Kesempatan Berinvestasi Nanas di Pulau Bintan

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

“Singapura dan Malaysia butuh nanas dalam jumlah besar” ungkap John Madyautama, direktur PT Mahkota Agro Purbamas. Itulah sebabnya perusahaan investasi di bidang agribisnis itu telah membuka kebun seluas 140 ha di Pulau Bintan, Riau. Seluas 40 ha tengah digarap. Nanas madu asal Subang, Jawa Barat, yang ditanamnya akan dipasarkan dalam bentuk segar.

Nanas termasuk komoditas yang belum banyak dilirik investor. Padahal, kebutuhan terhadap buah tropis itu luar biasa besar. Pada tahun 1995 saja permintaan nanas segar mencapai 600.000 ton/tahun. Negara pengimpor di antaranya Amerika Serikat 110.000 ton, Eropa 200.000-300.000 ton, dan Jepang 120-140 ton/tahun. Belum lagi nanas untuk dikalengkan dan dijus yang diperkirakan lebih dari 10-juta ton.

Produsen utama nanas adalah Thailand, Filipina, Hawaii, Pantaigading, Kenya, Afrika Selatan, Brazil, Taiwan, Australia, India, dan Indonesia. Thailand memasok lebih dari 50% kebutuhan nanas kaleng dunia. Sementara Philipina kendati hanya 25%, tapi negara bekas jajahan Spanyol itu banyak mengekspor nanas segar. Kebutuhan nanas segar Jepang , 94%-nya didatangkan dari Philipina.

Konsumsi segar

“Kita tidak usah membidik pasar jauh-jauh, cukup Singapura dan Malaysia dulu,” kata Ir. R.G. Widiatmo, marketing manager PT Mahamas. Lulusan Teknik Industri ITB itu menggambarkan, turis asing yang datang ke Singapura 10-juta/ tahun. Mereka butuh buah-buahan tropis. Nanas adalah salah satu buah yang mereka cari. Sebab, nanas selain mengandung banyak vitamin A, B1, B2, dan C, juga dapat melarutkan kolesterol T dalam tubuh.

PT Mahamas menyadari lahan seluas 140 ha di Pulau Bintan tak bisa menutup permintaan pasar. “Kami akan terus mengembangkannya selama ada pasar. Bahkan tidak menutup kemungkinan merambah ke nanas olahan yakni nanas kaleng dan jus,” ujar John Madyautama. Kesempatan itu sangat terbuka, mengingat negara-negara di Timur Tengah yang notabene mengkonsumsi daging cukup tinggi, kurang pasokan.

Kenapa memilih investasi nanas di pulau Bintan karena PT Mahamas memberi kesempatan kepada investor di negeri jiran, Singapura dan Malaysia untuk ikut berinvestasi. “Produk PT Mahamas sudah masuk ke pasar Singapura dan Malaysia, peluang pasar yang ada harus kita tangkap kendati butuh modal tidak sedikit,” ungkap Mardatina. Untuk itu perusahaan yang menempati Wisma Nugraha di Jl. Raden Saleh No. 6 lantai 5, Jakarta Pusat, itu bergandeng tangan dengan investor dalam dan luar negeri.

Sudah banyak investor Singapura dan Malaysia yang berniat menanamkan modalnya. Mereka tertarik selain alasan lokasi yang mudah dijangkau juga menjanjikan keuntungan besar.

Pulau Bintan hanya ditempuh antara 30-50 menit dari Singapura dan sekitar 1 jam dari Malaysia lewat laut. “Jarak dan lokasi yang strategis itu sangat memungkinkan nanas kita bersaing dengan Thailand atau Philipina, baik dari segi harga maupun kualitas,” jelas pendiri PT Mahamas, bersama Antonius Bambang Soejitno 5 tahun lalu. Kesegaran nanas terjamin (fan transportasi lebih murah.

