Mengail Pasar Di Aquarama

aquarama international fish competition

Mulyadi pantas masygul. Seratus ikan berharga $SinlO setara Rp58.000/ekor itu ia peroleh dari 7 indukan. Ia membutuhkan 30 indukan untuk memenuhi banjir permintaan dari para pengunjung Aquarama Singapura. Padahal, Puntius denisonii itu sulit diperoleh. Dulu penangkar ikan hias dari Bandung itu mendapatkannya dari eksportir ikan hias di Bandung.

Di Aquarama 2015, Puntius denisonii tampil sebagai ikan hias new variety. Saat dipamerkan di dinding akuarium tampak biodata sang ikan: panjang 15 cm, ditemukan Mei 2006, asal India. Di sana pula buyer-buyer dari negara Uni Eropa tertangkap mata sering menatap dan mengabadikan sosok ikan cantik bergaris stream line hitam dan merah memanjang mulai dari mulut hingga pangkal ekor itu lewat kamera saku.

Kehadiran Puntius denisonii di anjungan Indonesia itu sebuah kejutan. India memang tidak hadir di sana, Lumbini Aquaria Wayamba LTD, eksportir ikan hias di Balika Mawatha, Srilangka, sering menampilkan ikan-ikan hias baru asal India. Namun, kali ini puntius tidak masuk daftar display. “Kami tidak membawa karena saat ini tangkapan dari alam sedikit,” kata Vibhu Perera, manajer operasional.

Inilah kesempatan besar. Puntius yang diboyong Ignatius Mulyadi adalah hasil penangkaran. Mulyadi kondang sebagai ahli pemijahan. Sejak Oktober 2006 setidaknya sudah 4 kali ia berhasil memijahkan 2 jantan dan 5 betina berumur 4 tahun sepanjang 4 sampai 5 inci. ”Ini keberuntungan karena tidak setiap pemijahan mulus,” ujarnya. Dengan kelulusan hidup 80%, rata-rata diperoleh 1.000 sampai 2.000 burayak/bulan, yang dijual pada umur 3,5 bulan atau panjang 2 inci.

Kebanjiran order dari aquarama

Yang juga kebanjiran order adalah Herman Oei. Padahal eksportir aneka ikan hias tawar di Tangerang itu hanya mempromosikan diskus. “Ada permintaan dari 3 perusahaan di Australia. Itu belum permintaan lisan dari Iran, Afrika Selatan, dan Nigeria,” kata nahkoda Asher Tropical Fish Farm itu. Pembeli negeri Kangguru itu total meminta 20 boks. Jenisnya antara lain leopard, super leopard snake skin, dan lettertorquise. “Harga per ekor disepakati sekitar US$2,5,” tambahnya.

Ikan unggulan tanahair, siluk superred, ramai peminat. Stan tunggal arwana di anjungan Indonesia, Elkindo Farm, ramai dikerumuni pengunjung. “Mereka berminat pada arwana berukuran 15 cm,” kata Edo Kristanto, pemilik. Bila dibandingkan 5 stan lain penjual ikan khayangan asal Singapura dan Malaysia, sampai superred kulakan Edo dijual murah, ukuran 15 cm $Sin850/ekor. Aro Dynasti dari negeri Singa baru melepas seharga US$1.000/ekor. “Superred kita lebih bagus anatomi dan kecerahan warnanya,” ujar Edo berpromosi.

Beberapa importir yang diwawancarai Mitra Usaha Tani menyatakan minat mendatangkan ikan dari Indonesia. “Kenapa tidak, bila ikan dari negeri Anda lebih baik dari harga dan kualitasnya,” kata G. Aubeeluck dari Republik Mauritius. Pemilik Aqualife di kota Curepipe itu rajin mengimpor maskoki dan aneka siklid sejak 12 tahun lalu. Aubeeluck menyebut angka 150 sampai 200 boks/bulan. Pasokan itu dikirim dari Aqua Fauna Fish Industries Pte LTD milik Fong Ching Loon di Lim Chu Kang, Singapura.

