Lobster Top Dari Lembah Baliem

Black tiger, sang harimau air

Tiba di Bogor, setelah melalui 10 jam perjalanan, tialo sebutan lobster di Papua Barat dicemplungkan ke bak berukuran 1 m x 1 m. Masing-masing bak berisi 8—10 ekor. Sejak itu Budi rutin menyambangi Lembah Baliem tiap triwulan untuk memboyong lobster berkulit cokelat gelap. Selain membudidayakannya, eksportir reptil itu mengirim 20 ekor untuk koleganya di Jerman. Berkat tampilannya yang unik huna sebutan lobster di Papua menjadi buruan kolektor.

Awalnya Budi membudidayakan red claw, lobster asal Australia. Namun, keinginannya untuk membudidayakan lobster lokal demikian besar, sehingga pilihannya beralih ke huna. Lobster tangkapan alam itu siap jual tanpa harus dibesarkan dulu. Jika ingin membesarkan, suhu menjadi hambatan. Dibutuhkan suhu rendah 15—18° C. Untuk itu, di luar habitat aslinya suhu air harus diturunkan. Di antaranya digunakan chiller atau bak penampungan berdinding keramik.

Anggota famili Parastacidae lokal Papua itu berpotensi mengisi ceruk pasar lobster konsumsi. Selain ia tumbuh bongsor dan lebih cepat, 4 kulitnya lunak sehingga pas untuk dikonsumsi. Seekor dapat mencapai ukuran 30 cm berbobot 300— 400 g. Selain itu huna bersifat omnivora yang juga menyantap bahan alami seperti tanaman air dan plankton sebagai pakan . Namun, keterbatasannya di alam perlu diimbangi dengan budidaya intensif. Balai Budidaya Air Tawar (BBAT), Selabintana, Sukabumi, membudidayakan huna. Di perairan Papua yang tersebar di Kabupaten Jayawijaya, Sorong, Merauke, dan Timika rekan-rekan huna ikut meramaikan dunia lobster Indonesia. Inilah sosok mereka.

Cherax lorentzi

C. lorentzi, warna mencolok dan cantik

Lobster ini begitu cantik dengan perpaduan warna ungu, merah, dan biru di tubuh. Bagian chephalothorax (bagian kepala sampai dada, red) memiliki capit ekstra besar seperti C. destructor. Warna capit biru mencolok dengan garis putih kekuningan bagian luar sisi capit. Bagian atas kepala bersemburat merah keunguan hingga ke bagian abdomen seperti warna anggur. “Ia diminati para hobiis karena warnanya yang mencolok dan cantik,” ujar Frisca Prasetyo Wibowo, peternak di Malang, Jawa Timur. Sosoknya makin cantik dengan ekor yang mengembang bersemburat biru.

Uniknya lobster asal Papua itu vegetarian. Ia hanya doyan umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, dan tanaman air. Di habitat aslinya ia kerap menyantap akar bakau. Ia cocok dikembangkan di air bersuhu rendah 18—20° C. Ukuran 3—4 inci mencapai Rp750.000 per set yang terdiri dari 5 betina dan 3 jantan.

Cherax preissii (Black tiger)

Cherax preissii

Sesuai namanya, ia menyerupai harimau loreng. Bagian atas abdomen berwarna kuning dan hitam berpadu serasi. Loreng makin jelas bila dewasa. Warna kuning hitam bergantian di tiap segmen pleura alias ruas-ruas di punggungnya. Ukuran capit proporsional dengan kepalanya dengan warna biru bergaris merah di sisi mirip red claw.

Menurut Frisca, jenis ini tergolong langka. Oleh karena itu harganya relatif tinggi, Rp400-ribu ukuran 7—8 cm per ekor. Ukuran maksimalnya bisa mencapai 25— 30 cm. Rostrum (tonjolan depan kepala, red) pendek dengan posisi mendatar seperti yang dimiliki huna. Kurun hidupnya di perairan Papua mencapai puluhan tahun. Bagi para hobiis yang ingin menjadikan black tiger sebagai klangenan mesti bersabar karena tidak mudah untuk memperolehnya.

Cherax albertisii

Huna, lobster lokal Papua

Sosok lobster ini paling mirip red claw. Hanya saja capitnya berukuran mungil. Bentuk tubuhnya lebih ceper dan membulat. Proporsi Chephalotorax dan abdomen seimbang. Ciri lain, cangkang birunya bersemu hijau. Telson (ekor kembang, red) berwarna hijau terdiri dari 5 lengkungan. Harga satu setnya mencapai Rp700-ribu pada ukuran 3 inci.

Ia termasuk lobster yang sulit dibudidayakan karena gampang stres.

Untuk mengatasinya berikan banyak tempat persembunyian baik di akuarium maupun di kolam. Jenisnya antara lain pipa PVC, lubang ventilasi dari keramik, dan tanaman air berpopulasi padat. Ia tergolong karnivora dan menyukai ikan, cacing, maupun pelet. Albertisii adaptif untuk dibudidayakan di luar perairan Papua. Di Surabaya, Malang, dan Jakarta mudah ditemukan lobster bercorak biru itu.