Mendulang Laba Dari Labu Jepang

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
labu jepang

Memperluas areal penanaman kabocha menjadi keputusan Agus Suhendar. Laba pang ditangguk pekebun di Cikole, Kabupaten Bandung, itu tentu bakal menggelembung. Dengan 10,5 ha penanaman saja, saat ini ia memperoleh untung bersih Rp 42-juta dalam 3 bulan. Perluasan itu untuk memenuhi permintaan 7,5 ton per hari.

Padahal sekarang Agus Suhendar hanya mampu memanen 8 ton per minggu. Produksi itu hanya cukup melayani permintaan beberapa pasar swalayan di Bandung dan pemasok di Cianjur. Setiap hari mereka meminta pasokan 500 kg. Permintaan beberapa pemasok pasar swalayan lain sebesar 1 ton per hari masuk daftar tunggu. Demikian juga sebuah pabrik pengolah di Lembang, Bandung, yang meminta 6 ton per hari mesti antre.

Pabrik itu, PT Sun Ya Sai, berdiri 4 tahun silam. Perusahaan asal Jepang itu pada akhir tahun ini berencana mengolah kabocha. Menurut General Advisor Sun Ya Sai, Muhammad Firman, kebutuhan perusahaan mencapai 200 ton kabocha segar per hari. Sederet permintaan itulah yang mendorong Agus berencana memperluas areal penanaman.

Hujan & susut bobot

Labu Jepang
kebun labu

Tak semua pekebun seberuntung Agus Suhendar. Contoh Basuki, yang menanam kabocha di Cipanas, Cianjur, seluas 0,5 ha. setahun lalu tanaman yang mulai berbuah itu membusuk akibat guyuran hujan tiada henti. Tak satu tanaman pun dapat terselamatkan hingga Rp5-juta biaya produksi sirna. Ancaman serangan penyakit pada musim hujan kendala yang hingga saat ini sulit diatasi. Maklum, anggota famili Cucurbitaceae itu dibudidayakan di luar greenhouse. Itulah sebabnya saat itu banyak permintaan tak terlayani.

Di luar musim hujan, hambatan memproduksi kabocha memang relatif kecil. Apalagi sayauran buah itu tergolong baru di Indonesia. Menurut Benny Kusumayadi, dari PT Cibodas Mandiri, pemasok aneka sayuran dataran tinggi, kabocha marak di Indonesia sejak 2 tahun lalu. Wajar jika kasus pekebun yang gagal relatif jarang ditemukan. Kendala lain susut bobot dalam penyimpanan.

Meski kabocha tahan simpang 6 bulan, “Itu sangat berisiko bobot turun hingga 20%,” kata Mastur, pengelola PT Pacet Segar. Ia paling lama menyimpan sepekan. Namun, menurut Benny Kusumayadi susut bobot teijadi jika disimpan lebih dari sebulan. Selain di sektor budidaya, hambatan lain berupa pemasaran.

Ketika daya beli masyarakat melemah, menurut Mastur, sulit memasarkan kabocha. Beberapa bulan terakhir pasokan Mastur Fuad turun separuhnya dari sebelumnya 100 kg per hari. Hal serupa dialami H. Muhammad Saputro dan Benny Kusumayadi dengan volume setara.

Akhir tahun ditunggu

Walau begitu 5 pedagang yang dihubungi Mitra Usaha Tani sepakat, permintaan selalu melonjak menjelang Ramadhan. “Bulan puasa permintaan kabocha meningkat hingga 50-100%,” ujar H. Muhammad Saputro. Lonjakan permintaan lantaran, “Orang yang biasanya tak mengkonsumsi, pada bulan puasa membuat kolak kabocha karena rasanya lezat,” kata Saputro. Melambungnya serapan pasar juga diikuti oleh harga hingga 20%.

Kondisi itu bertahan meski Ramadhan berlalu. November-Maret permintaan dan harga tetap melambung. Sayang, tak mudah untuk melayani permintaan lantaran bertepatan dengan musim hujan. Pasar sayuran buah itu juga meluas. Jika semula hanya di kalangan tertentu, saat ini pasar tradisional pun menyerap labu jepang itu.

Apep Tarmidi, pedagang di Lembang, setiap hari mampu memasarkan 10-30 kg. Harga ditawarkan, Rp4.000 saat ramai pasokan dan Rp6.000 per kg ketika sepi. Ia membuka kios di tepi jalan di Cikole, dekat lokasi pariwisata Tangkubanprahu. Walau varietas delica-berkulit hijau dengan semburat putih kekuningan-lebih enak, tetapi konsumen justru menyukai berkulit oranye. Karena penampilan lebih menarik kabocha oranye acapkali dimanfaatkan sebagai oleh-oleh. Tarmidi yang juga pekebun sering kekurangan pasokan. Soalnya, ia dan rata-rata pekebun lain di Lembang hanya membudidayakan kabocha di lahan 5.000 m2.

