Ketika Lobster Reinkarnasi

Lobster 7,5 cm itu diam menyendiri di sudut akuarium. Eksoskeleton di belakang kepala terlihat retak. Semakin lama kian lebar. Lalu, tiba-tiba si bongkok itu menghentakkan tubuh. Brak…kepala terkuak, tapi ia tetap meregang. Perlahan tapi pasti akhirnya seluruh “baju” terlepas setelah berjuang selama 4,5 menit.

Melepas eksoskeleton memang tak semudah menanggalkan baju (moulting). Untuk itu butuh tenaga luar biasa besar. Wajar, selesai moulting atau ganti kulit lobster tergolek seperti mati karena kelelahan. Saat berganti rupa itulah nyawanya terancam. Teman-temannya tak segan-segan menyerang. Daging yang masih lunak setelah moulting menjadi santapan empuk dan lezat.

Bacaan Lainnya

“Kendala budidaya, ya pada saat moulting itulah. Sifat kanibalisme lobster tinggi , sehingga kematian bisa mencapai 50%,” ungkap Euis S Djohan,
pengelola Taufan’s Fish Farm di Kedunghalang, Bogor.

Tingkat kematian yang paling tinggi ketika lobster berukuran 4 sampai 5 cm. Risiko itu menurut Euis sulit dihindari karena secara berkala udang berganti kulit, baik juvenil maupun indukan berumur 5 tahun. Dengan moulting itu pula lah lobster tumbuh besar.

Reinkarnasi

eksoskeleton yang baru ditanggalkan

Frekuensi moulting tergantung ukuran lobster. “Biasanya yang berukuran di bawah 3 inci berlangsung setiap bulan induk di atas 4 inci 3 sampai 4 bulan sekali,” ungkap Machfudin, perawat ikan di Taufan,s Fish Farm. Lobster yang akan moulting warna kulitnya tua: Cherax quadricardinatus, merah tua dan Cherax destructor biru tua. Ia selalu berada di luar kendati disediakan PVC atau frame ventilasi tempat persembunyian. Berdasarkan pengamatan Udin, sapaan akrab Machfudin, lobster merah relatif lebih sering moulting ketimbang yang biru.

Penyebabnya tidak diketahui pasti. Lelaki yang sudah menangani lobster sekitar 5 tahun itu menduga kualitas air berpengaruh. Di Bogor yang notabene bersuhu dingin Cherax quadricardinatus lebih cocok. Sebaliknya di Bekasi yang panas, Cherax destructor berkembang optimal.

“Lobster merah lambat besar karena jarang moulting. Kalau pun moulting mengerasnya lama, memakan waktu 3 sampai 4 minggu,” tutur Rudiono Soeharyo, peternak di Taman Modem Cakung, Jakarta Timur.

Padahal, di lingkungan yang cocok dalam waktu 2 hari kulit mengeras kembali. Setelah moulting lobster mengalami reinkarnasi. Penampilan lobster menjadi lebih sempurna: eksoskeleton mengkilap, cupit dan kumis yang putus tumbuh kembali. Dan yang pasti tubuh bertambah panjang serta gerakan lebih lincah. “Capit yang putus tumbuh sama besar setelah moulting. Kecuali untuk lobster berukuran di atas 10 cm, tetap lebih kecil dibanding terdahulu,” ujar Udin.

Proses sederhana

Angka kematian sebetulnya bisa dengan mudah ditekan. Toh, cukup dengan mengisolasi lobster yang tengah moulting. Permasalahan muncul untuk yang dipelihara di bak semen karena sulit dikontrol. Sebab, lobster moulting tidak serentak dan waktunya tidak diketahui pasti. Dalam sehari dari seluruh populasi paling banyak 10% yang moulting secara bersamaan. Itupun jamnya berbeda, ada yang pagi, siang, sore, bahkan malam.

“Setiap hari ada saja yang moulting. Biasanya setelah ganti air,” tambah Udin. Di akuarium relatif mudah diawasi sehingga jarang yang mati. Apalagi populasi terbatas, akuarium 100 cm x 40 cm x 40 cm hanya diisi 25 lobster ukuran 3 sampai 4 cm. Lobster yang tengah ganti kulit segera dipindahkan ke akuarium khusus. Di sini terkumpul lobster-lobster berbagai ukuran.

Udin hanya memasukkan pelet udang untuk lobster moulting. Setelah kulit lepas lobster memang hanya 2 sampai 3 menit berdiam. Selanjutnya mulai beraktivitas walau harus berguling-guling dan berenang tersendat-sendat. Setelah lancar berenang ia mulai makan pelet atau kulit bekas moulting. Dua hari kemudian kulit mengeras, berarti ia siap disatukan dengan teman-teman lainnya.

Pos terkait