Leci Maluku: Lacing Yang Terpendam di Sirimau

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
lacing dari maluku

Lacing sampai begitu sebutan masyarakat Maluku untuk leci Litchi sinensis itu Trubus temukan di anjungan Dinas Pertanian Provinsi Maluku pada pameran hortikultura di Jakarta pada Oktober 2004. Dua keranjang bambu dipenuhi leci berwarna merah menarik. Waktu dicicipi, rasanya manis sedikit masam.

Kerabat rambutan itu langsung jadi pusat perhatian. Harap maklum, selama ini leci “makluk langka” di jagad buah-buahan tanah air. Payangan, Bali sekitar 35 km dari Denpasar ke arah timur laut satu-satunya sentra anggota famili Sapindaceae itu. Di daerah berketinggian sekitar 900 m dpi itu leci tumbuh di halaman-halaman rumah penduduk. Sayang, kondisi pohon warisan yang kini berumur ratusan tahun itu kurang terawat. Tanaman pun mulai mogok berbuah.

Bacaan Lainnya

Buah Tepi pantai

buah leci
budidaya leci Lebih menguntungkan daripada cengkih

Kehadiran lacing dari Provinsi Maluku menjadi kian istimewa lantaran adaptif ditanam di dataran rendah. Nun di Desa Nakupia, Kecamatan Teon Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah, buah berwarna merah menyala bergelayutan di ujung-ujung dahan, jadi pemandangan biasa setiap musim raya di penghujung tahun. Padahal desa di Pulau Seram itu cuma berjarak 4 sampai 5 km dari tepi pantai. Posisinya di ketinggian sekitar 50 m dpi. Udaranya cukup panas menyengat.

Toh, pohon-pohon setinggi 8 m tumbuh subur dan rajin berbuah. Padahal lazimnya, leci cocok berkembang di dataran menengah hingga tinggi sekitar 400 sampai 1.000 m dpi.

Menurut Masdar Pawa, staf Subdinas Produksi Pertanian, Dinas Pertanian Provinsi Maluku, kehadiran leci nakupia tak lepas dari sejarah pengembangan di Desa Naku, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Di Pulau Ambon itulah pertama kali leci dikembangkan. Di desa berketinggian 300 sampai 500 m dpi itu dengan mudah 4 sampai 5 pohon berumur puluhan tahun ditemukan di halaman rumah penduduk. Tak ada yang tahu persis asal-usulnya.

Sebut saja misalnya pohon setinggi 12 m di kebun milik Ellie de Fretes. “Tanaman ini warisan dari orang tua, saya tidak tahu persis berapa umurnya,” tutur de Fretes seperti yang ditirukan Pawa. Padahal de Fretes kini berusia 45 tahun. Memang ada juga penanaman baru. Di kebun de Fretes ada tanaman berumur 5 tahun hanya setinggi 1,75 m.

Lacing Batumeja

Saat penduduk Naku merantau ke Pulau Seram pada 1970-an lantaran program transmigrasi, lacing ikut hijrah. Harap mafhum, buat orang Naku leci merupakan buah rahmat pemberian Yang Maha Kuasa. Dari kerabat lengkeng itu mereka mendapatkan rezeki.

Konon hanya orang Naku saja yang bisa menanam dan menuai buahnya. Bila ditanam di daerah lain oleh orang di luar Naku, leci bakal mogok berbuah. “Buat penduduk setempat menanam leci lebih menguntungkan ketimbang cengkih,” ujar Pawa. Ia mencontohkan, dengan harga cengkih saat ini Rp 15.000 per kg, keuntungan dari 10 pohon cengkih sebanding dengan hasil panen 1 pohon leci.

Di lokasi baru bernama Nakupia, bibit yang dibawa menyeberangi lautan selama 2 jam dan menempuh perjalanan darat sejauh 170 km akhirnya ditanam. Meski kondisi iklim relatif berbeda, toh lin-chi sebutan di Thailand mampu beradaptasi. Di setiap kebun, penduduk Nakupia menanam 5 sampai 10 pohon.

Kini saat musim raya pada penghujung tahun, leci dijajakan di pasar-pasar tradisional. Yang terbanyak antara lain di sebuah daerah bernama Batumeja  sekitar 30 menit berkendaraan dari pusat kota Ambon. Buah dikelompokkan 10-10, dijual Rp5.000 sampai Rp10.000

Pos terkait