Mereka Datang Disambut “Ngaben”

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Kotak besi berukuran l,5mxlm yang dipenuhi benih jagung dari Thailand perlahan terkerek. Di ketinggian 3 meter kotak berhenti sejenak. Kemudian di depannya mulut tungku menganga lebar dan menelan isi kotak. Lidah api menjilati dan melumat hingga benih menjadi abu. Benih jagung terpaksa dimusnahkan lantaran terinfeksi bakteri Erwinia stewartii.

Kehadiran Erwinia stewartii, si penumpang gelap asal negeri Siam terlacak oleh Stasiun Karantina Tumbuhan Soekarno-Hatta (SKT-SH). Makhluk superkecil itu ditelusuri keberadaannya dengan teknik Elisa (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay). Bakteri anggota famili Enterobacteriaceae itu termasuk organisme pengganggu tumbuhan kategori Al golongan 1.

Artinya ia belum ada di Indonesia dan tanpa harus melalui perlakuan mesti dihancurkan. Itulah sebabnya awal Agustus 2004 sekitar 204 kg benih jagung yang terinfeksi dimusnahkan di incenerator PT Angkasa Pura II Jakarta. Selain jagung, 76 kg benih padi dan 485 kg benih gandum juga dihancurkan.

Tak lengkap

Sosok Tilletia foetida superkecil
Sosok Tilletia toetida superkecil1

Menurut Kepala Laboratorium SKT-SH, Iman Suryaman gandum terinfeksi Tilletia foetida dan T caries. Sepuluh varietas gandum asal negeri Anak Benua, India, dilahap si jago merah. Cendawan anggota famili Tilletiaceae itu terdeteksi dengan teknik pencucian dan inkubasi. Kedua cendawan itu tak dapat mengelak lagi. Apa boleh buat upacara “ngaben” diselenggarakan untuk menyambut kedatangan cendawan yang indekos di tanaman sereal itu.

Selain gandum dan jagung, 5 varietas padi asal Filipina dan Cina bernasib sama. Mereka lumat di incenarator. Pseudomonaspanici mendompleng benih padi. Namun, bukan lantaran itu Oryza sativa itu dibakar. “Lebih karena importir tidak melengkapi sertifikat fitosanitari,” ujar Ketua SKT-SH, Yayat A. Zaini.

Seluruh benih yang diimpor sejatinya telah melewati pemeriksaan di Balai Karantina negara asal. “Namun kami tak mudah begitu saja percaya,” kata Iman. Ternyata benar ketika dicek ulang, terdapat penumpang gelap yang mendompleng. Itu terjadi lantaran, “Pemeriksaan kan hanya berdasarkan sampel. Boleh jadi ketika dicek di sana (negara asal benih, red) organisme sumber penyakit tak terdeteksi,” kata alumnus Universitas Palembang itu.

Rugi besar

Benih terinfeksi cendawan dan bakteri itu selayaknya memang dimusnahkan. Tak ada hak hidup mereka di sini. Tujuannya supaya tak meluas di lahan penanaman. Bukan apa-apa dampak serangan makhluk supermini itu amat maksi. Contoh, tingkat kerusakan akibat ganyangan Tilletia caries mencapai 40—100%. Jika demikian alamat pekebun gagal panen. Celakanya, tanaman di persemaian tak luput dari incarannya.

Erwinia? Sama saja. Negeri jiran Australia pernah merasakan nestapa akibat serangan bakteri anggota kelas Gammaproteobacteria. Negeri Kanguru itu menderita kerugian hingga US$270-juta. Denmark, Rumania, Rusia, hanya beberapa negara lain yang juga direpotkan oleh ulah organisme pengganggu tumbuhan. Oleh karena itu kedatangan mereka di Indonesia disambut dengan upacara “ngaben”. Lalu mereka meregang nyawa di ujung lidah api.