih? Getah daun pohon Uncaria …

Di pasar internasional harga gambir relatif stabil. Namun, tingginya biaya pengapalan menyebabkan harga jual gambir Indonesia relatif lebih tinggi ketimbang negara pesaing.

Siapa bilang gambir cuma dibutuhkan nenek-nenek tua untuk menyirih? Getah daun pohon Uncaria gambir yang dipadatkan itu juga dicari masyarakat India.

Di sana ia antara lain dimanfaatkan untuk perlengkapan upacara pernikahan, kosmetik, dan industri lain. Salah satu eksportir gambir ke negeri Anak Benua itu adalah PT Sumber Alam Peleng (SAP).

Setiap tahun ia mengapalkan 3 kali ke India dan Pakistan. “Jadi empat bulan sekali buyers biasanya minta kiriman. Khusus Arab Saudi saat ini tengah kami jajaki,” tutur Managing Director SAP Darren Chandra. Dari 3 buyers di dua negara itu SAP mengirimkan sekitar 90 ton gambir setiap 4 bulan.

Daftar Isi

Pasokan Gambir Bergantung Pada Petani

SAP menekuni gambir sejak 1995. Selain komoditas itu, perusahaan yang didirikan Darren Chandra itu juga mengekspor antara lain jahe, kapulaga, kayumanis, kemiri, dan rumput laut. Kontinuitas ekspor teijaga dengan mengandalkan pasokan gambir dari petani di Payakumbuh, Sumatera Barat.

Walaupun SAP menunjuk sebuah koperasi di sana untuk membina pekebun, tetapi hanya sekitar 70% gambir mereka yang layak ekspor. Chandra membeli dengan harga Rp9.000 sampai Rp10.000 per kilo.

Jenis yang diekspor hanya gambir koin atau dolar dengan grade A yang berkadar katecin 60% dan B (40%). Harga grade A saat ini berkisar antara US$1.900 sampai US$2.050 per metrik ton. Yang B hanya US$1.800 sampai US$1.900. Sosok gambir koin berdiameter 3cm dengan panjang 3,5cm.

Selain SAP, Supari Katta juga mengekspor gambir. Setiap bulan ia mengapalkan 120 ton gambir dari pelabuhan Pekanbaru, Riau. Perusahaan itu tak mengelola lahan gambir sendiri. Alasannya, “Butuh investasi yang sangat besar,” ujar Direktur SK Marzuki.

Itulah sebabnya SK hanya membina pekebun di Siguntur dan Payakumbuh keduanya di Sumatera Barat. Ranah Minang memang merupakan sentra terbesar gambir di tanah air.

SK membeli gambir dari pekebun Rp8.900 per kilogram. Gambir tersebut tidak serta-merta dikapalkan ke India.

“Kami harus menjemur selama 3 hari untuk memperoleh kadar air 14% sebagai standar kualitas yang diminta,” kata Marzuki. Gambir yang diterima dari pekebun umumnya berkadar air 17%. Selain itu, standar mutu lainnya adalah kadar katecin 50% dan warna cokelat terang.

Kendala Pemasaran Gambir

Salah satu kendala ekspor gambir adalah turunnya produksi ketika musim hujan tiba. Penurunan itu mencapai separuhnya dari produksi pada kemarau.

Penyebabnya adalah kesulitan pekebun menjemur gambir. Sumber Alam Peleng menyiasati kendala itu dengan, “Menyimpan persediaan pada kemarau,” kata Chandra.

Kuantitas persediaan itu minimal 15 ton. “Begitu ada permintaan importir, kami sudah siap. Memang biasanya permintaan setiap buyer 30ton.

Tapi dengan mempunyai persediaan setengahnya, kami jadi lebih mudah mencari kekurangannya,” papar Chandra ketika ditemui Mitra Usaha Tani di kantor barunya di bilangan Cibubur, Jakarta Timur.

Di samping itu, kendala lain menurut Chandra adalah, “Mahalnya biaya pengiriman.” Pengiriman gambir dari Indonesia ke Karachi, Pakistan, membutuhkan biaya US$1.000 per kontainer 20 feet.

Sementara dari Myanmar sebagai pesaing kita hanya US$700. Padahal kualitas gambir Indonesia masih lebih baik ketimbang gambir mancanegara. “Produksi gambir kita yang berkadar katecin tinggi lebih banyak dibanding negara pesaing,” ujar Chandra.

Sayangnya, pekebun gambir di Sumatera Barat kadang-kadang juga nakal. Dalam pengolahannya mereka mencampur gambir dengan tanah liat sehingga, “Kadar katecin jadi rendah,” ujar Chandra.

Bila dipatahkan, bagian dalam gambir yang tercampur tanah liat tampak cokelat kehitaman. Sedangkan yang berkadar katecin tinggi kelihatan lebih kuning.

Harga beli gambir di tingkat pekebun juga sensitif. Berbeda sedikit saja, pekebun akan lari ke eksportir lain. Walau begitu Chandra dan Supari Katta tetap menekuni gambir.

Sebab gambir berprospek bagus lantaran harga dan permintaan stabil. Banyaknya kendala tak harus menyurutkan mereka untuk mengekspor gambir.

Document Last Updated on 5 November 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.