Ketika Tanah Kembali Gembur

Hasil panen cabai pada Juli 2018 sebanyak 16 ton/ha membuat Dian Sofyan bergairah. Setahun sebelumnya, pekebun di Kampung Tarikolotdua, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Bogor, Jawa Barat, itu hanya menuai 9,6 ton/ha. Peningkatan hasil itu setelah …

kesuburan tanah

Hasil panen cabai pada Juli 2018 sebanyak 16 ton/ha membuat Dian Sofyan bergairah. Setahun sebelumnya, pekebun di Kampung Tarikolotdua, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Bogor, Jawa Barat, itu hanya menuai 9,6 ton/ha. Peningkatan hasil itu setelah ia mengaplikasikan effective microorganism (EM) setahun silam. “Struktur tanah lebih gembur, zat hara meningkat sehingga pertanaman tumbuh subur. Hama penyakit pun jarang,” katanya.

Beruntung Dian Sofyan memperoleh informasi teknologi itu. Kalau tidak, ia mesti mengeluh lantaran produksi cabai merosot sejak 2 tahun silam. Bagaimana tidak setiap kali musim tanam Dian hanya menuai 8 10 ton/ha. Itu pun kalau tanaman selamat dari serangan hama dan penyakit. Kegagalan acap dialami akibat penyakit layu fusarium. “Tanah lengket dan sulit diolah, kemungkinan menjadi penyebab,” kata anggota kelompok tani Antanan itu.

Pekebun lain di beberapa sentra, seperti Bandungan, Muntilan, Kopeng, Batu, Cipanas, dan Karanganyar juga mulai merasakan hal sama. Hasil panenan mereka terpuruk. Daya tahan tanaman terhadap penyakit pun berkurang. “Itu karena kualitas tanah pada posisi leveling off, sehingga perlu diperbaiki,” kata Djoko Widianto, konsultan pertanian di Yogyakarta.

Budidaya Makin marak

Eksploitasi secara besar-besaran, tanpa mempertimbangkan keseimbangan daya dukung lahan menyebabkan kualitas tanah turun, lalu rusak. Celakanya, begitu tanaman terserang penyakit, pekebun “menghantam” dengan menyemprot pestisida dalam dosis berlebihan. “Manajemen seperti ini jelas tidak menyelesaikan masalah. Bahkan, akan membuat masalah pada hari-hari berikutnya,” ucap alumnus Fakultas Perikanan UPN Veteran, Yogyakarta. Buktinya, beberapa pekebun di Brebes, Jawa Tengah, mengeluh lantaran kadar residu pestisida dalam bawang merah tinggi.

Beberapa pekebun yang sadar akan hal itu mencoba berpaling ke produk-produk yang dapat memperbaiki struktur tanah. Potensi ini akhirnya dilirik beberapa produsen, seperti PT Songgolangit Persada, PT Khalatam Sari Bumi, PT Biotama, dan PT Tani Unggul Sarana. Mereka begitu gencar mempromosikan berbagai merek produk pembenah tanah. “Kalau melihat perkembangannya, permintaan produk-produk pembenah tanah makin meningkat setiap tahun,” kata Adi Saputra, direktur pemasaran Biotama.

Dwi Kartiko, staf lapangan PT Tani Unggul Sarana juga melihat perkembangan pasar produk-produk pembenah tanah cukup bagus. Itu dapat dilihat dari beragam merek yang dijual di pasaran. Namun, di tengah maraknya produk itu sebaiknya ada batasan yang jelas antara pembenah tanah dan pupuk organik. Meskipun keduanya sama-sama bertugas memperbaiki kualitas tanah.

Menurut Djoko Widianto, jika kandungan N di atas 7 termasuk pupuk organik; di bawah 7, pembenah tanah.

Berdasarkan analisis M. Zakky Husein dari PT Songgolangit Persada, prospek produk pembenah tanah cerah di masa datang. Apalagi saat ini banyak konsumen mulai peduli terhadap kesehatan. Isu ramah lingkungan dinilai turut memotivasi. Apalagi harga pembenah tanah murah dan mudah diaplikasikan.

