Lomba Terbang Merpati Pos 900 km

merpati balap

Tepat pukul 11.15, Henry tiba di Barakuda Bird Farm, Taman Kopo Indah, Bandung, Jawa Barat. Seorang perawat burung menyambut kedatangan paket itu. Begitu kardus berukuran 20 cm x 30 cm dibuka tampak 2 piyik umur sebulan. Satu per satu diangkat, lalu dicek kelengkapan organ tubuh dan kesehatannya. Identitas setiap burung dicatat: nomor ring dan warna bulu. Columbidae sp itu peserta terakhir yang harus masuk ke kandang nasional.

Kandang berdinding tembok itu terbagi dalam 2 kamar, masing-masing berukuran 2,5 m x 4 m. Setiap kamar dihuni 100 merpati pos. Kandang itu dilengkapi tempat tidur terbuat dari papan kayu yang disusun secara paralel, masing-masing berukuran 20 cm x 20 cm. Setiap burung menempati 1 kamar. Pintu untuk keluar-masuk berada di depan kandang. Pakannya pun selalu tersedia sepanjang waktu di wadah terbuat dari tripleks.

Rencananya, piyik kiriman Henry Yin akan adu cepat terbang pada Juni 2005. Lomba itu bakal diikuti 200 burung dari berbagai daerah, seperti Bandung, Jakarta, Purwokerto, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Ponorogo. Bahkan, kontestan dari Bengkulu pun turut Latihan bertahap

Kandang karantina

kandang merpati pos
DI sinilah burung keluar-masuk

Menurut Ridwan Heryanto kandang nasional itu menjadi inovasi baru di merpati pos. Lazimnya, burung yang dilepas di pos tertentu bakal pulang ke kandang masing-masing. Kini, merpati pos harus kembali ke kandang yang telah ditentukan, kandang nasional. “Dengan cara ini permainan semakin seru,” kata penanggung jawab kandang nasional.

Burung wajib “indekos” di kandang itu sejak Oktober 2004 hingga Juni 2005. Bak pemain bulutungkis yang akan berlomba, setiap kontestan harus mengikuti latihan. Maklum, burung yang masuk umumnya belia dan baru belajar terbang. Mereka beradaptasi terlebih dulu dengan lingkungan selama 5 bulan. “Burung harus nyaman tinggal di sana. Setiap burung punya kamar sendiri,” kata Ridwan.

Setelah melewati masa penyesuaian, latihan dilakukan pada April 2005. Latihan mental dan adu cepat menjadi menu peserta setiap minggu. Lokasi pertama dipilih Tanjungsari, Sumedang, yang berjarak 29 km dari Bandung.

Setelah itu lokasi dipindah ke Nyalindung, Sumedang yang berjarak 55 km, lalu dilanjutkan ke Kadipaten, Majalengka (68 km). Latihan terakhir di Losari, Cirebon berjarak 138 km. “Meski baru latihan, mereka sudah diuji kecepatan waktu dan ketepatan lokasi,” kata salah satu personil Elang Klub, organisasi penggemar merpati pos di Bandung, Jawa Barat.

Pengalaman Ridwan semua peserta pasti kembali ke kandang. “Umur 6 bulan dianggap cukup untuk mengenali kandangnya. Biasanya mereka terbang terlalu jauh atau ketinggalan akibat hujan atau angin, sehingga menghambat kecepatan terbang burung,” tutur pemain merpati pos puluhan tahun itu.

Jaga stamina

Kondisi merpati pos harus sehat. Jadi, burung yang masuk ke kandang harus diperiksa kesehatannya. Bila terlihat sakit langsung ditolak untuk mencegah penularan ke burung lain. “Burung wajib divaksin terlebih dahulu,” kata pemasok bahan kimia itu.

Selama masa penggemblengan, kesehatan burung diperhatikan setiap hari. Peran perawat berpengalaman sangat diperlukan untuk mengkontrol kondisi setiap burung. “Kalau terlihat gejala sakit segera dipindah ke kandang karantina,” katanya.

Menurut Ridwan masa rawan penyakit pada Desember Januari. Pada musim penghujan biasanya muncul penyakit, seperti berak darah, patek, dan kutil. Ghoham alias tenggorokan putih dan berak hijau pun kadang mengintai burung. Penyakit itu masih bisa disembuhkan dan tidak mengganggu kondisi burung. Dengan perawatan intensif, burung masih layak ikut kontes. Tapi, kalau terserang ND atau berak darah, burung harus diganti,” tubirnya.

Stamina burung harus terjaga dengan baik. Pakan bernutrisi lengkap diberikan sebagai menu sehari-hari. Ridwan meramu pakan, antara lain jagung 50%, beras merah 25%, gabah 10%, kacang tanah 7,5%, dan kacang hijau 7,5%. Pemberian minuman sarat multivitamin juga ditambahkan untuk menunjang burung tetap fit.

Siap tanding

box merpati balapSetelah digembleng selama 1,5 sampai 2 bulan, merpati pos pun siap bertanding. Kelak, pada lomba yang digelar pada Juni 2005, mereka harus melewati 3 pos, Semarang, Lasem, dan Surabaya. Rencananya, sprinter itu dilepas pada pagi, pukul 07.00 di setiap pos. Dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam sampai 120 km/jam, setiap kontestan diperkirakan tiba 3 sampai 4 jam kemudian di kandang.

Setiap burung yang “mendarat” pertama segera diambil. Cincin hijau yang ada di kaki dicopot satu per satu, lalu dimasukkan ke lubang jam burung Benzing yang khusus diimpor dari Belgia. Begitu cincin karet dimasukkan ke lubang, maka secara otomatis pada cincin tertera waktu, jam, menit, dan detik. Jadi, waktu kedatangan burung sama sekali tidak bisa direkayasa.

Repotnya bila burung yang datang lebih dari seekor. Untuk itu penentuan sang pemenang diserahkan pada seorang juri profesional yang ditunjuk Persatuan Olahraga Merpati Pos Seluruh Indonesia (POMSI). “Permainan ini semakin seru dan lebih menegangkan. Apalagi, semua hobiis kumpul di sini (Bandung, red),” ujar Ridwan.

Maklum, pertandingan merpati pos termasuk hobi mahal dan bergengsi. Untuk ikut bermain, hobiis harus rela merogoh kocek Rp250.000/burung. Biaya itu sudah termasuk ongkos perawatan, latihan, dan pelepasan di 3 pos. Namun, pengorbanan itu sebanding dengan kepuasaan dan kebanggaan bila jagoan menang. Hadiah puluhan juta rupiah masuk ke kantong. Harga burung pun terdongkrak bila menang.

Last Modified: 22nd Jan 2021