Selasa, September 21, 2021
BerandaPertanianMereka Tertambat Dewi Sri

Mereka Tertambat Dewi Sri

Keberhasilan Surya Gandamanah tak semata karena kemurahan Dewi Sri. Ia tak hanya bertani padi, tetapi melakukan terobosan: membuat benih super dan melakukan imunisasi. Hasil padi pun berlipat dari 5 ton per ha menjadi 10 ton. Pada masa gadu musim tanam kemarau 2003 sampai 2004 misalnya. Ia memanen 443.890 kg gabah kering dari lahan 68 ha. Itu setara dengan nilai jual Rp575,5-juta.

Dengan biaya produksi sebesar Rp 119,3-juta dan biaya penggarapan Rp54,4 juta, labanya lebih dari Rp400-juta. Kakek 15 cucu itu mengantongi untung bersih Rp200-juta karena laba dibagi 2 dengan penggarap. Harap mafhum, ia mengelola sawah dengan sistem bagi hasil. Bila digabung dengan laba musim rendengan sebelumnya, laba bersih Rp500-juta per tahun.

Toh, sukses itu tidak diraih dalam sekejap. Ia mengawali usaha sebagai eksportir udang dari nol. Selama 3 tahun dari 1984 sampai 1987 ia menjadi sopir angkut seorang eksportir udang windu. Ia rela menjadi sopir karena harus melunasi utang saat menjadi kontraktor bahan bangunan. Ketika utangnya lunas, Surya memutuskan untuk mandiri sebagai pengepul udang.

Pada 1999 saat ia di puncak kejayaan usia Surya mencapai 53 tahun. Nalurinya sebagai seorang ayah berkata bahwa bisnis udang windu harus diserahkan pada anak-anaknya yang telah dewasa. “Saya harus beralih pada bidang lain,” kata kelahiran Subang, 16 September 1946 itu.

Banting setir

benih padi unggulan
Pilih benih unggulan

Lantaran keputusannya yang berani itu, Surya harus memutar otak mencari usaha lain. Ia pun merenung berhari-hari untuk menentukan pilihan. Kebetulan saat itu di daerahnya memasuki musim rendeng padi. Persiapan tanam menjadi pembicaraan hangat setiap orang di sana. Namun, ia sempat gamang memilih padi. Pasalnya, ia melihat jarang sekali petani padi yang berhasil. Saat itu Surya tertantang, menjadi petani padi bisa berhasil asalkan mempunyai terobosan baru.

Awalnya, pemilik bisnis padi dengan bendera PT Surya Bangkit II itu tidak untung. Bayangkan, dari 8 ha sawah yang digarap hanya menghasilkan 40 ton gabah kering atau setara 5 ton/ha. Surya hanya memetik omzet Rp36-juta karena pada 1999 harga gabah Rp900 per kg. Dengan biaya produksi Rp15,2-juta, Surya hanya mencapai titik impas. Sebab, omzet itu harus dibagi 2 dengan penggarap sehingga ia hanya meraup Rpl0,4-juta.

Walau ada selisih pendapatan Surya sebetulnya rugi. Pasalnya, uang itu didapatkan dalam waktu 120 hari dihitung umur padi sejak persemaian. “Masa dengan investasi Rp15,2-juta dan sawah seluas 8 ha, saya hanya digaji Rp71-ribu per hari,” kata pria yang pernah merantau ke Makassar itu. Selain itu, pendapatan petani penggarap pun jauh lebih kecil. Hanya Rp9.000 per hari.

Rangsang semangat para petani

Pendapatan tidak seimbang dengan pengorbanan membuat Surya memutar otak. Ia pun berniat mengintensifkan usahanya. Yang pertama dilakukan adalah mematok target produksi minimal per ha. Setelah bolak-balik berdiskusi dengan peneliti di Balai Penelitian Tanaman Padi dan praktisi di Cirebon, ia mengajukan angka yang realistis, 6,5 ton per ha di hadapan petani penggarap. Petani lain di sekitarnya hanya 3 sampai 4 ton per ha.

