Makassar Koi Show 2019: Shiro Utsuri Juara

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Shiro utsuri

Putri Sabrina pantas bangga. Shiro utsuri 70 cm-nya dinobatkan sebagai grand champion. Sebuah kemenangan yang sudah bisa diramalkan lantaran dari 5 koi yang bersaing, 3 di antaranya milik Sabrina. Sepuluh koi lain miliknya pun menjuarai berbagai kelas lain.

first Makassar Koi Show. Itulah ajang pertama pemilihan koi berkualitas di Makassar. Lomba yang diikuti 123 koi itu dibagi dalam 6 kelas dengan dominasi kohaku, diikuti showa dan sanke.

Sejak semula shiro utsuri itu sudah diduga akan meraih gelar terhormat. Dari segi ukuran saja, di kelas dewasa, ia paling besar. Saat bertarung memperebutkan predikat grand champion, ia bersaing dengan kohaku Syanette Tungka dan uci basigure andalan Charles Limawan. Dua kandidat lain dari kelas showa dan taisho tidak perlu diperhitungkan karena mereka pun koi milik Sabrina.

Lima juri akhirnya memilih shiro utsuri sebagai juara dengan total nilai 400. ”’Body perfect, wama kontras, pattern bagus, dan kesehatan baik Pantas ia dinobatkan sebagai juara,” ujar Johan Kusthio. “Uci basigure juga bagus, tapi menurut aturan di Jepang tidak bisa grand champion.

Hanya gosanke saja yang bisa dinobatkan sebagai koi terbaik,” tambah grand juri itu. Kekecewaan Charles Limawan karena gagal meraih predikat terbaik di ukuran jumbo akhirnya terobati. Kohaku 23 cm-nya menggaet gelar baby champion. “Keseimbangan corak dan warna bagus. Body-pun tampak elegan. Kiwa jelas dan warna kontras,” tutur S. Ramli, sang juri. Empat kriteria itu, body, warna, pattern, dan kesehatan memang menjadi patokan penilaian. Masing-masing diberi bobot 40, 20, 20, dan 10.

Meskipun harus mengakui keunggulan Sabrina saat memperebutkan gelar grand champion, Syanette Tungka tetap gembira. Gelar juara I dan II di kelas kohaku 40-55 cm disabetnya. Ia pun merajai kelas taisho ukuran 40-55 cm.

koi Shiro utsuri
Shiro utsuri grand champion

Kelas small

Selain kelas dewasa (di atas 55 cm), diperebutkan pula 68 piala untuk kelas di bawah 25 cm, 25-40 cm, 40- 55 cm. Pada setiap kelas dipertandingkan kohaku, showa, taisho, tancho, shiro utsuri, dan campuran.

Mitra Usaha Tani menyaksikan, kontestan sebagian besar bertarung di kelas small. Kelas dewasa hanya diikuti rata-rata 3-4 ekor koi. Sebuah fenomena wajar sebagai awal mulai maraknya koi di Makassar. Kendatipun yang bertarung kebanyakan koi kelas small, tetapi kualitasnya memadai. Banyak di antara peserta yang membawa koi asal Jepang, meskipun dibeli dari para distributor di Jawa.

Pertarungan di kelas small cukup seru. Juaranya ialah kohaku berumur 6 bulan milik Richard. Ia bersaing dengan 18 peserta lain. Di babak penentuan, sang juara menyisihkan 5 rival utama, seperti taisho-nya Richard Woenarso, showa andalan H. Mauli Kasmi, dan shiroutsuri-nya M. Tazmir Karim.

“Meskipun tidak champion, saya bangga ikan hasil ternakkan sendiri bisa bersaing di kontes,” ujar Richard. Di kelas mixed, untuk ukuran 25 cm ke bawah, koi A. Alwi Syiam memborong gelar. Andi Haries, penggemar koi dari Kabupaten Barru, 100 km ke arah utara Makassar, hanya memboyong predikat juara III untuk tancho sanke- nya. Taisho 40 cm gagal berprestasi. “Piala itu bisa saya banggakan di kampung halaman dan bisa ditiru peternak lain,” tutur camat Sopeng Riaja, Barru itu.

Cukup puas

koi untuk show
Memilih koi untuk show

“Memilih koi untuk show ternyata tidak gampang. Perlu ketelitian dan jeli memprediksi perkembangan,” kata Tasrif Zain. Pemilik Pesona Taman Dahlia Indah ini mengomentari prestasi koi-koinya. Ia menyertakan koi di kelas 55 cm, kelas 25-40 cm, dan kelas mixed ukuran 55 cm. Hasilnya, tancho 55 cm-nya cuma dianugerahi gelar juara III. Padahal, bundaran merah di kepala tampil sempurna. Ikan kebanggaan Tasrif Zein ini hanya kalah ukuran tubuh daripada tancho Syanette Tungka yang meraih gelar juara I. Sementara peringkat II direbut koi Putri Sabrina.

Di kelas 25-40 cm, 3 showa-nya hanya satu yang berhasil menjadi juara I. Bahkan dua goromo di kelas mixed 55 cm hanya satu yang menjadi juara II. Nasib lebih tragis dialami Kayan Seneng Adnyana. Ia tersenyum kecut mendengar namanya tidak tercatat dalam daftar juara.

Tiga koi di kelas 25 cm, showa, taisho, dan shu shui tak satu pun berprestasi. “Ikan memang tidak dipersiapkan maksimal. Saya hanya berpartisipasi saja,” ucap pemilik Singaraja Advertising itu.

Acara 1st Makassar koi show 2002 merupakan ajang bergengsi yang pertama kali diselenggarakan di Makassar. Peserta sebagian besar berasal dari Sulawesi Selatan. Acara berlangsung meriah. Antusiasme pengunjung tinggi sekali. Terbukti arena kontes demikian padat ketika penilaian koi usai.

Arifin Sarfa, kepala dinas perikanan provinsi Sulawesi Selatan turut hadir menyaksikan acara. “Saya sangat mendukung setiap usaha di bidang perikanan yang terbentuk dari bawah. Pemerintah hanya bisa mendukung dan mendorong agar lebih maju,” kata saijana peternakan itu.

Lomba yang diselenggarakan 9-10 Maret 2002 itu sekaligus menjadi acara peresmian dan pelantikan Makassar Koi Club. Dengan terbentuknya klub, “Tujuan kita tercapai, yaitu ingin memasyarakatkan koi di Makassar,” kata Norisen Horas, sang ketua.