Kentang Organik Semakin Dilirik Pekebun

kentang organik
Dengan organik biaya produksi turun RpS-juta Rp7-juta/ha

Di ketinggian 1.200 m dpi, lahan kentang itu tampak lain dari kebun di sekitarnya. Di beberapa bagian lahan, kelihatan karung bekas setinggi 2 m sebagai pagar. Di bagian lain tampak pagar plastik transparan. Itulah cara Kustiwa mengantisipasi serangan hama dari kebun tetangga. Harap maklum, di sebelah kebun organiknya terdapat lahan nonorganik.

Itulah sebabnya ketepatan masa tanam amat penting. Kalau terlambat bisa jadi dalam sepekan tanaman habis akibat serangan Phythophtora infestans. Paling lambat ia menanam bersamaan dengan pekebun lain. Lebih cepat beberapa hari lebih baik.

Aplikasi Pupuk Kandang Pada Media Tanam

Sepekan sebelum penanaman, lahan ditaburi pupuk kandang dan hijauan yang telah difermentasi selama 3 sampai 4 hari. Panen yang baik diawali dari pemilihan bibit. Ia memanfaatkan bibit G1. Namun, bibit G4 pun masih dapat digunakan. “Yang penting bibit tidak kedaluwarsa dan masa dormansi tidak lebih dari 4 bulan,’’ kata Kustiwa.

Bibit ditanam dengan jarak tanam 30 cm x 75 cm saat musim hujan, sehingga populasi 38.000 tanaman per ha. Jarak tanam dirapatkan saat kemarau, 35 cm x 30 cm dengan populasi 43.000 tanaman. Menurut kelahiran Bandung 34 tahun silam itu, jarak tanam longgar pada musim hujan agar kelembapan tak terlalu tinggi.

Pupuk cair hasil fermentasi campuran urine sapi, urine kelinci, kotoran sapi, dan gula, atau susu pecah diberikan. Sekitar 200 1 campuran bahan organik itu kemudian ditambah 1.200 1 air. Frekuensi kocoran 3 kali, saat tanaman berumur 25,35, dan 45 hari. Kocorkan di bawah kanopi dengan dosis 150 cc per tanaman.

Pengamatan secara intensif

budidaya kentang organik
Produksi tidak kalah dengan penanaman konvensional

Selama ini kentang dikenal sebagai komoditas yang dikerubungi banyak hama dan penyakit. Itu yang menyebabkan pekebun bergantung pada pestisida untuk mengatasi serangan organisme pengganggu itu. Dalam satu periode tanam, setidaknya pekebun nonorganik mengucurkan Rp4-juta per ha untuk belanja pestisida. Itu berarti setara dengan 12% dari total biaya produksi yang rata-rata Rp33 juta sampai Rp35 juta.

Kustiwa dapat berhemat hingga Rp3-juta untuk pos pestisida. Sebab, ia mengendalikan hama secara intensif. Ketika tanaman berumur 17 atau 20 hari, kontrol hama dimulai. Yang diamati adalah lebar tajuk, batang, jenis,

dan tingkat serangan hama. Pengamatan rutin 4 sampai 5 hari sekali, tetapi saat musim hujan setiap hari. Setelah tanaman berumur 80 hari, pengamatan dihentikan.

Bila ditemukan serangan hama atau penyakit, tak perlu buru-buru disemprot. Misalnya dari 40.000 populasi, hanya 5 tanaman terserang sehingga diatasi dengan pemotongan bagian terserang. Pestisida nabati disemprotkan bila serangan hama atau penyakit melebihi ambang batas.

Ia menggunakan bahan-bahan di sekitar, seperti kacang babi, daun suren, kipahit, dan kunyit sebagian bahan baku. Ciri mereka, berbau menyengat dan pahit. Untuk luasan 1 ha, Kustiwa menghabiskan Rp700.000 sampai Rp 1-juta sebagai biaya pestisida.

Biaya Produksi relatif Hemat

Budidaya kentang secara konvensional membutuhkan Rp6-juta sampai Rp7-juta untuk pupuk kimia per ha. Sistem budidaya organik hanya Rp3-juta untuk pupuk kandang. Penghematan itu menyebabkan biaya produksi menurun, hanya Rp28-juta per ha.

Sudah hemat biaya, produksi relatif tinggi pula. Dari lahan 1 ha, Kustiwa menuai 20 sampai 25 ton granola saat kemarau. Itu dicapai di lahan yang relatif baru dibuka; lahan lama, 15 ton per ha. Produksi turun hanya 15 ton per ha saat musim hujan.

Taruhlah produksi hanya 20 ton per ha. Setelah dikurangi kerusakan, 80% atau 16 ton dapat dipasarkan. Dari volume itu 35% atau 5.600 kg dijajakan sebagai bibit. Dengan harga jual Rp3.500 per kg ia memperoleh Rp 19.600.000. Selebihnya 65% atau 10.400 kg dipasarkan sebagai konsumsi. Sekitar 25% atau 2.600 kg bermutu AL dengan harga jual Rp2.500 per kg. Hanya dari grade itu ia mengantongi Rp6.500.000. Selebihnya (7.800 kg) dijajakan Rp2.000 sehingga ia mendapat tambahan Rp 15.600.000.

Total jenderal omzet dari 1 ha lahan saat kemarau Rp41.700.000. Setelah dikurangi biaya produksi, Kustiwa meraih laba Rpl3-juta. Laba itu tentu saja anjlok saat musim hujan. Meski demikian ia tetap membudidayakan kentang organik. Banyak pekebun lain yang membudidayakan kentang organik dengan luasan 50 ha.

Last Modified: 28th Des 2020