Agar target tercapai, Surya melakukan terobosan kedua. Ia merangsang petani dengan mengadakan perlombaan produksi. Di hadapan 35 petani Surya mengatakan, 3 petani dengan hasil tertinggi akan mendapatkan hadiah. Sistem pengawasan pun dilakukan dengan ketat. Setiap hari ia berkeliling ke sawah dari pukul 05.30 sampai 08.30. Kegiatan itu diulangi pada sore sampai menjelang magrib. “Saya banyak belajar dari padi dan petani,” katanya.

Cara itu terbukti manjur. Tiga orang penggarapnya sanggup memproduksi padi 8 sampai 10 ton per ha. Mereka pun diberi penghargaan berupa televisi dan radio. Sejak itu usaha Surya terus berkembang. Setiap tahun ia memperluas areal 10 ha dari keuntungan bersih.

Mendobrak tradisi yang telah ada

H Sarnadi
H Sarnadi, maju dari kegagalan

Yang juga merasakan berkah Dewi Sri adalah H Sarnadi. Petani di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, itu mewarisi usaha sang ayah, H Sarban. Pada 1998 suami Eti Ridianti itu mendobrak pertanian konvensional yang ditinggalkan mendiang orang tuanya. Di antaranya, imunisasi padi saat persemaian dan perombakan petakan sawah.

Hasilnya luar biasa. Produksi padi meningkat hingga 8 sampai 9 ton per ha. Petani lain lazimnya 4 sampai 5 ton. Pantas pada musim gadu tahun ini ia untung besar. Dari lahan 30 ha diperoleh 240 ton gabah kering panen. Dengan harga Rpl.250 per kg, jumlah itu setara Rp300-juta. Setelah dikurangi biaya produksi Rp90-juta, ia menuai laba kotor Rp210-juta. Setelah dibagi 2 dengan penggarap, ia mengantongi laba bersih sekitar Rp105-juta.

Itu keuntungan dari lahan sendiri. Keuntungan dari plasma jauh berlipat. Pasalnya, ia menggandeng puluhan petani plasma dengan total luasan mencapai 70 ha. Bila rata-rata hasil petani 7 ton per ha, ia memperoleh 490 ton GKP setara Rp612,5-juta. Labanya tak kurang dari Rp200-juta.

Belajar dengan mengamati alam

Sukses H Sarnadi bukan datang dari langit. Ia mempelajari karakter padi sejak 15 tahun silam ketika sawah masih diolah sang ayah. Pada 1990, misalnya, 5 ha lahan padinya puso diserang hama sundep. “Ruginya sekitar Rpl2,5-juta,” katanya. Kegagalan itu membuatnya melamun dan merenung sepanjang hari. Ia tak habis pikir, beragam pestisida telah disemprotkan, tapi hama perusak itu tetap datang.

Perenungan itu bukan tanpa hasil. Ia merunut tahap demi tahap penanaman padi pada musim itu. Biang keladi kegagalan pun diketahui. “Bibit yang ditanam lemah,” katanya. Ketika itu ia membiarkan sebagian besar bibit padi dihinggapi ulat kecil. Pelajaran dari alam itu membuatnya tak mau mengulangi kesalahan kedua. Pun saat malai padi hanya 50% bernas, ia tahu jawabannya setelah mengamati lebih dari 3 musim. Penyebabnya daun bendera kering saat padi mengeluarkan malai. Pasokan nutrisi terhambat karena fotosintesis berhenti.

Itulah kisah Surya dan Sarnadi bercinta dengan Dewi Sri. Lahan luas, keberanian, dan kemauan belajar dari alam kunci sukses keduanya. Mereka membalikkan pandangan umum. Petani padi tak selamanya miskin, kurps, dan hitam. Oyyza sativa itu ternyata juga mampu menebalkan pundi-pundi petaninya.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments