Merpati Balap: Hercules Terkuat di Serpong

Hercules memang pantas menyandang gelar juara pertama. Penampilannya memukau sejak diterbangkan pada babak I hingga final. Maklum, mental bertandingnya sudah teruji di berbagai kontes.

Di kontes sama setahun silam, temakan Matronda itu pun dikukuhkan sebagai yang terbaik. “ Gaya terbangnya acap mengecoh lawan. Pengalaman selama dipegang, kalau di babak I tampil bagus, pasti juara,” kata pria asal Bangkalan, Madura, itu.

Penampilan Barhonda sebenarnya juga bagus. Bahkan, sprinter andalan Handoyo, hobiis asal Jakarta, itu sudah diprediksi bakal juara. “Pukulannya maut, kalau lawan tidak waspada bakal kocar-kacir,” kata Iwan, salah satu peserta dari Jakarta.

Prediksi salah satu personel tim Makita itu beralasan. Temakan Itang asal Tasikmalaya, Jawa Barat, itu telah mengantongi juara I di kelas perang bintang sebanyak 2 kali di ajang adu cepat pada Jumat dan Sabtu. “Kekalahan Barhonda karena kelelahan. Kondisi fisiknya turun setelah 3 hari bertempur,” ucap Handoyo lirih.

Gelar Juara Tercepat

Gagal meraih gelar tercepat tak hanya dialami Barhonda. Jarum 76 milik Acin pun gagal mengukir prestasi setelah dijegal Hercules di babak semifinal. Paket Hemat andalan tim Makita asal Jakarta pun tak mampu menandingi keperkasaan Hercules. Ia hams bertekuk lutut di babak perempat final.

Kekalahan itu memang harus diterima tim Makita. “Mental bertanding belum cukup teruji. Umurnya baru 7 bulan sehingga butuh latihan lebih serius,” kata Santoso Wirya, pemilik Makita Bird Farm. Paket Hemat menduduki urutan ke-7 disusul Brutal yang juga milik tim Makita. Gembol dan Tasmania, andalan lain gagal sejak putaran awal.

Mawar, jagoan Sofyan Permana dari Jakarta, tak mampu berbuat banyak. Andalan tim berbaju kuning itu pupus setelah dikalahkan Barhonda di babak semifinal. Padahal, untuk melaju ke babak itu Mawar hams berjuang mengungguli Sapuangin milik Ching Sen asal Bandung, Jawa Barat.

Tim Sri Bintang dari Lampung yang mengharapkan Sri Gunting, jagoannya akan “menggunting” lawan ternyata hanya bertahan di babak ke-6. Anak Putra Manja dan Adik Ramadhan itu gagal melaju ke babak semifinal setelah dijegal Barhonda. “Kedua merpati itu berpeluang meraih juara,” kata Ching Sen memprediksi lomba di babak perempat final.

Pemanasan Sebelum Event Utama

Menang di lomba memang harapan setiap peserta. Namun, tidak semua burung yang diikutkan meraih juara. Itu pula yang dialami Asen dari Tim Batubara, Medan. Empat jagoan yang dibawanya tak satu pun yang meraih gelar juara. Gledek, Peterpan, Anak Medan, dan Gempar sudah kalah di babak awal. Petir Muda, andalan lain, urung mengikuti lomba lantaran kondisi kesehatannya menurun.

Julianto Nugroho, hobiis dari Bogor, pun gagal memboyong piala. Greyhoun, andalannya tidak meraih satu pun gelar juara selama 3 hari berlomba. Meski kecewa lantaran jagoannya kalah, peserta lain yang datang puas mengikuti jalannya lomba.

Kontes lokal besar di lapangan Gading Serpong, Tangerang, pada medio Maret 2020 itu berlangsung meriah. Tercatat 190 peserta datang dari berbagai daerah, seperti Tasikmalaya, Bandung, Pekalongan, Solo, dan Lampung.

Minimnya peserta telah diprediksi panitia lantaran hajat itu agenda lomba perdana di Persatuan Penggemar Merpati Balap Sprint Indonesia (PPMBSI) pada 2021. “Mereka hanya sekadar ajang pemanasan burung menjelang lomba nasional di Bandung, Jawa Barat, akhir April nanti,” kata Ching Sen, ketua bidang lomba PPMBSI.

Last Modified: 28th Des 2020