Laba Berlipat Dari Minyak Kelapa Murni (VCO)

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
virgin coconut

Meski hasil minyak sudah ditangan, kesibukan Endang tak berhenti sampai di situ. Sore itu deru mesin pemarut kelapa kembali meraung-raung di halaman belakang rumahnya. Dalam hitungan menit, puluhan kilo daging dari sekitar 150 kg butir kelapa hancur luluh.

Setelah diairi, parutan daging diperas. Santan disaring dan ditampung dalam wadah transparan lalu ditutup dan didiamkan. Satu jam berselang krim yang terbentuk dipisahkan dari air. Setelah ditambahkan minyak pancingan dan diaduk, krim didiamkan selama 10 jam hingga menghasilkan minyak.

Bacaan Lainnya

virgin coconut
minyak kelapa buka peluang perkebunan kelapa

Minyak kelapa murni Banyak dicari

Sudah 2 bulan ini Endang dan keluarganya menjadi produsen minyak kelapa murni alias virgin coconut oil (VCO). Dalam sehari tak kurang dari 100-150 butir kelapa diolah. Maklum, “Minyak kelapa mumi kini banyak dicari,” paparnya. Hasil minimal 10 liter minyak per hari habis diambil penampung.

Bahkan, sebanyak 50-100 1 minyak produksi 10 anggota kelompoknya setiap hari juga belum menyumpal permintaan pasar.

PT Arpaa Kifika, Yogyakarta memang butuh banyak. Sekadar contoh, Juni lalu mitra kerja Laboratorium Kimia-Fisika Universitas Gajah Mada, itu mendapatkan order dari konsumen di Jepang sebanyak 16 ton minyak perawan. “Kami juga sedang membuat perjanjian dengan importir Amerika Serikat yang meminta 200 ton VCO untuk Juli-Agustus,” ungkap Dr AH Bambang Setiaji MSc, periset dari lembaga penelitian itu.

Tak hanya Arpaa Kifika yang kelimpungan memenuhi permintaan. Di Sulawesi Utara, bagian Penutupan Tambang PT Newmont Minahasa Raya, kebanjiran permintaan 243.000 liter dari Singapura. Sampai saat ini order belum dipenuhi. Maklum, baru beberapa bulan terakhir perusahaan itu memasyarakatkan teknologi proses VCO bekerjasama dengan The Private Enterprise Participation (PEP) Project. “Kami tak menyangka kalau sampel yang dikirim mendapat tanggapan luar biasa dari pembeli,” papar Anna Mandagi, pendamping konsultan PEP Project.

Bentuk mitra

Menanggapi permintaan itu, PEP Project kini gencar membina pekebun kelapa di sekitar wilayah tambang- Kecamatan Ratatotok dan Kecamatan Belang, Minahasa Selatan. Untuk memperlancar kegiatan, PEP Project memberi bantuan peralatan penunjang proses pengolahan kepada masyarakat. “Dengan perangkat peralatan yang mampu mengolah hingga 2.000 butir kelapa per hari, diharapkan kapasitas produksi kelompok-kelompok binaan bisa mencapai maksimal,” urai Anna Mandagi.

Kemitraan Pengembangan Ekonomi Lokal (KPEL) Sulawesi Utara juga aktif membentuk kelompok-kelompok pengolah VCO. Lantaran derasnya permintaan minyak perawan. Menurut seorang staf KPEL, pesanan di antaranya masuk dari Arab Saudi sebesar 5 ton serta Singapura dan Belanda masing-masing 20 ton per pengiriman. Sayangnya, produksi mitra baru mencapai 5 liter/orang/hari.

Freddy Gosal, perajin di Desa Pakuweru, Kecamatan Tenga, Minahasa Selatan, mengakui, kemampuan produksi masyarakat masih terbatas. “Saat ini kami baru mampu mengolah maksimal 100 butir kelapa/hari,” paparnya. Padahal untuk menghasilkan 1 botol VCO berisi 650 ml saja dibutuhkan 14-15 butir.

Produksi rendah juga masih dialami kelompok-kelompok binaan Laboratorium Kimia-Fisika UGM. Dari 15 kelompok yang aktif memproduksi
VCO di Kecamatan Galur, Kulonprogo, baru 500 liter/hari yang dapat dipasok ke PT Arpaa Kifika. Padahal, target produksi minimal 1.000 1/hari.

virgin coconut
Untung meski diolah dalam skala rumah tangga

Permasalahan Seputar produsen minyak

Diakui Bambang, pembinaan kelompok pengolah memang belum lama berlangsung. Wajar kalau masih banyak pekebun yang gagal mengaplikasikan teknologi pengolahan secara sempumya. Imbasnya, produksi minyak jauh dari yang diharapkan.

Kondisi bahan baku juga mempengaruhi rendemen. Penelitian Barlina Rindengan membuktikan, varietas dan ketuaan kelapa berpengaruh terhadap rendemen minyak. “Rendemen daging setiap varietas berbeda-beda,” paparnya. Makin tebal dan tinggi rendemen dagingnya, makin tinggi minyak dapat diperoleh. Karena itu sebaiknya dipilih jenis kelapa dalam dari varietas berdaging tebal atau jenis hibrida lokal. Bahan baku harus berumur tua, 11-12 bulan, ditandai dengan kulit sabut berwarna cokelat.

Bisnis Yang Menguntungkan

Hadangan kendala tak lantas membuat perajin mundur. Buktinya, pekebun yang tertarik mengolah VCO terus bertambah. “Saat ini 47 kabupaten telah bersedia bermitra dengan kami untuk mengembangkan VCO,” tutur kelahiran Temanggung pada 1949 itu. Mereka tersebar di Lampung, Banten, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Memproduksi VCO memang menguntungkan,” ungkap Endang Sumarsih. Dengan harga jual VCO Rp 9.000/liter saja, usaha itu sudah memberikan nilai tambah yang cukup berarti. Selain minyak kelapa mumi, proses pengolahan juga sekaligus menghasilkan produk ikutan berupa minyak goreng kualitas tinggi, blondo, dan air kelapa.

Pengalaman Endang, dari 100 butir kelapa dihasilkan 10 1 VCO, 2 1 minyak goreng krengseng, 4 kg blondo, dan 40 liter air kelapa. Dengan harga jual VCO Rp 9.000/liter, minyak krengseng Rp 6.000/ liter, blondo Rp 3.500/kg, dan air kelapa Rp l50/liter, minimal ia mendapatkan Rp 122.000. Dengan demikian nilai sebutir kelapa meningkat menjadi Rp l ,220/butir. Kalau pun bahan baku dibeli seharga Rp 900/butir, keuntungan Rp 32.000 per hari masuk ke kantongnya.

Rupiah yang diterima Freddy Gosal di Minahasa lebih tinggi lagi. Di daerahnya VCO laku dijual Rp 15.000/liter. Padahal, harga bahan baku hanya Rp 500/butir. Artinya, dari setiap liter VCO yang diproduksi, ia mendapat keuntungan Rp 7.500-Rp 8.000. Nilai yang menggiurkan bagi pekebun di tengah terpuruknya harga kelapa dan olahan kopranya.

Pos terkait