Ketakung di Dalam Edisi Prangko

seri perangko nasional

Kantong semar terpilih lantaran sekitar 70% spesies nepenthes di dunia ada di tanah air. Contohnya Nepenthes campanulata, Nepenthes clipeata, Nepenthes spathulata, Nepenthes reinwardtiana, dan Nepenthes danseri.

Meski Indonesia terkenal sebagai gudangnya kobe-kobe sebutan nepenthes di Papua, tapi selama ini negara lainlah yang banyak mengorbitkan periuk monyet itu.

Oleh karena itu untuk lebih memperkenalkan keanekaragaman hayati Indonesia yang sangat kaya ke forum internasional, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi menerbitkan prangko Nepenthes.

Sebenarnya nepenthes alias ketakung bukanlah tanaman pertama yang dipilih PT Pos Indonesia untuk ditampilkan dalam prangko. Sejak awal kemerdekaan, telah banyak prangko yang diterbitkan dengan tema flora fauna. Contohnya pada 1989.

PT Pos Indonesia bekerja sama dengan lembaga internasional World Wildlife Fun for Nature (WWF) mengeluarkan prangko bergambar orangutan, Pongo pygmaeus. Prangko seri flora fauna yang diterbitkan 5 November 1994 menampilkan serindit melayu dari Riau dan anggrek larat dari Maluku. Selain itu, ada juga prangko yang bergambar bunga bangkai, anggrek hitam, komodo, badak, dan jalak bali.

Spesies baru

N. adrianii
N. adrianii. Sekitar 70% spesies nepenthes di dunia ada di Indonesia

Keanekaragaman hayati Indonesia yang diterbitkan dalam bentuk prangko tak terbatas pada flora fauna yang telah ada, tapi juga spesies yang baru ditemukan. Sebut saja palem Licuala arbuscula dan Livistona Mamberamoensis,serta burung Melipotes carolae dan Amblyornis.

Keempat spesies itu merupakan sebagian kecil dari jenis-jenis baru hasil temuan sekelompok ilmuwan yang mengadakan Ekspedisi Foja di Papua pada 2005. Ekspedisi yang berlangsung selama 1 bulan di pedalaman hutan Foja itu didukung oleh Conservation , International (Cl) dari Amerika Serikat, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Cendrawasih, dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Papua.

Dari ekspedisi tersebut ditemukan spesies baru katak, kupu-kupu, dan yang paling menonjol adalah burung pengisap madu bermuka oranye. Pada 2006 diterbitkan lagi prangko bergambar 4 jenis palem dan burung baru asal Papua. Sementara jenis baru lainnya akan dimunculkan dalam bentuk prangko pada 5 November 2007 untuk memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.

Duta bangsa

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, pihak yang berwenang menerbitkan prangko di Indonesia, sangat selektif dalam memilih objek. Itu lantaran prangko bisa menjadi bukti sejarah perjalanan suatu bangsa.

Di Indonesia misalnya, perkembangan jumlah provinsi di tanahair dapat diketahui dengan melihat prangko-prangko yang diterbitkan berkaitan dengan identitas provinsi. Pergantian pemimpin negara pun terekam dalam prangko.

Demikian juga keragaman budaya Indonesia seperti tarian, upacara adat, pakaian daerah, dan makanan tradisional, diperkenalkan ke dunia internasional melalui prangko.

Prangko yang diterbitkan suatu negara dipastikan beredar ke seluruh dunia baik melalui korespondensi, pertukaran antar kolektor, maupun penjualan langsung kepada para filatelis mancanegara.

Secarik kertas kecil itu menjadi sarana yang cukup ampuh untuk mempromosikan atau mensosialisasikan suatu hal kepada khalayak luas. Menurut Dennis Altman,profesor di Australian National University (ANU), prangko merupakan paper ambassador. Yaitu berperan sebagai duta suatu negara, bukan sekadar alat untuk melunasi biaya pengiriman surat.

Karena prangko efektif untuk mempromosikan suatu hal, tak heran bila PT Pos Indonesia menerbitkan prangko flora fauna untuk memperkenalkan kekayaan alam Indonesia ke forum internasional. Salah satunya prangko nepenthes yang akan diterbitkan pada Agustus 2007. (Abdussyukur, unit Filateli PT Pos Indonesia)

Last Modified: 2nd Feb 2021