Mereka Yang Tersihir Anthurium

Avatar
  • Whatsapp

Anthurium-anthurium koleksinya tertata rapi di halaman rumahnya bergaya joglo di Muntilan, Magelang. Tanaman hias daun itu tumbuh di pot raksasa berdiameter 1 meter. Jenisnya didominasi Anthurium jenmanii. Salah satunya berdaun hijau solid berbentuk mangkuk sehingga disebut jenmanii mangkuk. Di tanahair, tak lebih 10 orang yang mempunyai jenis itu.

Total jenderal koleksinya mencapai 40 pot terdiri atas 30-an jenis. Untuk memperolehnya Budi menebus dengan harga jutaan rupiah per pot. Sekarang saat masyarakat tergila-gila kemolekan anthurium, harga tanaman hias itu meroket. Sebagai gambaran, harga sebuah pot jenmanii berkualitas prima mencapai Rpl50-juta.

Bacaan Lainnya

Tanaman hias itulah yang memikat hati pria kelahiran 11 Oktober 1947. Buktinya Budi banyak menghabiskan waktu untuk mengontrol tanaman hias yang digandrunginya. Alumnus Manajemen Universitas Atmajaya Yogyakarta itu memang merawat si bunga ekor julukan untuk anthurium sendiri. Pantas ia paham betul karakteristik setiap koleksinya.

Dipandang Sebelah mata

terpikat anthurium sejak remaja
Ricky Edward Mandagie terpikat anthurium sejak remaja

Setahun lampau Budi Tjahjana bukanlah hobiis anthurium. Justru istrinya Christina Damayanti yang sejak 10 tahun lalu mengoleksi tanaman hias asal Amerika Selatan itu. Meski begitu, selama 10 tahun itu, Budi tak pernah tertarik pada sosok anthurium. “Cuma hijau begitu saja kok,” katanya. Pria 60 tahun itu jatuh cinta saat melihat Anthurium jenmanii di sebuah ekshibisi di Yogyakarta.

Setelah mengenal tanaman hias itu, ternyata, “Anthurium itu unik, tak ada bentuk yang sama persis. Semua punya ciri khas seperti sidik jari,” kata Budi. Kekaguman akan kemolekan anthurium itulah yang menggerakkan Budi untuk mengumpulkan anthurium-anthurium pilihan terutama jenmanii  dari para pedagang di Yogyakarta.

Anthurium koleksi Budi berukuran besar-besar dan mayoritas bertongkol. Sulung 9 bersaudara itu iseng-iseng menyemai biji di bekas gudang di dekat pol bus. Ternyata banyak yang berkecambah dan tumbuh. Anakan anthurium itu dipajang di pol bus dan menarik perhatian hobiis dan pedagang. Mereka akhirnya membeli anakan terdiri atas sehelai daun. Sekadar contoh, dari 1.500 anakan esmeralda, dilepas 1.000 bibit.

Budi tak sengaja menjual anthurium. Beda dengan sang istri yang insting bisnisnya kuat. Anthurium koleksi rela dilepas asal harga pas. “Uang hasil penjualan itu dipakai lagi untuk membeli anthurium baru,” kata Christina. Itulah sebabnya begitu anthurium populer sekarang, arus keluar-masuk koleksi mereka kian kerap. Meski demikian, tanaman hias itu turut menyokong bisnis utama Budi yakni jasa angkutan. Belakangan ini perusahaan angkutan limbung terkena dampak kenaikan bahan bakar.

“Alternatif lain, ya anthurium,” kata Budi. Apalagi bisnis anthurium memang menjanjikan. Christina mencontohkan 2 tahun lalu anthurium yang harganya Rp500.000 sekarang Rp2-juta. Bahkan, dalam setahun tanaman yang harganya Rp 100.000 bisa menjadi Rp 1-juta. Atau melonjak 10 kali lipat alias 1.000%. Saat ini apakah ada bank yang sanggup untuk memberikan bunga sebesar itu?

Sempat Diolok-olok

Budi Tjahjana bukan satu-satunya kolektor anthurium. Di Ciputat, Tangerang, ada Ir Horas Pordomuan Batubara yang juga menggilai anthurium. Manajer perusahaan penyedia air bersih itu jatuh hati pada anthurium sejak 1999. Saat itu ia tengah memburu philodendron di Ragunan, Jakarta Selatan. Di sebuah nurseri ia melihat anthurium.

“Anthurium itu unik. Bentuk daunnya aneh-aneh, variasinya amat tinggi,” ujar alumnus Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung itu.

Ia mulai membeli anthurium ketika tren belum sekuat seperti sekarang. Itulah sebabnya harganya relatif murah. Contoh Anthurium superbum terdiri atas 6 daun “cuma” Rp400.000; sekarang, mencapai Rp5-juta. Pada masa itu memang jarang yang mengoleksi anthurium sehingga harganya relatif murah.

Pada 2000 sampai 2002 masyarakat tengah demam adenium dan aglaonema. Oleh karena itu setiap kali mencari anthurium, pedagang selalu menawari pria kelahiran Mandailingnatal 9 Juni 1959 itu adenium dan aglaonema. “Saya tak mau dipengaruhi orang,” ujar Ada juga pedagang yang mengolok-olok, “Di sini tak ada orang yang membeli anthurium,” ujar Domu sampai sapan Horas Pordomuan Batubara sampai menirukan pemilik nurseri.

