Kiat Sukses Bertanam Shisito Peppers

Muhammad Saputro, pekebun asal Cipanas tak tertarik lagi bertanam shisito. Meski harga relatif stabil dan tinggi, ia sudah lama tak membudidayakan sayuran asal Jepang ini. “Tak mudah menanamnya, shisito amat peka lingkungan,” keluhnya. Padahal jika …

Muhammad Saputro, pekebun asal Cipanas tak tertarik lagi bertanam shisito. Meski harga relatif stabil dan tinggi, ia sudah lama tak membudidayakan sayuran asal Jepang ini. “Tak mudah menanamnya, shisito amat peka lingkungan,” keluhnya. Padahal jika tahu kuncinya, tentu pekebun bisa mengusahakannya dengan hasil optimum.

Cara konvensional juga pernah dicoba Saung Mirwan, produsen besar shisito. “Hasilnya tak sampai 0,5kg per pohon dan tingkat kematian demikian tinggi,” papar Dudi staf PT Saung Mirwan (SM). Selain itu penampilan buah jauh dari standar. Warna buah kekuningan, ukuran buah pendek, dan berbentuk tak karuan.

Untuk mengatasi hal ini, SM menggunakan budidaya dengan sistem hidroponik substrat. Sedangkan untuk menghindari sifat tanaman yang tak tahan pada sinar matahari langsung dan serangan hama-penyakit, budidaya dilaksanakan dalam greenhouse.

Agar optimal tinggi greenhouse pun minimal sekitar 5,5m. Ternyata hasilnya amat memuaskan. Dengan cara tersebut, produksi tanaman yang bisa dibudidayakan di daerah medium ini bisa dipacu 1,7kg sampai 2,2kg per pohon. Di samping itu, kualitas buah menjadi baik.

Daftar Isi

Tahapan Penyemaian

Masa penyemaian benih selama 28 sampai 30 hari. Sebelum dilaksanakan penyemaian terlebih dahulu disiapkan media semai. Komponennya berupa arang sekam, pasir, dan kompos, perbandingan 1:1:1.

Setelah tercampur merata, media dimasukkan dalam pot semai. Agar steril, media dikukus selama 2 jam sesudah titik didih. Usai pengukusan, pot didinginkan.

Selanjutnya pot ditata di rak persemaian. Lokasinya harus sedikit teduh. Gunakan naungan untuk menyaring terik matahari.

Sementara itu, benih diberi perlakuan agar siap tanam. Karena ukuran relatif kecil, maka benih dengan varietas New Karajizi dari Jepang harus dikecambahkan terlebih dahulu.

Sebelum pengecambahan, benih direndam di air hangat-hangat kuku selama 15 menit. Kemudian diangin-anginkan di atas wadah. Benih siap dikecambahkan.

Untuk mengecambahkan benih, digunakan media yang sama dengan persemaian. Lamanya sekitar 7 sampai 9 hari.

Benih yang telah mengeluarkan kecambah, baru dipindah ke media persemaian. Sekitar 19 sampai 21 hari kemudian, benih telah berubah jadi bibit dan siap ditanam dalam lokasi penanaman permanen.

Selama di persemaian benih harus dirawat secara cermat. Misalnya penyiraman sebanyak 3 sampai 5 kali sehari, tergantung kondisi.

Juga memberikan pupuk, jika tanaman tampak tak subur, atau kompos yang diberikan ternyata kurang baik mutunya. Jarak tanam jangan terlalu rapat. Lakukan penjarangan begitu tampak kurus dan pertumbuhan lambat.

Tak jarang pada tahap ini, bibit telah terserang hama atau penyakit. “Penyakit yang banyak menyerang misalnya rebah batang,” kata Dudi. Untuk itu perlu diberikan fungisida.

Tahapan Penanaman

Bibit berumur 28 sampai 31 hari atau telah mengeluarkan daun sebanyak 6 helai dan tingginya 10 cm, siap dipindah tanamkan.

Tentu saja, sebelum perlakuan ini, lahan dan media telah disiapkan. Untuk itu lahan harus disterilisasi dahulu. Perlakuannya, pembersihan lahan, diberikan fumigasi formalin.

Media tanam digunakan arang sekam sebanyak 2kg per polibag. Ukuran polibag, plastik berdiameter 30cm x 35cm atau 35cm x 40cm. Media tersebut diisikan dalam polibag. Untuk menghindari kontaminasi hama, seperti cacing dan penyakit, sebaiknya berikan Furadan 3G, Dharmafur, atau Curater.

Sebelum dipindah ke tempat penanaman, media disiram dengan nutrisi. Tujuannya lebih sebagai pemberian pupuk dasar. Karena itu, nutrisi yang diberikan umumnya berkonsentrasi lebih pekat, daripada biasa (EC 2,0 ditingkatkan menjadi 3,0).