“Kita pasarkan nanas ke pasar becek dan pasar swalayan. Nanas itu harus betul-betul segar. Kalau tidak, tentu tidak laku,” kata Widiatmo. Nanas yang dimaui berdaging kuning, rasa manis, tidak berduri, diameter 12 cm, dan kulit kuning keemasan. Yang dipasok ke pasar becek mahkota buah tetap disertakan, sedang yang ke pasar swalayan beberapa daun dibuang.

Nanas
Nanas subang paling cocok

Keuntungan 7% per bulan

Mengebunkan nanas memang sangat prosfektif. Wajar bila paket yang ditawarkan PT Mahamas tidak hanya diminati investor luar, melainkan disambut hangat investor di tanah air. “Daftar tunggu sudah banyak, sehingga kalau Anda berminat silakan datang secepatnya,” titah John, panggilan akrab John Madyautama sambil memperlihatkan surat-surat perjanjian.

Nilai satu paket untuk penanaman seluas 2 hektar Rp75-juta. Investor akan mendapat bagian 7% dari modal yang ditanamkan selama 18 bulan. Artinya setiap bulan investor menerima bagi hasil Rp5,25-juta, atau total Rp94,5-juta. Bagi hasil itu mulai diberikan satu bulan setelah penandatanganan kerjasama. Sedangkan pengembalian modal pada bulan ke-14 hingga 18, selama 5 bulan, bersamaan dengan bagi hasil. Jadi, berikut modal awal, dalam kurun waktu 18 bulan investor mengantungi Rpl69,5-juta.

“Bagi hasil yang kami berikan jauh di atas bunga bank dan tanpa kecuali. Setiap investor pasti mendapatkannya, lantaran jika gagal panen atau tanaman rusak sepenuhnya kami tanggung,” John meyakinkan. John tidak main-main dengan pernyataan itu. Buktinya, perjanjian bagi hasil maupun risiko kegagalan dibuat oleh kedua belah pihak di depan notaris agar merasa aman.

“Kami punya visi memajukan pertanian, sehingga potensi yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal. Nah, yang berhak menikmati hasil tentu saja semua lapisan masyarakat, bukan hanya sekelompok orang bermodal besar,” Widiatmo, menjelaskan panjang lebar. Oleh karena itu PT Mahamas tidak serta-merta menggandeng investor besar yang bisa sekaligus menutupi permodalan. Ia lebih senang jika dana di galang dari mereka yang punya modal terbatas. Dengan begitu akan terjadi pemerataan pendapatan.

Terus dikembangkan
Perkebunan nanas

Komoditas potensial

Nanas bukan komoditas pertama dikelola PT Mahamas. Pepaya dan gurami sudah lebih dulu launching. “Kami terus berusaha merambah ke komoditas-komoditas potensial. Asal pasar ada dan syarat budidaya memungkinkan, kenapa tidak?” kata John. Gurami dan Pepaya, punya pangsa pasar luas. Pepaya misalnya, untuk kebutuhan Jakarta saja tidak kurang dari 200 ton/hari. Demikian Gurami, kalau hanya 10-15 ton/hari bisa terserap habis. Apalagi margin yang diterima kedua komoditas itu pun cukup tinggi.

Kini tersedia seluas 75 ha untuk kebun pepaya di Cikembang, Sukabumi, dan 3,3 ha kolam gurami di Parung, Bogor. “Dalam waktu dekat PT Mahamas akan kembangkan lagi. Untuk gurami sudah tersedia lahan hingga 10 ha dan pepaya berencana di tanam pula di Pulau Bintan,” papar pria asal Purwokerto, Jawa Tengah itu. Sama seperti nanas, paket-paket gurami dan pepaya ditawarkan dengan tingkat bagi hasil 7% per bulan. Hanya saja nilai paketnya berbeda, pepaya Rp50-juta untuk penanaman seluas 2 ha, gurami mulai Rp5-juta-Rp40-juta/paket tergantung paket yang diambil.