Lahan itu tak semuanya diperuntukkan bagi kabocha. Pekebun menumpang-sarikan dengan sayuran lain. Cucurbita moschata itu ditanam di tepian guludan secara zig-zag. Dari luasan itu alokasi untuk kerabat labu parang paling banter 600 tanaman. Tiga bulan berselang pekebun menerima Rp2,7-juta dari
penjualan 2 ton. Modal relatif kecil, hanya Rp35O.OOO untuk pembelian 10 pak benih berisi masing-masing 60 biji.

Dalam penanaman monokultur biaya produksi hanya Rp 1.200-Rp 1.500 per tanaman. Dengan harga Rp2.000 per kg pekebun jelas untung. Sebab, setiap tanaman menghasilkan 1-3 kg. Menurut Agus Suhendar pekebun tertarik membudidayakan kabocha karena, “Biaya dan risiko rendah, harga relatif tinggi. Selain itu masih sedikit pesaing.”

Buah labu jepang
Buah labu

Jalin kemitraan

Agus Suhendar yang mengelola 10,5 ha bermitra dengan 3 kelompok tani dan seorang pekebun. Lahan tersebar di Ciwidey dan Garut masing-masing 3 ha, selebihnya di Cikole. “Benih, pupuk, pestisida saya sediakan,” ujar Agus. Setelah panen pendapatan mereka dipotong biaya produksi yang mencapai Rpl.500 per kg. Kemitraan itu berlangsung sejak 3 tahun lalu.

Varietas yang dikembangkan, delica untuk kabocha hijau; sungreen, oranye. Dengan jarak tanam 60 cm x 40 cm populasi per ha 4.000 tanaman. Agar dihasilkan produk bermutu Agus memberikan penyuluhan teknologi budidaya. Pantas jika dari rata-rata produktivitas 8 ton per ha 90% memenuhi standar kualitas A. Pada awal penanaman hanya 60%. Selebihnya 25% B dan 15% C. Satu tanaman hanya dipertahankan 1 buah berbobot rata-rata 2 kg. Standar mutu A, berbobot lebih dari 2 kg per buah, B 1,2-2 kg, dan C 1 kg. Seluruh produk yang dihasilkan plasma ditampung Agus dengan kesepakatan harga di awal perjanjian.

Saat ini harga beli untuk masing-masing kelas adalah Rp2.000, Rpl.500, dan Rp 1.000 per kilogram. Dengan harga itu total jenderal pendapatan pekebun plasma Rpl3.800.000 per ha. Setelah dikurangi biaya produksi Rp6-juta-pada awal penanaman dipinjami Agus-laba yang diraup pekebun Rp7.800.000 per ha. Keuntungan belum memperhitungkan biaya tenaga kerja. Sementara Agus Suhendar menjual ke pemasok pasar swalayan Rp3.000-Rp3.500 per kg. Dengan demikian laba yang ditangguk Rp4-juta-Rp8-juta per ha.

Raksasa Chiang Bo 50 Kg per Buah

Lazimnya bobot kabocha hanya 2-3 kg per buah. Iwan Young, pekebun di Lembang, Kabupaten Bandung, menuai kabocha berbobot 30-50 kg. Buah tahan simpan 6-12 bulan lantaran terbungkus kulit keras. Selain sosok raksasa, daya tarik lain warna kulit yang oranye berbercak putih.

Varietas chiang bo asal Jepang itu lebih banyak dimanfaatkan sebagai pajangan ketimbang dikonsumsi. Maklum, daging buah yang kuning jika diolah hancur seperti bubur. Cita-rasa juga kurang enak. Meski demikian bukan berarti kabocha raksasa itu tanfa manfaat. Anggota famili Cucurbitaceae itu berfaedah sebagai wadah koktail atau nasi.

Itu setelah buah dipotong horizontal menjadi 2 bagian. Daging buah dibersihkan dari kulit setebal 3-5 mm. Setelah itu kabocha siap digunakan sebagai tempat nasi yang antik. Bijinya diolah menjadi kuaci, kudapan yang nikmat saat menonton televisi.

Iwan Yong pertama kli menanam pada 2000. Kini di bagian tengah halaman rumah seluas 20 m2 berketinggian 1.000 m dpi tersisa 4 tanaman tua. Daun cokelat, tetapi masih bergelayut 10 buah berbobot antara 10-20 kg.

Beberapa buah telah dipanen berbobot 20-30 kg. Iwan memperoleh bibit dari Jepang. Setelah ditanam di Lembang labu itu tumbuh subur. Sayang buah kemudian terserang virus. Dari lahan 20 m2 m ia bisa menghasilkan 4 kuital. Syaratnya, tentu saja sering dipupuk karena raksasa itu rakus hara.

Menurut ahli tekstil itu virus jadi kendala sehingga buah sulit besar. Bila terserang virus, buah langsung dipanen, “Karena tidak besar lagi,” ujar pria Taiwan yang menikah dengan mojang Bandung itu.

Kabocha besar hanya pas ditanam di dataran tinggi. Di dataran rendah rentan serangan virus. Iwan berencana menanam di tempat yang lebih tinggi, 1.400 m dpi. Apalagi permintaan telah ada, 5 buah per minggu, dengan harga Rp3.000/kg.