Madonna, Penerus Tahta Jawara Nasional

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Lomba nasional HUT RI Cup di Pluit, Jakarta Utara, medio Agustus 2002 menobatkan Madonna sebagai perkutut jawara baru. Burung milik Andre Andrianto itu menyingkirkan 285 kandidat dari berbagai daerah. Di ajang bergengsi itu Madonna bakal meneruskan tahta kebesaran yang selama ini dipegang Misteri Bahari, Mysteri Cinta, Turbo III, Euro 2000, dan Susi Susanti.

Mereka raja kontes era 2000-2001 yang kini sudah masuk kandang. Meski perkutut berharga ratusan juta rupiah itu masuk kandang, bukan berarti Madonna melenggang dalam meraih mahkota juara. Persaingan ketat juga tak terelakkan. Sekadar menyebut beberapa kompetitor hadir Unirace, Tanjung Sutera, Panser, Naga Mas, Naga Dharma, dan Den Bagus. Mereka sudah malang-melintang di berbagai konkurs.

Kehadiran mereka tak menyurutkan nyali burung andalan Selancar Bird Farm Jakarta itu. Sejak dikerek burung ring KT B-3 itu mendominasi jalannya lomba. Babak demi babak burung di gantangan 94 itu selalu mendapat perhatian juri. Panser yang berada di gantangan 17 hanya mampu menandingi hingga babak ke-3. Di babak terakhir Madonna langsung “tancap gas” dengan mengeluarkan suara khas.

Padahal, prestasi Madonna hanya meraih juara II di kontes Solo, Jawa Tpnoah ni kontes regional itu ia kalah pamor dari Panser milik Andrianto Lembono dari Selancar Bird Farm, Surabaya. Namun, posisi itu berbalik , begitu kontes di Jakarta. “Kelebihannya volume besar, suara depan, tengah, dan irama bagus,” kata Andre. Dari hasil penilaian juri Madonna diberi nilai 9 untuk suara tengah, Panser 8,5. Itulah sebabnya Madonna menang.

Naga Mas andalan Halim Yahya. Bandung, yang sejak awal sudah gacor duluan gagal menandingi Madonna Burung jagoan Grand Master Halim Bird Farm itu bercokol di urutan ke-3. Nasib tragis dialami Den Bagus. Jagoan Peper. asal Purwokerto itu pun tak mampu membendung perlawanan Madonna. Ia malah terpuruk di urutan ke-12.

Yang diunggulkan juara malah tersingkir. Itu dialami Unirace, perkutut kebanggaan Hendrik asal Surabaya Juara Gubernur DKI Jakarta Cup Jun 2002 itu diam seribu bahasa sejak dikerek hingga turun gantangan. Peserta yang menyaksikan jalannya lomba mengakui keandalan kedua Madonna. “Setiap babak Madonna selalu tampil prima. Prediksi saya dia bakal meraih juara,” kata Iwan Santoso kepada Mitra Usaha Tani saat lomba berlangsung. Perkutut koleksinya, Fujiyama hanya menyabet juara 7.

Yunior ramai

kontes perkutut
Tim selancar menyabet 2 juara

Persaingan ketat juga terjadi di kelas dewasa yunior. Hingga babak ke-3 berakhir, 3 perkutut meraih nilai sama. Tiga jagoan Blue Arwana, Goyang Sumatra, dan Elang Mas memperlihatkan pamornya sebagai burung juara.

Memasuki babak terakhir Elang Mas tampil memukau. Begitu juri masuk ke lapangan, burung milik H.A Toha asal Sidoarjo itu langsung gacor. Pada menit-menit terakhir gacoran Elang Mas kian “gila” sehingga mencuri perhatian juri. Blue Arwana tak bisa mengejar Elang Mas. Andalan Awong dari Pekanbaru itu hanya meraih peringkat ke-2. Goyang Sumatra kepunyaan TOW Bird Farm di urutan ke-3.

Di kontes akbar itu Nurul Huda sulit mempertahankan prestasi juara. Bulan sebelumnya ia meraih mahkota juara pada kontes Gubernur DKI Cup. Prestasi perkutut milik Slamet asal Jakarta itu melorot pada urutan ke-4.

Dewi fortuna juga menjauh dari pelawak kondang. Seruling milik Nurbuat. Burung ring Kythavin itu tak mampu berbuat banyak hingga babak ke-4 berakhir. Prestasinya anjlok di urutan ke-10.

Cukup sukses

Banyaknya perkutut juara yang tampil di even besar itu “mogok” berbunyi bukan lantaran kualitas suara jelek, tapi mental beberapa burung turun. “Di kontes ini jagoan saya jarang sekali berbunyi. Padahal, kalau sedang bunyi suaranya berkelas” kata Sukamto, perawat di Rocky Bird Farm sambil menunjuk Tiara.

Meskipun begitu Sukamto puas ketika Tiara diumumkan peringkat 31 di kelas dewasa senior.

Menurut Sukamto mental burung berperanan penting. Itu terbentuk dari perawatan yang baik dan sering ikut kontes. “Tiara jam terbangnya masih hitungan j ari,” tegasnya. Suara penonton mengacaukan mental burung. Wajar, bila burung yang menempati posisi di tengah lapangan berpeluang meraih juara.

Namun, Andrianto Lembono menepis anggapan itu. “Burung berkelas tidak bakal goyah mendengar suara riuh penonton. Ia tetap akan kerja. Kenyataannya Panser berada di pinggir lapangan meraih juara II,” kata Guan An, panggilannya. Contoh lain, Elang Mas,Blue Arwana, dan Goyang Sumatra berada di pinggir lapangan.

Kendati ada suara sumbang mengenai jalannya kontes, konkurs nasional kali ini cukup sukses. Itu terlihat dari cara juri menilai setiap kontestan. Hingga babak ke-4 berakhir tak ada protes dari peserta. “Penjurian kontes ini cukup fair,” komentar Halim, pemilik Naga Mas yang menyabet juara ke-3 di kelas dewasa senior.

Kesuksesan itu karena panitia menugaskan beberapa orang sebagai dewan pengawas di lapangan. “Kehadiran mereka sangat penting untuk memantau juri dalam menilai burung. Dengan begitu juri akan lebih objektif memberi nilai,” kata Edi Sofyan, penanggungjawab kontes.