Para pekebun
Pekebun bisa meramu sendiri

Indonesia mestinya meniru pekebun di Chantaburry, Thailand. Mereka mengelola lahan pertanian secara organik sehingga kualitas tanah terjaga. Toh, sayuran dan buah-buahan tumbuh subur tanpa pestisida. “Raja Thailand sangat mendukung program itu. Apalagi, ada semacam mitos siapa pun yang menyelamatkan tanah akan dikaruniai Tuhan,” kata alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Nasional Jakarta itu.

Proses Yang Gampang

Efektifitas produk pembenah tanah tak luput dari peran beberapa bakteri yang terkandung di dalamnya. Di antaranya bakteri fotosintesis, ragi, Lactobacillus, Actinomycetes, dan Streptomyces. Mereka bekerja secara sinergis untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Contohnya, Lactobacillus yang bertugas memfermentasikan bahan organik menjadi senyawa asam laktat agar dapat diserap tanaman. Peran sebagai penghasil antibiotik yang bersifat toksik terhadap penyakit atau patogen dipegang Actinomycetes, dan Streptomyces.

Ada 2 aplikasi dikocor ke lahan atau difermentasikan, tergantung tujuan. Oleh karena itu sebelum dipakai baca petunjuk pemakaian di setiap kemasan. Misalnya, EM-4 keluaran PT Songgolangit Persada perlu difermentasikan selama seminggu agar bakteri bekerja efektif. Ambil 80% bahan organik, seperti jerami dan sekam padi, 10% pupuk kandang, serta 10% dedak halus. Campurkan bahan itu, lalu guyur EM-4 dengan dosis setiap 10 ton bahan butuh 1 liter EM-4. Setelah seminggu, ramuan itu bisa ditebar ke lahan dan siap ditanami.

Pemakaian Bioplasma dan Mitra Tani dari Bio’tama langsung diguyur ke tanaman. Hamony BS dan Chitosan produksi PT Tani Unggul Sarana pun sama. Yang jelas pemakaian produk pembenah tanah relatif mudah. “Ibaratnya, pekebun yang tidak mengenyam pendidikan tinggi pun bisa melakukannya,” kata Zakky.

Proses panjang Dan Berliku

Sayang, dari sekian banyak pekebun belum semua menggunakannya. Pekebun konvensional memilih cara praktis dan instan. Mereka masih berpandangan bila hari ini disemprot, besok harus sudah tampak hasilnya. Padahal, produk pembenah tanah perlu waktu lama. Djoko Widianto memperkirakan butuh sekitar 2—3 tahun untuk memperbaiki tanah “rusak” sehingga pulih seperti semula. “Kalau kerusakan tanah kategori sedang, dalam setahun kembali baik,” katanya.

Fatalnya lagi, beberapa pekebun malah menganggap tanahnya belum bermasalah. Apalagi hasil panen yang didapat setiap perode tanam relatif stabil. Dwi Kartiko menduga itu terjadi karena benih disesuaikan dengan daerah tersebut, termasuk kualitas tanahnya. Padahal, kalau diuji di laboratorium kandungan zat hara dalam tanah menurun, bahkan beberapa unsur hilang.

Untuk itu perlu kesadaran pekebun. Memang sepintas ada penambahan biaya. Namun, kalau mendapatkan hasil maksimal, kenapa tidak. Contohlah, Kidi, pekebun di Cikole, Pandeglang, Banten. Setelah 3 tahun menerapkan EM di lahannya, ia akhirnya tersenyum begitu melihat hasil panen tomat tahun ini, 32 ton/ha; sebelumnya, 20 ton/ha. Dengan harga Rp3.000/kg, berarti Rp96-juta bakal masuk ke koceknya. Keuntungan tinggi, buah bagus, dan kualitas tanah pun teijaga hingga anak cucu. (Mitra)

Document Last Updated on 11 September 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.