Luar Biasa! 66 Ton Panen Kentang per Hektar

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
lahan perkebunan kentang

Memperluas lahan 4 kali lipat. Begitulah keputusan Yuli Sungkono, pekebun kentang di Tosari, Pasuruan. Menurut perhitungannya, ia bakal menangguk laba Rp536.400.000 dari penanaman 6 ha. Produktivitas yang dicapai Yuli memang luar biasa, 66 ton per hektar. Padahal rata-rata produktivitas pekebun kentang nasional cuma 15-18 ton.

Lahan Yuli Sungkono di Desa Ngawu, Kec. Tosari, berketinggian 1.400 m dpi. Dengan produktivitas 66 ton per hektar, “Dilempar dengan Rpl.000/kg pun tak masalah. Sudah ada keuntungan Rp30-juta,” papar petani kentang sejak 1983 itu. Apalagi jika dihargai Rp2.000 per kg, laba yang diraih makin berlipat.

Ketinggian lahan 1.400 m dpi memang menguntungkan bagi Yuli. Sebab, dengan suhu lebih rendah, energi yang diperlukan untuk pertumbuhannya juga lebih sedikit.
Dengan demikian karbohidrat hasil fotosintesis akan lebih banyak tersimpan sebagai cadangan makanan. Apalagi jika penyinaran matahari yang diterima bisa panjang.

Yang juga menikmati produktivitas tinggi ialah H. Kusnan. Akhir Januari ia memanen 46 ton granola dari 1 hektar lahan di Nongkojajar berketinggian 850 m dpi. “Setiap tanaman menghasilkan minimal 1,4 kg,” papar ketua Koperasi Setia Kawan Nongkojajar itu. Padahal produksi setiap tanaman 12-22 umbi.

Sekitar 5-8 umbi di antaranya berkualitas super. Malah, panen sebulan kemudian ia mendapatkan hasil lebih baik. “Ada tanaman yang produksinya mencapai 2,3 kg,” ungkap Kusnan ketika ditemui di kantor koperasi.

Karena itulah petani kentang di lereng Gunung Bromo, Pasuruan kini bergairah menanam kentang. Banyak petani membuka areal baru. Pasalnya, produktivitas kebun di sana kini meningkat. Dari rata-rata 15 ton/ha, kini melonjak tajam hingga menembus angka 40 ton/ha.

Seleksi Kualitas bibit

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari teknik budidaya pekebun Nongkojajar. Populasi tanaman sama dengan pekebun lain, 30.000-35.000 tanaman per ha dengan jarak 80 cm x 25 cm atau 80 cm x 30 cm. Mereka menggunakan pupuk kandang 2-3 ton/ ha sebagai pupuk dasar. Pupuk susulan berupa 8-9 NPK kwintal.

Kunci sukses Kusnan justru pada kualitas bibit. “Kami menggunakan bibit bebas penyakit,” jelas Kusnan. Oleh karena itu pertumbuhan dan produksi tanaman bisa maksimal.

Sebelum menggunakan bibit produksi Lake Jasper Property, Australia, produktivitas di daerah itu hanya 15 ton/ha. “Awal-awalnya sih bagus, bisa 20-25 ton/ha. Lama-lama produksi terus merosot hingga 12 ton,” kata Kusnan.

Memang pekebun Nongkojajar tidak langsung beralih menggunakan bibit asal Perth, Australia Barat itu. Mereka melihat dulu hasil ujicoba penanaman di Tosari pada Maret 2000. Hasilnya memuaskan, hasil panen mencapai 32 ton/ha sehingga mereka pun tertarik mencoba.

Seleksi Asal bibit

Wildan Mustofa, pekebun kentang di Pangalengan, juga sepakat, bibit berkualitas menjamin produktivitas lebih baik. Menurutnya, bibit bagus
meningkatkan produksi minimal 20- 30%. Apalagi jika bibit bebas penyakit, “Produksi bisa meningkat hingga 100%,” urai manajer produksi PD Hikmah itu. Menggunakan bibit G4 sebagai bibit sebar memang tidak masalah. Sebab, di negara lain pun bibit G5 dan G6 pun masih dipakai. Masalahnya, lahan kentang di Indonesia banyak yang sudah terinfeksi, sehingga kualitas umbi turun. Infeksi penyakit menurunkan produktivitas rata-rata 15% per generasi.

Negara asal bibit juga memberi pengaruh. Selama ini kentang yang banyak ditanam petani kita di introduksi dari Amerika Serikat atau Eropa, negara-negara berlintang tinggi (di atas 45°, red) yang memiliki hari panjang. Di sana memang produktivitas kentang tinggi. Produktivitas Belanda, misalnya, rata-rata
40 ton, Amerika Serikat 33 ton, dan Eropa Timur 30 ton. Intensitas cahaya matahari yang lama menjadi penyebab.

Sayangnya benih asal negara-negara Eropa jika ditanam di Indonesia produksinya melorot. Menurut Wildan, di Indonesia umumnya cahaya matahari hanya diterima tak lebih dari 12 jam, berbeda dengan negeri asal benih. Oleh karena itu kentang asal daerah subtropis sulit berproduksi maksimal seperti di tempat asal, ketika ditanam di negeri tropis seperti Indonesia.

Itulah sebabnya, untuk mendapatkan produksi tinggi, petani sebaiknya menanam kentang yang toleran terhadap hari pendek. Ia pun tidak menyangsikan adanya peningkatan produktivitas jika menggunakan bibit dari Australia Barat seperti diterapkan pekebun Nongkojajar. Sebab, kondisi iklim Australia Barat memang mirip Indonesia.

Iwan Gunawan, bagian ekspor Lake Jasper Certified Seed Potatoes berpendapat, dengan teknologi budidaya yang baik, hasil panen minimal 40 ton/ha dapat diperoleh. Sebab, lahan kentang di Indonesia kebanyakan lempung berpasir,suhu 28°-35°C, dan penyinaran matahari pendek. Kondisi itu tak beda dengan Australia Barat.

bibit kentang
lahan produktif dengan bibit baru

Analisis tanah

Yang juga kurang diperhatikan pekebun adalah analisa tanah sebelum ditanami. “Bagaimana kita bisa tahu kekurangannya kalau tidak tahu kondisi tanahnya,” tegasnya. Akhirnya pemupukan pun membabi buta, tanpa memperhatikan unsur yang paling diperlukan. Akibatnya, pertumbuhan dan produktivitas tanaman tidak maksimal meski rutin dipupuk.

Wildan menyarankan analisis rutin setiap 5-10 tahun, dan analisa unsur tertentu setiap 2 tahun. Dengan begitu, pemupukan efektif. dan mampu meningkatkan produksi minimal 15%. Malah, dibarengi sistem pengairan yang baik produksi dapat digenjot hingga 30%.

Hindari menanam kentang di lereng terjal atau tanah berteras sempit. Sebab, akan menyulitkan penyemprotan pestisida untuk mengatasi serangan penyakit. Kalau perlu, lakukan penanaman di areal baru yang belum terinfeksi penyakit guna mendapatkan produksi tinggi. Jika tidak, lakukan rotasi dengan tanaman lain di luar famili Solanaceae, minimal 8 bulan untuk memutus siklus penyakit. Malah, Lake Jasper Property, kebun kentang milik Thomas Fox di Pemberton Australia Barat dirotasi selama 6 tahun. Wajar jika bibit produksinya bebas penyakit.

Lahan kentang di Nongkojajar mampu berproduksi 46 ton/ha. Di Desa Ngawu Kecamatan Tosari,
malah produksi mencapai 66 ton/ha. Padahal, penanaman dilakukan November 2001 saat musim hujan. Prestasi ini mendorong H. Imam Utomo, Gubernur Jawa Timur berkunjung ke sana untuk

melakukan panen perdana di areal seluas 10 ha di dua lokasi itu.Hasil produksi yang dicapai petani di lereng Gunung Bromo itu memang luar biasa. Pasalnya, produksi kentang di tanah air umumnya hanya 15-18 ton.

Ditanam di musim kemarau saat ancaman penyakit berkurang pun produksi granola paling banter hanya 30-35 ton. Tak heran jika Imam Utomo tertarik membantu petani kentang disana. “Kalau memang menguntungkan petani, kami akan mengusahakan bantuan pengadaan bibit,” papar gubernur di hadapan Direktur Benih Hortikultura Departemen Pertanian, Soeroto.

Bisnis yang Menguntungkan

Menurut H. Kusnan, Ketua Koperasi Setia Kawan Nongkojajar, bibit kentang produksi tinggi sangat diharapkan petani. Sebab, biaya produksi per hektar mencapai Rp36-juta. “Dengan harga Rp2.000/kg saat ini, petani tak bisa untung jika produksi hanya mencapai 18 ton/ha.”

Kusnan mengaku, tingginya produksi diperoleh setelah mereka menggunakan bibit kentang Fox. Bibit produksi Lake Jasper Property itu dikenal sebagai bibit bebas penyakit. “Lahan kentang di sana benar-benar terisolir dari penyakit,” jelas Kusnan yang memelopori penanaman kentang Fox di sana.

Sebenarnya Kusnan tidak sengaja menemukan produsen kentang yang berlokasi di Perth, Australia Barat itu. Sebab, kunjungannya ke Perth pada 1999 lalu hanya untuk mencari bakalan sapi perah untuk keperluan anggota koperasi susu yang dipimpinnya.

Ternyata, Lake Jasper Property, peternakan sapi relasinya juga memproduksi bibit kentang bermutu. “Namanya malah tercantum dalam daftar produsen terbaik yang direkomendasi Australian Potato Industry.”

la pun tertarik membawa pulang bibit granola produksi Fox untuk dicoba ditanam di kebunnya. Hasilnya, kentang yang ditanam Maret 2000 itu ternyata mampu
menghasilkan 32 ton/ha. Dari situlah ia tertarik untuk serius mengembangkan. Petani lain pun ikut tertarik, hingga ia langsung memesan 1 kontainer bibit untuk ditanam di lahan 10 ha. Kini, para petani kentang Nongkojajar pun mendatangkan lagi 2 kontainer bibit granola untuk ditanam di lahan 25 ha.

Selain granola, jenis lain pun menunjukkan produksi tinggi. Misal Riverina Russet yang menghasilkan 1,7kg/ tanaman di Nongkojajar. Begitu pula Dawmor dan Atlantik, produksinya 1,4kg/tanaman.