Mereka Yang Bergelut Di Ekspor Impor Buah Lokal

Avatar
  • Whatsapp
packing buah ekspor
Pengepakan

Tumpukan 350 kardus mangga masih teronggok di rung karantina Bandara Sukarno-Hatta menunggu giliran diterbangkan. Padahal jauh-jauh hari Umar Alaydrus eksportir di Jawa Timur, telah memesan tempat.

Apa lacur, keterbatasan tempat membuat pengiriman mangga ke Singapura dicicil. Pada hari pertama pengiriman terangkut 50 kg. Keesokan hari 30 kg. Mangga 3,5 ton itu baru rampung dikirim setelah seminggu. Setiba di negara tujuan hampir seluruh buah busuk.

Bacaan Lainnya

Pengalaman pahit pada 1992 itu membuat Umar Alaydrus trauma. Buntutnya, selama 15 hari pemilik PT Usaha Putra Pribumi Indonesia (Uppindo) itu vakum ekspor. Namun kekecewaannya tidak berkepanjangan. Ia mencoba kembali mengirim mangga ke pelanggan di Singapura itu. Usahanya berhasil, seluruh mangga diterima rekanan dalam kondisi segar. Ekspor mangga terus berlanjut hingga memuncak pada 1996 dengan total pengiriman 400 ton/musim.

Album foto

Melimpahnya arumanis memikat Umar Alaydrus untuk mengekspor pada 1986. Waktu itu ia sudah mengekspor sayuran dan tembakau Virginia. Ayah 4 anak itu melakukan penjajakan ke Singapura. Alamat calon pembeli diperoleh dari Kedutaan Besar Indonesia di sana. Bermodalkan album foto, importir buah di Pasar Induk Pasir Panjang disambangi untuk merintis kerjasama.

Gayung pun bersambut. Salah seorang importir berminat bekerjasama. Namun, pedagang Singapura itu mensyaratkan sistem konsinyasi. Ia menolak jual-beli lantaran tak mau harga jual mangga Indonesia.

Dengan harga kesepakatan US$90 sen/kg Umar pun mulai mengekspor perdana. Volume ekspor ke Negeri Singa itu 90 sampai 100 ton/musim. Sukses di Singapura, ia merambah Belanda, Hongkong, Saudi Arabia, dan Perancis. Selain mangga, ia mengirim manggis dan kesemek dalam volume kecil.

Kalah bersaing

Sayangnya, pada periode 1998 sampai 2000 volume ekspor turun drastis. Penyebabnya, kualitas mangga buruk akibat kemarau panjang. Buah berpenampilan mulus hanya tahan 2 hari dipajang. Wajar mitra di Singapura melayangkan protes. Akhirnya buah busuk dikembalikan ke Surabaya dan menjadi tanggungan Uppindo. Karena rugi, perusahaan yang berlokasi di Kutisari, Surabaya, itu mengerem pengiriman. Pada 2000 mantan pemasok bahan makanan di Jeddah, Arab Saudi itu hanya mengekspor 10 kali ke Singapura sebanyak 1 sampai 2 ton/pengiriman.

Terpaan badai terus berlanjut saat nilai rupiah merosot. Ini berdampak pada melonjaknya biaya transportasi. Biaya ideal penerbangan ke Singapura US$50 sen/kg setiap muatan 1 ton ke atas; ke Hongkong US$ 1,15/kg.

Kenyataannya, biaya penerbangan dari Indonesia ke Singapura mencapai US$1,55/kg. Padahal, Kualalumpur – Singapura hanya US$80 sen/kg. Ketika dipajang di negara tujuan, “Mangga kita diketawain karena kemahalan,” tutur pria kelahiran 1936 itu. Indonesia juga kalah bersaing dari Australia, Mesir, Israel, dan India yang belakangan masuk Singapura.

Petani yang ekspor

Meski sukses mengekspor mangga, Umar hanya mempunyai 300 pohon. Untuk mencukupi kebutuhan ekspor Uppindo bermitra dengan petani di Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Kediri, Tuban, dan Lamongan. Petani dididik memangkas, memupuk, membungkus, memanen, mencuci, hingga mengepak.

“Kualitas yang diminta Pak Haji (Umar Alaydrus, red) cukup ketat.” tutur Untung Tinaram, agen Uppindo di Pasar Bangil, Pasuruan. Imbalannya harga pembelian dipatok lebih tinggi dibandingkan pesaing. Umar pun tak memaksa petani menjual ke Uppindo jika harga di pasaran lebih tinggi.

Di setiap daerah mitra ditunjuk satu pedagang pengepul sebagai agen. Dialah yang bertugas menangani kegiatan mengumpulkan mangga hingga pengiriman ke bandara udara. Uppindo hanya mengirim kemasan. “Saya tinggal menerima laporan volume buah yang telah dikirim ke pembeli atau dibawa ke bandara,” papar Umar.

Tinggal angkat telepon saja, segala transaksi beres. Meski yang urus petani atau pengepul, pemilik misai tebal itu mengaku belum pernah di-complain soal mutu. Untuk “jasanya” itu, agen mendapat insentif.

Meski peluang memasok pasar lokal di Jakarta terbentang, Umar enggan melakukannya. “Sebenarnya banyak permintaan, tetapi minta ampun pembayarannya, bisa 1 bulan,” sesalnya. Dengan kondisi seperti itu ekspor tetap jadi andalan.

Pos terkait