Menthailandkan Buah Indonesia

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
buah thailand

Sebuah advertorial Mitra Usaha Tani Maret lalu mengenai Exotic Thai Fruits Tour mengingatkan saya akan negara berpenduduk 8 juta orang. Suatu seminar selama 3 hari di Bangkok menyisakan suatu kenangan buat saya. Di sana saya terpana melihat buah-buah segar Thailand yang disajikan.

Buah-buah itu tak dihidangkan sekadarnya, tetapi diukir indah. Kesegaran dan kenikmatan rasa buah melengkapi penampilannya Kekaguman saya makin menjadi kala melihat penjual durian kaki lima dan penjaja buah dingin. Mereka menawarkan buah yang sekelas dengan toko buah atau swalayan di Indonesia. Kualitasnya sangat bagus untuk ukuran orang Indonesia.

Meski jenis sama, tetapi kualitaslah yang membedakan. Durian monthong- meski masih setengah matang untuk ukuran Indonesia-begitu nikmatnya. Daging buah yang tebal dan hampir tidak berbiji, demikian menggiurkan. Jambu biji sangat enak lantaran tanpa rasa pahit,
berukuran serba besar. Belum lagi mangga dan rambutan yang legit nan nikmat.

Saat kembali ke tanah air, saya dihadapkan pada kenyataan lain. Buah Indonesia tampil dengan kualitas apa adanya. Ambil contoh jeruk Brastagi. Walau citarasa manis, tetapi penampilan terkesan jorok. Itu lantaran penampilan kulit tidak mulus, bekas serangan thrips.

Anehnya, konon durian, rambutan, jambu air, dan mangga bangkok asal-usulnya justru dari Indoneisa. Kalau sudah demikian mengapa mereka bisa begitu cepat berkembang? Atau malah Indonesia yang jalan di tempat? Begitu tak berdayanya Indonesia menghasilkan komoditas berkualitas. Suatu pertanyaan lagi muncul, bagaimana dan dari mana kita harus memulainya?

Kebijakan pemerintah

Bisa jadi perhatian pemerintah yang terfokus pada pemenuhan kebutuhan beras adalah penyebabnya. Ironisnya, kesejahteraan petani padi tak berarti baik, sebaliknya semakin mundur karena peningkatan harga sarana produksi. Di sisi lain, hortikultura Indonesia malah terabaikan dan selalu tertinggal. Padahal Dirjen Bina Produksi Hortikultura sebenarnya telah menetapkan buah-buah unggulan nasional dan daerah.

Saat ini yang harus segera dilakukan ialah pemetaan area. Tentunya pengembangan disesuaikan dengan iklim dan kondisi tanah suatu daerah. Kalau dipilah, markisa prioritas pengembangan di Sumut, Jabar, dan Sulsel. Jeruk (Sumut, Sumbar, Jabar, Jatim, dan Kalbar); durian (Jabar, Lampung, Sumut, Kaltim); manggis (Jabar, Sumbar, dan Sumut); salak (Jateng dan Bali), Matoa (Irian dan penyebaran di Jawa); dan mangga (Jabar dan Jateng).

Pemetaan area tidak akan menjadi kenyataan kalau tidak ditindaklanjuti. Perlu pihak lain yang mendukung program itu. Pertama, kalangan perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia. Di Thailand, Kasetsart University sangat dikenal sebagai universitas terbaik di bidang pertanian. Universitas itu, tulang punggung pengembangan buah-buah tropik di Thailand.

Selain di Solok, Sumatera Barat, dibutuhkan 5-6 lagi instansi penelitian tanaman buah. Misalnya penelitian buah di Sumut, Jabar, Jateng, Jatim, Kalimantan dan Sulawesi untuk mendukung pengembangan tanaman buah lebih cepat. Pusat Kajian Buah Tropis yang dimotori Dr. Ir. Roedhy Poerwanto di IPB, perlu didukung oleh sebanyak mungkin peminat buah-buahan

Sebagai perbandingan, perkembangan pesat buah di Thailand juga didukung oleh pusat-pusat penelitian buah yang berjumlah 6-7 institusi. Salah satu yang terkenal, Chantaburi Horticultural Research Center, yang dikenal biangnya penelitian durian, rambutan, dan manggis.

salak thailand
Buah salak thailand

Klon unggulan

Pemerintah, dalam hal ini Dirjen Bina Produksi Hortikultura hams memiliki arah pengembangan buah tropik khas Indonesia. Pengembangan terutama difokuskan pada klon-klon unggulan. Tak perlu banyak, cukup 4-5 klon yang sudah dilepas Pemerintah.

Selain itu, disediakan pula fasilitas pelatihan teknik budidaya (termasuk , pengendalian hama dan penyakit) secara benar. Dengan demikian tak lagi diproduksi buah dari hasil penanaman ala kadar seperti durian, rambutan, markisa, dan jeruk.

Swasta pun dilibatkan dalam mewujudkan pengembangan tanaman buah Indonesia mulai dari pengadaan bibit/ klon unggul, pelaksanaan, hingga pemasarannya. Caranya, dengan memberi kemudahan dalam pengembangan tanaman buah. Yang terjadi saat ini, para pengusaha harus berjuang sendiri mencari teknologi yang tepat untuk budidaya. Sekadar menyebut nama, Bernard Sadhani di durian; Soetanto untuk melon, pisang, pepaya, dan durian; Irawan Yuwono di belimbing

Yang tak kalah penting artinya adalah masalah pengawasan. Tidak ada artinya perencanaan yang baik, tanpa diimbangi pengawasan. Sebagai contoh, tindakan korupsi oknum-oknum pelaksana dalam penyaluran bibit/benih berkualitas. Juga manipulasi bibit buah-buahan yang bakal merugikan kita semua. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang ditanggung bila gedong gincu yang ditanam sekian tahun ternyata hanya berbuah mangga gedong biasa.

Dari sisi pemasaran, dikenal 4 P yaitu product, price, place (distribution) dan promotion. Produk, jelas sudah kita kupas habis. Price atau harga jual amat tergantung kualitas produk. Place atau saluran distribusi, salah satu kunci keberhasilan pengembangan tanaman buah. Promotion atau promosi, hal yang juga sangat penting

Jujur kita lihat promosi tanaman buah kita ke mancanegara masih sangat minim. Pemerintah dan swasta harus bekerja sama membangun jaringan informasi mengenai tanaman buah kita. Sangat sulit kita dapatkan situs lokal yang memuat tanaman buah Indonesia beserta foto-fotonya.

Bagaimanapun mimpi dalam 5 tahun bisa saja terwujud Setidaknya, dibutuhkan keinginan kuat dari pemerintah, swasta dan institusi-institusi terkait untuk membangun pengembangan tanaman buah di Indonesia. Harapannya, ada langkah konkrit dan target yang dicapai baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang secara berkesinambungan. Kita rindu menyaksikan jeruk brastagi, matoa irian, salak sleman, durian petruk, mangga gedong gincu menjadi primadona tidak hanya di dalam negeri,tetapi juga di luar negeri.