Lobak Hibrida: Dari Korea Manjakan Lidah

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Di dapur sebuah restoran di Melawai, Jakarta Selatan, suatu siang. Seorang koki cekatan memotong dadu lobak daebu berkulit putih berpadu hijau muda. Irisan itu kemudian dicemplungkan ke wadah berisi air mendidih bersama irisan bawang bombay, cabai hijau, jamur shiitake, dan kentang. Beberapa sendok makan doenjang atau tauco khas Korea menambah cita rasa masakan. Aroma sup itu menguar dan membangkitkan selera makan siang.

Itulah sekilas pembuatan sup doenjang cige yang lezat disantap ketika hangat. Masakan negeri Ginseng itu tak lengkap tanpa kehadiran umbi lobak. Kimchi seperti asinan juga membutuhkan daebu. Maklum, aroma Raphanus sativus dari Asia Timur itu beraroma tajam dan segar.

Bacaan Lainnya

Keistimewaan lain, kandungan air daebu sangat rendah sehingga jika digigit terdengar bunyi, kres Renyah sekali. “Rasanya segar dan sedikit pedas,” ujar Karsito yang biasa mengkonsumsi lobak daebu. Selain daebu, Korea Selatan juga mempunyai lobak lain yang tak kalah istimewa seperti altari, tae baek, dan yulmu. Lobak-lobak pendatang itu kini dikembangkan di Lembang, Kabupaten Bandung. Inilah sosok mereka.

Altari

Bentuk unik altari
Sosok umbinya sangat unik, mirip botol yang bagian bawahnya menggembung. Lazimnya umbi lobak berbentuk rata panjang atau membulat. Panjang altari 10—15 cm dengan diameter 5—7 cm. Kulit luar putih polos, seperti daging buahnya putih bersih. Karena itulah ia disebut juga korean white radish.

Tekstur buah padat dan renyah. “Rasanya segar walaupun sedikit pedas,” ujar Karsito. Bobotnya dapat mencapai 200— 300 g rimpang. Sayuran itu dapat disantap segar atau dibuat acar khas korea yang pedas menggoda.

Tae baek

Inilah lobak super besar lantaran bobot per umbinya bisa mencapai 5 kg. Penampilannya cantik dengan bahu bersemburat hijau. Bagai umbi diberi kostum hijau putih. Rasanya tak jauh berbeda dengan altari. Ia kerap disajikan sebagai kaktugi (asinan, red).Diameter umbi 10—15 cm. Kandungan airnya tinggi. Untuk menghilangkan getah, masakan diramu dengan proses fermentasi.

Daebu


Ia sering disebut lobak panjang karena ukurannya mencapai 30—50 cm. Diameter umbi 7—10 cm. Warna kulit mirip tae bek, putih bersih bersemburat hijau di bagian atas. Kalau tidak suka umbinya, daun daebu pun siap disantap.

Di negara asalnya daebu tumbuh pada musim panas. Cocok dikebunkan di dataran tinggi. Di tanah air ia tak mengenal musim. Tekstur dagingnya amat lembut dan lezat. Biasanya disantap segar atau menjadi campuran dalam menu salad

Yulmu

Berbeda dengan tiga rekannya, yulmu hanya diambil daunnya. Ia tumbuh hampir tidak berumbi, cuma akar yang sedikit menggelembung. Bentuk daun lanset bergelombang bak ombak dengan warna hijau cerah. Dalam satu tanaman terdapat 10—15 tangkai daun yang merumpun.

“Cocok bila dipadukan dengan mie kuah atau bakso,” ujar Karsito. Rasanya mirip sawi hijau di tanah air, hanya saja aromanya lebih menggigit. Oleh orang korea yulmu kerap disajikan dalam bentuk acar alias kimchi. Dengan paduan gochugaru (bubuk cabai, red), yulmu kimchi menantang sang pencicip.

Dikebunkan


Kehadiran Raphartus sativus asal Korea itu makin menyemarakkan kancah sayuran di tanah air. “Tak jarang, warga Indonesia turut membeli,” ujar Marliana dari pasar swalayan korea, New Seoul, di bilangan Melawai, Jakarta Selatan. Pasar swalayan itu mampu menyerap 30 kg/hari untuk setiap jenis lobak. Tanaman semusim itu sangat digemari di negara asalnya. Untuk menuntaskan rasa rindu ekspatriat korea kini banyak yang mengebunkannya.

Pasaran lobak yang terbuka lebar membuat Youn Sup Kim turut berkebun setahun yang lalu. Dari lahan 1.000 m2 di Cikole, Lembang, itu rutin dikirim 3 kuintal per minggu ke restoran atau pasar swalayan korea di Jakarta dan Bandung. “Bibit masih diimpor langsung dari Korea,” ujar Mr Kim, demikian ia akrab disapa. Iklim Indonesia ternyata amat pas dengan pertumbuhan lobak-lobak itu.

Anggota Cruciferae itu ditanam dalam bedengan. Mr Kim membuat 10 m x 2 m bedengan yang terdiri dari 6 baris tanaman. Jarak antartanaman 20—30 cm. Lobak-lobak itu tidak memerlukan pemeliharaan intensif, cukup diberi nutrisi hidroponik.

Dengan umur tanaman singkat, hanya 30 hari, lobak-lobak itu siap panen. Harganya Rp5.000—Rp15.000/kg. Kini tidak hanya dari Lembang, pekebun di Sukabumi pun bermunculan. Jadi siapkan lidah kita digoyang oleh sang empat sekawan.

Pos terkait