Peket gurami dibagi dalam 4 kriteria. Paket A senilai Rp5-juta, B Rpl5-juta, C Rp25-juta, dan D Rp40-juta. Dari paket A investor akan memperoleh bagi hasil Rp35O.OOO/bulan selama 4 bulan; paket B Rpl.050.000/bulan selama 4 bulan. Bagi hasil diberikan 1 bulan setelah perjanjian ditandatangani. Berikut modal yang dikembalikan pada akhir periode, bulan ke-4, total uang yang diterima investor Rp6,4-juta untuk paket A dan Rp 19.200.000.

Dari paket C dan D periode pengusahaan 6 bulan. Investor akan memperoleh bagi hasil Rpl ,750.000/bulan untuk paket C dan Rp3.200.000/bulan untuk paket D. Sama seperti paket A dan B, bagi hasil paket C dan D dimulai 1 bulan terhitung tanggal penandatanganan surat perjanjian. Total uang yang diterima investor berikut modal awal untuk paket C Rp35,5-juta dan paket D Rp59,2-juta.

Paket pepaya dengan nilai Rp50-juta investor akan memperoleh bagi hasil dan pngembalian modal secara bertahap selama 18 bulan. Pada bulan 1-8 bagi hasil sebesar Rp3,5-juta/bulan. Bulan 9 hingga 18 diberikan Rp8,5-juta/bulan. Total uang yang diterima investor Rp 113-juta, atau diperoleh keuntungan Rp63-juta selama 18 bulan.

Hapus keraguanPara Investor

Tingginya bagi hasil yang diberikan PT Mahamas kepada investor sepintas memang menimbulkan keraguan. Apalagi para pakar agribisnis berpendapat untuk memperoleh keuntungan 2% saja per bulan di dunia pertanian sangat sulit. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut hal itu wajar-wajar saja. Dengan pengelolaan profesional sangat mungkin PT Mahamas menekan biaya usaha dan meningkatkan produktivitas. Akibatnya keuntungan pun tinggi. Apalagi pasar pun dikuasai sehingga bisa mendapatkan harga paling baik.

“Adanya keragu-raguan dari invstor tidak apa-apa, supaya mereka lebih hati-hati. Yang penting kita tidak hanya memberikan janji, tapi bukti. Semuanya masuk akal kok” kata John Madyautama. Misalnya nanas, modal Rp75-juta bisa untuk menutup seluruh biaya 5-6 kali produksi seluas 2 ha. Dari luasan itu pada bulan ke 18 dapat dipanen sekitar 16 ton nanas segar. Dengan harga Rp2.000/kg berarti sekali panen dikantungi Rp32-juta.

Nanas yang sudah dipanen akan mati, tapi anakannya dipelihara lagi sampai menghasilkan buah. Demikian seterusnya hingga 6 kali panen bila perawatan cukup bagus. Setelah itu baru nanas dibongkar, diganti dengan bibit baru. Total pendapatan yang diperoleh Rpl92-juta.

Jika dikurangi pendapatan yang diberikan ke investor, pengelola masih menangguk keuntungan Rp22,5-juta/2 ha. “Bagian kita memang tidak besar, tapi kalau skalanya luas, keuntungan akan berlipat-lipat,” John menghitung-hitung.

“Di luar agribisnis kita punya usaha pokok yang lebih save di bidang angkutan kapal tongkang dan pembuatan kapal very untuk passengger, pabrik teh di Cianjur Selatan, juga production house,” ungkap Widiatmo. Dari usaha itulah perusahaan bisa mengcover bagi hasil yang diberikan ke investor sebelum tanaman menghasilkan.

Agar Anda bisa mendapatkan informasi lebih jelas, hubungi PT Mahkota Agro Purbamas, Telp. (021) 3161920, Faks 021-3161917.

Alamat: Jl. Raden Saleh 6 Wisma Nugraha Cikini Menteng Jakarta Pusat DKI Jakarta, RT.1/RW.4, Cikini, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10330