Hans Berger dari Jerman menunjukkan ketertarikan mendatangkan ikan dan tanaman air dari tanahair. Alasannya, ikan dan tanaman air dari Indonesia lebih murah. “Di negara kami aquascaping sekarang sangat disukai, dan itu pasti membutuhkan ikan dan tanaman air dalam jumlah banyak,” ujar manajer operasional Hans Pets di kota Stuttgart itu. Sekali belanja Hans bisa menghabiskan 2.000 sampai 3.000 euro.

kontes aquarama di singapura
Indonesia saat ini berada di peringkat 6 eksportir ikan hias dunia. Untuk memperbaiki peringkat itu, perlu upaya lebih keras dari peternak dan eksportir, serta dukungan pemerintah.

Jaga kualitas

Kualitas dan kontinuitas selalu menjadi kunci keberhasilan ekspor. Itu pula yang dituntut banyak importir. “Klien kami selalu bertambah karena kami berani menjamin kualitas ikan yang dikirim secara rutin,” kata Ming Tzung Liu, direktur operasional Liu Tropical Fish Co LTD dari Rende Shiang, Taiwan, yang rutin memasok ke Eropa dan Amerika.

Bagaimana di tanahair? Titi Chia dari Batam Fish Aquarium di Batam menuturkan peternak Indonesia tidak stabil menjaga kualitas ikan. Titi mencontohkan, ia “terpaksa” menerbangkan koi-koi berukuran 20 cm dari Tropical Art di Singapura untuk dijual di tokonya di bilangan Nagoya. Padahal, Blitar di Jawa Timur adalah gudang pencetak koi lokal. “Koi dari sini (Singapura, red) bisa langsung dijual karena kesehatannya terjamin. Untuk lokal, seringkali harus di karantina minimal 3 hari karena sering didapati membawa bibit penyakit. Itu cukup mengganggu perputaran uang,” ujarnya.

Menurut Hendra Iwan Putra eksportir sudah pasti menjaga kualitas dan kontinuitas ikan. “Itu lagu wajib kalau mau usahanya langgeng,” ujar sekretaris jenderal Asosiasi Eksportir Ikan Hias Indonesia (INA-FISH) itu. Kehadiran jenis baru juga penting menggenjot ekspor. “Banyak platy dan guppy baru yang perlu diternak oleh kita karena permintaan dunia tinggi.

Apalagi pemainnya sedikit, hanya Srilanka dan Singapura,” tuturnya. Dari sekitar 30 jenis guppy baru 7 jenis yang dikembangkan di tanahair.

Sarana Pemasaran Yang efektif

siklid warna warni
siklid warna warni andalan stand thailand

Aquarama memang ajang prestisius sehingga pelaku ikan hias merasa wajib hadir di even 2 tahunan itu. “Datang ke sini merupakan kesempatan emas untuk mengetahui perkembangan ikan hias dunia dan teknologi,” kata Clark Larry, manajer Hollwood Fish Farm dari Selandia Baru. Itu penting karena di Selandia Baru persaingan antarpemain ikan hias sangat ketat. Dengan kata lain sedikit saja ketinggalan informasi, pendapatan bisa menurun.

David Tilling dari Inggris ingin sekali berjumpa pemasoknya dari Singapura. “Saya sering mengimpor tetra dan corydoras melalui internet,” ujarnya. Lewat Aquarama, David berkesempatan bertemu pemilik bahkan dapat berkunjung ke farmnya. Lain lagi maksud kedatangan Jap Khiat Bun. “Saya cuma ingin bertemu kawan lama saja,” kata pemilik CV Maju Aquarium di Cibinong, Bogor itu.

Yang patut disesalkan, anjungan . Indonesia tidak didesain I maksimal seperti anjungan negara lain. Display ikan unggulan minim, bahkan terkesan lebih banyak bagi-bagi brosur. Padahal, menurut Hendra Iwan Putra, cantiknya anjungan dipadu display ikan yang menarik pasti mengundang buyer datang dan ujung-ujungnya mau bertransaksi. Jika itu dilakukan bukan tak mungkin asa Dr Martani Huseini, dirjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan DKP untuk memperbaiki peringkat Indonesia dari urutan ke-6 eksportir ikan hias dunia tercapai.

Last Modified: 9th Des 2020