Namun, ayah anak semata wayang bernama Harun Al Rasyid itu bergeming: ia tetap memburu anthurium. “Anthurium itu tak
membosankan bila dilihat.

Apalagi jika tumbuh dari biji, bentuk daunnya berubah-ubah,” kata Domu. Pada 2002 sampai 2004 pedagang tanaman hias di Jawa Tengah banyak memburu philodendron. Maka 350 pot philodendron eceng gondok koleksinya ludes diborong pedagang.

Jadilah, anthurium yang semula minoritas lalu mendominasi koleksinya. Apalagi setelah itu, hasrat Domu membeli anthurium tak terbendung. Seiring dengan tren anthurium, harganya pun meroket. Harga beli beberapa koleksinya mencapai belasan juta rupiah. Contoh anthurium tulang merah variegata yang cuma ada 2 di Indonesia. Saat ini total koleksinya mencapai 250 pot terdiri atas berbagai jenis. Sebagian besar adalah varian Anthurium jenmanii.

Pot-pot itu tertata apik di rak setinggi pinggang di dak rumahnya seluas 4 kali meja pingpong. Ukuran yang sama ditempati tanaman hias lain seperti aglaonema. D i sana hampir setiap malam  kadang hingga pukul 00.00  ia mengecek kesehatan klangenannya. Hingga saat ini Domu terus menambah koleksinya, meski ga melambung. Semula memang istrinya keberatan. “Beli tanaman kok mahal-mahal,” kata Domu menirukan ucapan istrinya.

Minat terhadap tanaman hias tumbuh Sejak remaja

 terpikat anthurium
Mencari philodendron, Horas Pordomuan Batubara justru terpikat anthurium

Dengan perawatan optimal, anthurium koleksi Domu berpenampilan prima sehingga memikat banyak pedagang atau hobiis. Meski berat menolak, Domu terpaksa melepas beberapa koleksinya. Setiap bulan rata-rata 4 pot koleksinya berpindah ke tangan hobiis lain. “Kalau setiap hari ada yang beli, pusing saya. Lama-kelamaan koleksi saya bisa habis,” ujar Domu yang gemar olahraga pernapasan.

Itu bukti, Domu memang kolektor, bukan pebisnis. “Saya ngga mau pakai aji mumpung (selagi harga tinggi, jual anthurium sebanyak-banyaknya, red). Saya ingin mengoleksi anthurium sampai akhir hayat,” kata pria 48 tahun itu. Jika itu benar, anthurium bakal menjadi dermaga terakhir tempat ia melabuhkan hobinya memelihara tanaman hias.

Selain Budi Tjahjana dan Horas Pordomuan Batubara, yang tersihir kemolekan anthurium adalah Ricky Edward Mandagie. Alumnus Insitut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta itu memburu anthurium di nurseri-nurseri di Jakarta dan sekitarnya. Ada kalanya ayah 2 anak itu juga mendatangkannya dari mancanegara seperti Malaysia antara lain Anthurium hookeri senilai Rpl5-juta. Untuk memperoleh koleksi, tak selamanya ia membeli. Kadang-kadang pria 44 tahun itu juga membarter.

Contoh, ketika ia berhasrat memiliki anthurium leo florida kemudian menukarnya dengan Anthurium jenmanii tanduk. “Leo florida sulit didapat. Pertumbuhannya lambat, sehelai daun baru muncul dalam 4 sampai 6 bulan,” ujar suami Jeanne MF Mandagie itu. Oleh karena itu bersuka-cita ketika anthurium yang didambakan itu ada di tangannya. Saat ini koleksi anthurium direktur sebuah perusahaan periklanan itu mencapai 15 pot besar dan puluhan tanaman kecil terdiri atas 14 jenis.

Ricky terpikat kemolekan anthurium sejak 1980 ketika duduk di bangku SMA. Saat itu kelahiran Jakarta 19 Oktober 1963 itu menyukai anthurium kuping gajah. Sayang, hobi itu dilupakan saat ia melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Sipil. Baru pada 1990 ia kembali menekuni hobi memelihara si bunga ekor. Pesona Anthurium jenmanii tanduk setinggi 60 cm itu begitu memikat sehingga Ricky membelinya Rp 1.350.000 relatif mahal untuk ukuran 1991.

Dapat dibayangkan betapa terpukulnya Ricky ketika koleksi-koleksinya dicuri. Pada Mei 2007 ada 7 pot indukan anthurium dicabut dari pot dan dibawa kabur. Kerugian Ricky mencapai ratusan juta rupiah. Sebagai gambaran harga Anthurium jenmanii alba koleksinya yang dicuri mencapai Rpl5-juta.

Meski demikian kejadian itu tak dapat menghentikan keinginan Ricky untuk memelihara anthurium. Begitu juga hambatan yang dihadapi kolektor lain seperti Budi Tjahjana dan Horas Pordomuan Batubara, tak kan menghalangi untuk tetap mengoleksinya. Hati mereka telah tertambat pada kemolekan anthurium.

Editor: Mitra usaha tani

Pos terkait