Lengkeng sang Jenderal “Berlian” Berdaging Kering

Pantas Prayitno memberanikan diri menelpon redaksi. Sudah 3,5 tahun mantan penasehat militer Menteri Pertahanan RI era Matori Abdul Djalil itu merawat lengkeng. Prayitno tak pernah berharap bakal memanen buah cepat. “Selama ini ada anggapan lengkeng berbuah saat berumur puluhan tahun. Itu pun mesti lebih dari 2 pohon (ada bunga jantan dan betina, red). Saya ditertawakan teman-teman di Angkatan Udara waktu membawa 1 bibit lengkeng dari Thailand,” tuturnya.

Merawat tanpa berharap itu berubah 180° pada Februari 2007. Suatu malam Prayitno mengundang beberapa sahabat ke rumah sekadar berpesta kebun. Di tengah jamuan seorang sahabat yang iseng mendekati

Bacaan Lainnya

pohon lengkeng berteriak. “Ini tunas atau bunga,” katanya. Prayitno terkejut dan menghampiri. Benar saja, dari pucuk lengkeng, bermunculan bakal bunga. Malam itu pun menjadi malam terindah bagi lulusan AKABRI Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia 1970 itu.

Sejak itu cinta dan harap Prayitno pada lengkeng kian membuncah. Setiap pagi dari balik kamar mandi yang terletak di  samping tanaman lengkeng dian ayah 3 putra itu melongok perkembangan bunga. Tiga bulan berselang bunga itu bersalin rupa menjadi buah yang siap dicicip. Saat itulah ia membutuhkan kepastian jenis lengkeng yang selama ini dirawat penuh harap.

Kelengkeng Istimewa

Tabulampot lengkeng setinggi 2,5 m itulah yang menyambut Mitra Usaha Tani kala bertandang pada Mei 2007. Tanaman berdiameter batang 5 cm dengan 4 buah cabang utama. Bentuk tajuk cenderung melebar. Bentuk daun, mirip diamond river: lebar, agak panjang, dan tanpa lekukan. Sebanyak 15 dompol memamerkan buah dengan jumlah bervariasi, 5 sampai 41 buah.

Mitra Usaha Tani sedikit kecewa lantaran menduga hanya menemui diamond river. Varietas itu marak dikebunkan sejak 2004 dengan sebuah kelemahan: daging buah tak layak konsumsi! Itu karena daging buah tipis dan becek.

Untuk mengusir kecewa, kulit luar buah pun diamati. Sebuah keunikan kasat mata terlihat, kulit luar bertekstur kasar, seperti kulit buah itoh. Keraguan pun muncul, sehingga buah segera dipetik. Begitu buah dikupas setengah, cairan yang biasa keluar kala mengupas diamond river tak muncul.

Daging buah putih, kering. Saat dicicip, aroma diamond river tetap kentara, tapi keringnya daging buah membuat ketagihan. Benar-benar istimewa! Ukuran buah setara dengan diamond river umumnya. Biji bervariasi, kecil hingga medium. Buah kecil cenderung berbiji kecil, sementara buah besar berbiji besar.

Ketidakpastian itu membuat Mitra Usaha Tani penasaran. Dua tangkai buah dan daun dipetik untuk dibawa pada Eddy Soesanto, penangkar buah di Cijantung, Jakarta Timur. Kejadian serupa pun terulang. “Dari bentuk daun mirip diamond river, tapi dari kulit daging buah seperti itoh. Bila ini diamond river, ini yang paling kering yang pernah saya cicip,” kata pemilik nurseri Tebuwulung itu.

Sungai berlian kering pernah ditemukan di kebun Hendrik Virgilius, di Singkawang, Kalimantan Barat. Bedanya, 2 diamond river milik Hendrik merupakan kelainan dari 178 diamond river yang ditanam .

Tanda tanya

Dari pesta kebun, harapan pada lengkeng bertambah

Munculnya lengkeng mirip diamond river berdaging kering jelas merupakan berita baik. “Bila ternyata ini diamond river, layak dikebunkan,” kata Eddy. Ir Wijaya, MS pakar buah di Bogor, menuturkan: Prayitno betul-betul beruntung. Ia hanya membawa 1 bibit, tapi berkualitas istimewa. Pasalnya, banyak pekebun dan hobiis menanam banyak lengkeng untuk menemukan mutasi yang berkualitas bagus. Lantaran itu, Wijaya menduga, varietas lengkeng milik Prayitno di luar diamond river, pingpong, maupun itoh.

Pendapat Wijaya diamini Dr Moh Reza Tirtawinata, pakar buah dari Taman Wisata Mekarsari. “Di Thailand dan Vietnam banyak varietas lengkeng berkualitas, tapi tak setenar diamond river, pingpong, dan itoh. Dugaan saya itu varietas yang berbeda dengan yang kita kenal selama ini,” katanya.

Reza berargumentasi, diamond driver dan pingpong merupakan 2 lengkeng tropis yang genjah. Dalam 1 sampai 2 tahun berbuah tanpa perlakuan apa pun. Sebaliknya, lengkeng milik Prayitno, baru berbuah pada umur 3,5 tahun. Artinya, lengkeng tersebut sudah keluar dari kelompok lengkeng genjah yang beredar saat ini.

Meski varietas lengkeng milik Prayitno belum dapat dipastikan, kehadirannya membawa kabar baik buat dunia perbuahan di tanahair. Penangkar, pekebun, dan hobiis mendapat berbagai alternatif varietas untuk dikembangkan. “Dibutuhkan pengamatan dan penelitian lebih lanjut agar kestabilan sifat diketahui. Bila ternyata stabil layak untukdikembangkan,” ujar Soeroto, termasuk 2 orang yang kepincut lengkeng sang Jenderal.

Pos terkait