“Dengan makin pekat, maka akar tanaman makin susah menyerap, akibatnya tanaman akan memacu pertumbuhan lebih kuat,” ucap Dudi. Tak heran bila dengan cara tersebut, perakaran tumbuh dengan baik

Polibag yang telah berisi media lalu diatur dalam lahan dengan jarak tanam 40cm x 60cm. Dalam satu lajur tanam, posisinya zigzag, membentuk pola segi tiga. Selain cara ini, Saung Mirwan menerapkan cara lain, yaitu dalam satu polibag berisi dua tanaman.

Dalam penataan lahan, polibag tak disusun zigzag, tetapi membentuk garis lurus. Jarak tanam tetap dipertahankan 40cm x 60cm. Populasi pun terhitung sama.

Cara penanaman yang kedua ternyata memberi hasil yang tak jauh beda. “Keuntungannya, kita bisa lebih irit pada bahan, seperti media, polibag, dan nutrisi,” tutur Dudi. Jika satu polibag satu tanaman pemberian nutrisi 200cc, polibag yang berisi dua tanaman hanya membutuhkan 300cc.

Pembentukan cabang

Setelah berumur 2 sampai 3 minggu, tanaman diberi ajir. Fungsinya untuk memudahkan tanaman tumbuh merambat. Bersamaan dengan itu dilakukan pembentukan cabang produktif.

Dari pangkal batang, dibentuk 2 cabang. Ranting-ranting yang tumbuh di bagian bawah dipangkas bersih. Melalui cabang produktif ditumbuhkan ruas-ruas penting.

Di bagian tersebut jumlah ruas yang dipertahankan berbeda dengan paprika. Bila paprika jumlah ruas di seluruh ranting dibatasi hanya 3 daun, shisito jumlahnya berlipat. Di ranting pertama (terbawah) jumlah ruas 3, ranting selanjutnya 6, lalu bertambah 9 ruas dan seterusnya.

Dengan cara tersebut energi atau nutrisi yang diserap tak terkonsentrasi atau habis di bagian bawah saja. Perlakuan ini juga memacu pertumbuhan ke arah atas. Tinggi tanaman dipertahankan sampai sekitar 3m pada umur 22 minggu.

Pemupukan dengan cara pemberian nutrisi dilakukan mulai bibit pindah tanam. Dengan metode hidroponik substrat, ada 12 unsur hara yang diberikan.

Terdiri dari bagian A, yaitu Ca, Fe, dan Urea; dan bagian B, yakni KNO3 K2SO4, KH2PO4 Mg, Cu, Boraks, Mo, S, dan Mn. Derajat keasaman (pH) yang dikehendaki 5,5 sampai 6,5. Kadar kepekatan hara yang digunakan sekitar 1,9 sampai 2,2.

Lantaran shisito memiliki karakter berbunga serumah, maka dibutuhkan perlakuan tertentu. Bila di lahan terbuka penyerbukan bisa dibantu dengan angin dan serangga, tapi di dalam greenhouse tanaman harus digoyang-goyang agar terjadi penyerbukan.

Shisito peka terhadap pengaruh lingkungan. Untuk menghindari hama dan penyakit, cara yang dipilih adalah penanaman dengan hidroponik dalam greenhouse.

Meski demikian, tak tertutup kemungkinan masuknya hama. Musuh utama pekebun adalah thrips. Karenanya, “Begitu dalam 10 pohon ditemukan 2 ekor thrips, pengendalian dengan pestisida langsung dilakukan,” tutur Dudi.

Tahap Pemanenan

Panen dilakukan saat buah masih dalam kondisi hijau. Menurut “versi” Saung Mirwan, masa panen efektif sekitar 22 minggu. Meski begitu, tak tertutup kemungkinan sampai umur 25 minggu.

Kriteria buah siap panen yakni warna hijau tua, tampak bernas, saat dipegang buah keras. Bobot masing-masing buah telah mencapai 25g, diameter lem sampai 1,5cm, panjang 6cm sampai 10cm. Buah dipanen secara bertahap, umumnya dimulai dari ranting terbawah.

Pemanenan bisa dilakukan setiap 1 sampai 2 hari sekali atau lebih tergantung kondisi lingkungan saat pembentukan buah berlangsung. Sebagai gambaran, lantaran dipengaruhi oleh intensitas matahari, saat kemarau panen dilakukan 1 sampai 2 hari sekali.

Namun ketika musim hujan tiba, pemanenan hanya bisa dilaksanakan 3 sampai 4 hari sekali. Produksi shisito dengan cara ini bisa mencapai 1,7kg sampai 2,2kg per tanaman.

Document Last Updated on 5 November 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.