BerandaperkebunanMerry Andani: Antara Dangdut dan Organik

Merry Andani: Antara Dangdut dan Organik

…antara kita berdua terhalang dinding pemisah yang tak mungkin dilalui walaupun sampai di akhir nanti…” Lirik lagu merdu Dinding Pemisah itu bukan terlantun dari sebuah stasiun televisi. Melainkan terdengar di sebuah kebun asri seluas 1.200 m2 di Desa Cimande, Caringin, Bogor. Yang melantunkan, Merry Andani, sambil mengayunkan cangkul untuk bertanam sayuran organik.

Dengan mengenakan sepatu bot karet, celana panjang yang dilinting, serta topi caping Merry menghampiri guludan-guludan tanaman sayuran. Ia tampak menikmati pekerjaan menanam pakcoy, cabai merah, terung, dan berbagai sayuran di lahannya itu. Setelah peluh bercucuran ia istirahat sejenak di pendopo bambu yang asri. Aktivitasnya berlanjut dengan memancing dan membakar ikan dari empang di samping kebun sebagai lauk pelengkap lalap.

Itulah kesibukan Merry bersama keluarga di akhir pekan. Sayuran yang disantap dipetik dari hasil kebunnya “Sayuran lebih manis dan renyah karena dibudidayakan secara organik,” ungkap Merry panggilan akrab Merry Andani. Trubus yang dibekali sekantong terung merasakan manisnya terong organik itu di rumah. Merry biasanya baru kembali ke Jakarta selepas makan siang untuk menjalankan aktivitas rutin sebagai seorang artis.

Organik mania

Persentuhan presenter “Rockdut” dengan produk organik bermula dari kekhawatiran akan kesehatan putra-putrinya. “Sekarang sayuran dan buah banyak mengandung residu pestisida,juga polusi udara Jakarta yang makin kotor,” ujar ibu 3 anak itu. Akhirnya produk organik rutin dikonsumsi sejak 1 tahun lalu. “Manfaatnya segera terasa, daya tahan tubuh meningkat dan jarang sakit,” tambahnya.

Produk organik biasa ia dapatkan dari pasar swalayan atau toko-toko khusus organik. Amani Organic misalnya. Tempat itu paling sering dikunjungi karena jarak tempuhnya paling dekat dari rumah, di bilangan Jatibening, Bekasi. Ia pun hati-hati memisahkan produk organik di lemari pendinginnya. Maklum belum keseluruhan bahan pangan yang dikonsumsinya berupa produk organik.

Kebun terong
Terungnya renyah dan manis

Rupanya kepedulian akan produk organik itu menular kepada seluruh anggota keluarganya. Putra-putrinya yang masih kanak-kanak sudah dikenalkan dengan sayuran organik yang kerap dikonsumsi. Sewaktu berkumpul bersama keluarga besar 7 bersaudara , dengan semangat ia mempromosikan sehatnya berorganik.

Bahkan di sela kesibukannya sebagai selebriti, ibu Alisya Putri Salsabila, Athalia Putri Sania, dan M. Syarif Alam Hakim itu masih menyempatkan untuk mengikuti berbagai seminar mengenai organik. Ia pernah menjadi salah satu pembicara dalam acara seminar organik nasional di Balaikota DKI Jakarta beberapa bulan silam. Walaupun masih tergolong pemain baru, tetapi perempuan kelahiran Bandung 1 November 1969 itu tampak lihai memaparkan pengalamannya.

Budidaya Komersial

Bukan hanya sebagai konsumen organik yang dilakoni ibu bertubuh mungil itu. Bisnis organik pun diliriknya. Tak segan-segan ia mencemplungkan Rp150-juta untuk usaha pembuatan pupuk organik cair. “Pengolahan pupuk sudah berjalan sejak 6 bulan lalu,” paparnya bersemangat. Lokasi pengolahan di kediamannya. “Lahan yang dibutuhkan tidak terlalu luas kok, hanya 500 m2,” katanya. Kegiatan itu dilakukan di setiap akhir pekan bersama keluarga dan dibantu 3 orang pegawainya. Profesinya sebagai artis tidak terganggu dengan bisnis sampingannya itu.

Merasa belum cukup pengalaman di dunia organik, Merry tak segan untuk selalu berdiskusi dan berkonsultasi dengan para senior. Ir Dharma Setiawan dari Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) dan Martha Yanche Mario, seorang pemain organik senior, dipilihnya menjadi staf ahli CV Mentari Alam Sentosa perusahaan pupuk organik cair yang didirikan Merry bersama sang suami, Ali Andoko.

Dari merekalah ilmu tentang pengolahan pupuk organik cair didapat. Menurut Merry prosesnya sederhana dan tidak perlu alat macam-macam. Ia hanya membutuhkan bak penampungan untuk bahan baku berupa tepung ikan, sekam, dan pupuk kandang. Masukkan bahan-bahan itu dengan komposisi seimbang dan air secukupnya ke dalam bak berukuran 3 m3.

Setelah selama 2 bulan difermentasikan dengan bantuan aktivator buatan sendiri, lalu disaring ke sebuah tangki berkapasitas 3.000 1.Dengan sebuah pompa cairan akan disedot ke 2 buah tangki di atasnya yang berukuran masing-masing 3.0001. Setelah dicampur dengan aktivator dan molase, calon pupuk cair itu difermentasikan kembali selama 3 bulan sembari diaduk setiap hari. Dari lokasi itulah sebanyak 6.000 1 pupuk cair organik diproduksi tiap 6 bulan.

“Saya sudah mencobanya untuk bertanam sayuran dan beternak ikan. Hasilnya bagus,” katanya. Tak hanya itu, tanaman yang ada di rumah, bonsai beringin dan pohon mangga, rutin ia berikan. Kedua tanaman menjadi subur dan rajin berbuah.

Produk pupuk cair organik Merry tak sekadar untuk keperluan sendiri, tapi juga mulai dikomersialkan. Buktinya produknya telah dirilis dalam rangka menyambut Indonesia Sehat 2010 yang dicanangkan pemerintah. “Alangkah bahagianya bila kami mengambil peran di dalam pengembangan produk organik,” ujar Martha yang sekaligus menjadi direktur perusahaan Merry Andani.

Dalam mengembangkan usahanya, mojang priangan itu bersama tim-nya gencar mempromosikan produk bertajuk Quick Grow Fl ke beberapa pekebun. Para pekebun di Pangalengan, Purwakarta, serta Bogor disambangi dan diberikan sampel pupuk untuk diaplikasikan.

“Walau kini produk kami baru berupa pupuk organik cair, bukan tidak mungkin nanti bertambah dengan pestisida organik, dan sayur organik,” ujar wanita berkulit putih itu. Niatnya itu bukan ucapan belaka, lahan seluas 1,6 ha di lokasi sekitar kebun sudah siap dibidik. (Mitra)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments