Kiat Hobiis Cetak Cupang Jawara

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Cahaya kemenangan bagi cupang andalan seakan tak pernah redup. Di penghujung Agustus 2019, di Bandung, Cupang Jawara milik Irwan kembali menyabet gelar grand champion di kelas senior. Kisah sukses itu ternyata belum berakhir. Kontes di Pelepah Mas, Kelapagading memperebutkan Piala Walikota Jakarta Utara awal September 2019 menjadi pembuktian. Cupang maskot berserit merah kombinasi biru metalik berhasil meraih grand champion di kelas senior. Kebahagiaan dan kebanggaan semakin lengkap saat maskot junior pun menuai gelar yang sama.

Gelar terbaik di setiap kontes cupang sudah menjadi langganan. Sejak mengikuti kontes perdana pada 2000 di Mali Puri Indah, Irwan langsung getol mengikuti kontes. Hampir setiap kontes yang diadakan di tanah air diikuti. Di sana, cupang hasil ternakan meraih gelar grand champion. Wajar bila puluhan piala, plakat, dan sertifikat tersusun rapi di rumah.

Induk berkualitas

Kebanggaan saat meraih gelar di berbagai kontes menjadi motivasi untuk merawat cupang agar menjadi jawara. “Kalau ternak dan menyilang sendiri lalu hasilnya menyabet grand champion, saya sangat puas sekali,” kata Irwan. Tak heran bila pekerjaan utamanya sebagai pengusaha jual beli mobil dan tekstil kadang terbengkalai demi cupang.

Untuk menghasilkan ikan jawara, pemilik Betta 1961 itu sangat selektif dalam memilih indukan saat akan disilangkan. Kondisi indukan termasuk tubuh dan corak sangat menentukan kualitas anakan. Maklum, anakan berkualitas bak bibit unggul untuk meraih juara. Wajar bila kelahiran Jakarta 43 tahun silam itu getol mendatangkan indukan Betta splendens berkualitas dari Thailand selain indukan lokal bermutu tinggi.

Untuk mempersiapkan kontes, mantan pemain lou han itu menyediakan waktu ekstra. Sebelum berangkat bekerja, ia menyempatkan waktu untuk melihat kondisi cupang yang akan bertanding. Memeriksa mental dan kesehatan ikan rutin dilakoni sendiri. Wajar bila kondisi ikan sangat prima saat bertanding.

Air khusus

Seminggu sebelum mengikuti kontes, Irwan sangat telaten dalam melakukan perawatan. Mulai pagi hingga berangkat kantor, ia bersama 2 karyawan rutin mengecek kondisi ikan Cupang Jawara miliknya. Mulai dari kelengkapan serit, wama, tubuh, hingga mental diperiksa secara seksama. Menurut ayah 3 putri itu, ikan hias yang akan bertanding harus mendapat perhatian lebih khusus untuk bisa merebut gelar terbaik.

Perlakuan khusus diterapkan pada si jagoan minimal seminggu sebelum bertanding. Rendaman daun ketapang yang telah disiapkan sebelumnya digunakan sebagai air akuarium. Daun ketapang yang digunakan bukan ketapang biasa. Ia memilih Terminalia katapa yang khusus tumbuh di sekitar pantai. “Lebih bagus untuk kesehatan ikan dan warna tubuh,” katanya. Daun ketapang itu direndam dengan menggunakan air steril dicampur oksigen (O3). Selama perendaman, wadah harus dilengkapi filter untuk membuang kandungan minyak pada permukaan air akibat ketapang.

Untuk di akuarium, rendaman daun ketapang diberikan dengan kompisisi tertentu, ramuan dimasukkan */4 bagian akuarium selebihnya air biasa. Rendaman daun ketapang itu diberikan rutin setiap hari. Maklum, daun itu terkenal sebagai penghasil antibiotik dan penetral pH yang dibutuhkan untuk meningkatkan kondisi cupang. Dua atau 3 hari sebelum lomba, air akuarium diganti air biasa tanpa menggunakan rendaman daun ketapang. “Dikondisikan seperti semula agar ikan tidak stress saat kontes,” kata suami dari Gene Lightle itu.

Jawara kombinasi senior di Bandung
Jawara kombinasi senior di Bandung

Latihan mental

Selain air, pakan juga penting untuk menjadikan Cupang Jawara untuk siap kontes. Setiap pagi dan sore pakan harus diberikan. Bloodworm super yang telah dicincang halus ditambah dengan cuk menjadi menu utama sang jagoan. “Pakan sangat penting. Harus telaten nggak boleh telat,” kata Irwan. Wajar bila pagi hari sebelum bermain tenis, ia menyempatkan waktu untuk memberi pakan dan mengganti air.

Mental ikan pun tak luput untuk selalu dilatih. Maklum, kondisi ikan yang baik tanpa ditopang mental yang bagus, akan mengurangi nilai dalam kontes. Selama sejam sehari, ia

mengumbar sepasang cupang dalam 1 akuarium. Cupang betina ditempatkan terpisah dengan jantan. Menurut pria berkulit putih itu, saat cupang berahi maka si jantan akan ngedok di sekitar betina. “Latihan ini tidak boleh terlalu lama karena dapat menyebabkan ekor, fin atas dan bawah patah,” tutur alumnus arsitek desain interior Amerika Serikat itu.

Meminta pendapat rekan sejawat tentang ikan yang akan diturunkan acap dilakoni. Dari pendapat dan nasehat rekan sesama hobiis, ia bersama cupang andalan semakin mantap untuk mengikuti kontes. Dengan kondisi prima, cupang-cupang hias miliknya siap menekuk pesaing saat kontes.