Pachypodium brevicaule: Yang Lahir di Atas Kapas

Ukuran biji Pachypodium brevicaule memang amat mungil, lebih kecil daripada biji bayam. “Kita bernapas saja, biji brevicaule terbang,” ujar Handry Chuhairy melukiskan betapa kecil dan ringannya biji itu. Bandingkan dengan ukuran biji P. lamerei yang …

sungkup pembenihan

Ukuran biji Pachypodium brevicaule memang amat mungil, lebih kecil daripada biji bayam. “Kita bernapas saja, biji brevicaule terbang,” ujar Handry Chuhairy melukiskan betapa kecil dan ringannya biji itu. Bandingkan dengan ukuran biji P. lamerei yang setara gabah alias bulir padi. Oleh karena itu jumlah 5.000 biji cuma setara 3 sendok makan. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara itu memperoleh benih brevicaule dari Jerman.

Sepekan setelah biji tiba di kediamannya di Serpong, Tangerang, pada awal Januari 2007, ia langsung menyemaikannya. Direktur pemasaran sebuah pasar swalayan itu memanfaatkan pasir malang sebagai media semai. Karena ukuran biji amat mungil, ia mengayak pasir malang dengan penyaring kopi. Tujuannya agar butiran pasir yang tak seberapa besar itu tidak menekan biji.

Pemilik Hans Garden itu kemudian menghamparkan pasir malang halus di atas nampan. Lalu biji brevicaule ditebar. Namun, 2 sampai 3 pekan berselang semua biji gagal berkecambah. Handry bukan satu satunya pekebun yang gagal membibitkan biji pachypodium. Di Lembang, Kabupaten Bandung, berketinggian 1.000 m dpi, Erminus Temi Hernadi juga gagal membibitkan biji tanaman sukulen itu.

Pada 2007, pekebun kaktus itu menyemaikan 5.000 brevicaule secara bertahap. Ia juga menggunakan pasir malang sebagai media semai. Hasilnya sama saja, tak satu pun biji tumbuh. Dwiana Inawati hobiis di Tangerang, Banten, mempunyai pengalaman serupa. Perempuan 42 tahun itu menggunakan sekam bakar sebagai media semai, tapi tak satu biji pun berkecambah.

Daftar Isi

Menurut Handry, di antara 26 spesies pachypodium di dunia, brevicaule dan namaquanum paling sulit dibibitkan. “Kemungkinan biji dari daerah tertentu yang infertil,” ujar Handry. Inawati menduga, secara genetis brevicaule sulit berkecambah. Di habitat aslinya, spesies itu tumbuh di bebatuan dan iklim yang terik. Pertumbuhannya juga amat lambat: cuma 1 cm per tahun.

Oleh karena itu brevicaule jarang diperbanyak secara generatif dengan biji. Spesies itu umumnya diperbanyak secara vegetatif dengan grafting alias sambung. Dengan teknik sambung, tanaman yang pertumbuhannya menyamping itu “menumpang hidup” pada spesies lain yang dimanfaatkan sebagai batang bawah. Yang lazim sebagai batang bawah antara lain lamerei dan geayi. Dengan teknologi grafting, kedua spesies brevicaule di atas; lamerei, bawah disatukan.

Terpilihnya lamerei dan geayi sebagai batang bawah karena ketersediaan memadai, harga relatif murah, adaptif terhadap perubahan iklim, dan perakaran amat kuat. Sementara namaquanum lebih sulit digrafting ketimbang brevicaule lantaran berbatang lunak. Wajar jika di pasaran amat jarang brevicaule dan namaquanum. Akibatnya, harga pun lebih mahal ketimbang spesies lainnya.

Contoh, brevicaule seukuran kuku, berumur 2 tahun, dan setinggi 2 cm mencapai Rp400.000. Bandingkan dengan lamerei berumur sama, tetapi tingginya 15 cm, harganya Rp 125.000. Selain geayi dan densiflorum, lamerei memang mendapat predikat paling mudah dibibitkan.

Kapas basah

Bibit Pachypodium
Bibit Pachypodium densiflorum umur 1 bulan

Untuk membibitkan lamerei dan geayi, Handry menggunakan sekam bakar sebagai media semai. Ia menambahkan kapur dolomit untuk meningkatkan keasamaan media. Media yang terlalu asam kisaran pH 6 sampai 6,5 kondusif bagi pertumbuhan cendawan. Setelah media semai diratakan di atas tray, ia membuat lubang tanam dengan jari. Di setiap lubang tanam, ia meletakkan satu biji. Sarjana ekonomi itu kemudian menutup kembali lubang tanam.

Jika semua lubang tanam telah tertutup, Handry menyemprotkan larutan anticendawan dan vitamin BI untuk merangsang perakaran. Konsentrasi keduanya sama: 1 ml per 1 liter air. Sepekan setelah semai, biasanya biji berkecambah. Namun, rata rata perkecambahan pada pekan kedua. Handry menempatkan tray persemaian dalam sungkup plastik sejak hari pertama hingga siap dipotkan saat tanaman berumur 2 bulan terdiri atas 6 sampai 8 daun.

Sungkup dibuat di atas rak sepanjang 10 m dan lebar 1 m. Di atas rak besi setinggi I m itu, Handry membuat kerangka bambu membentuk setengah lingkaran. Plastik UV lantas dibentangkan menutupi kerangka bambu sehingga membentuk lorong, persis greenhouse mini berbentuk tunnel. Suhu di dalam sungkup amat panas, persis kondisi di habitat aslinya. Di kebun Hans Garden terdapat 5 sungkup yang berjajar dengan jarak 1 m.

Cara persemaian lain ditempuh oleh Dwiana Inawati. Ia memanfaatkan kapas yang dibasahi air hangat tidak sampai menetes sebagai media semai. “Itu untuk menyesuaikan dengan kondisi asal pachypodium di gurun,” ujar sarjana Arsitektur itu. Kapas basah dibentangkan

di dasar gelas plastik bekas agar agar. Alumnus Universitas Katolik Atmajaya Yogyakarta itu menyemai biji berjarak 0,5 cm dan menutup gelas rapat rapat. Selama penyemaian atau sepekan, biji tak disiram.

“Begitu keluar daun, langsung buka tutupnya,” ujarnya. Menurut Hans dan Inawati, persentase perkecambahan lamerei dan geayi mencapai 90%. Dari persemaian kapas dan pasir malang, bibit pachypodium dipindahkan ke pot berdiameter 10 cm.

Media tanam berupa sekam bakar, pasir malang, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:1. Handry membenamkan 2/3 tanaman agar Ubih kokoh. Sebab, tergoyang sedikit saja mempengaruhi perakaran anaman.

Document Last Updated on 25 November 2020