Panen Liur Emas di Luar Jawa

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
sarang walet berkualitas
pembersihan kotoran

Rumah walet yang dibangun sejak 4 tahun silam itu strategis. Daya dukung lingkungan memadai, seperti hutan-hutan, lahan pertanian, dan perkebunan sebagai sumber pakan walet. Pantas, bila investor mengincar daerah itu sebagai “rumah produksi” si liur emas. Dalam waktu 4 bulan, ruko berukuran 20 m x 10 m itu telah dihuni ratusan walet.

“Di sana walet hidup makmur karena tanpa bersaing dengan walet lain dalam mencari pakan,” kata Boedi Mranata, praktikus walet yang sering ke Banjarmasin. Boedi melihat jumlah rumah walet di ibukota Kalimantan Selatan itu belum banyak. Jadi, Collocalia Fuciphaga mencari pakan leluasa.

Bacaan Lainnya

Arief Budiman, praktikus di Weleri, Jawa Tengah, pun menilai Banjarmasin layak calon sentra baru. Saat berkunjung ke sana, ia melihat puluhan rumah walet berjajar di Nagasari. Ribuan walet setiap hari mondar-mandir melewati Kahuripan jalur lintasan walet. “Jumlahnya bisa 200 ekor/menit,” kata Arief.

Pulau Jawa Mulai jenuh

rumah walet di luar jawa
DI luar Jawa mulai tumbuh rumah-rumah “walet

Bukan tanpa alasan beberapa pengusaha walet mengincar lokasi-lokasi di luar Jawa sebagai tambang uangnya. Ramalan Boedi Mranata 4 tahun silam kini menjadi kenyataan. “Populasi rumah dan burung walet di Jawa jenuh. Yang berkembang pesat pasti di luar Jawa,” ucapnya.

Prediksi doktor Biologi itu beralasan karena populasi walet di Pulau Jawa telah melewati batas maksimum. Perhitungan alumnus Universiteit Hamburg, Jerman itu, bila produktivitas mencapai 4 ton/panen/tahun di salah satu sentra, seperti Haurgeulis, maka populasi burung diperkirakan mencapai 300.000 ekor. Itu berarti persaingan antar walet untuk mendapatkan pakan semakin ketat, sehingga produksi sarang pun stagnan.

Industrialisasi meningkat dan vegetasi alam semakin berkurang menjadi penyebab. Otomatis ketersediaan serangga menyusut drastis. Akibatnya sentra lain, seperti Malang, Pasuruan, Serang, Tangerang juga mulai kekurangan pakan. Coba kalau berjalan dari Anyer hingga Banyuwangi, setiap beberapa kilometer berjajar rumah-rumah walet.

Itu belum ditambah ratusan hingga ribuan rumah walet yang tidak terletak di jalan raya. Jumlah rumah walet tidak sebanding dengan populasi walet. “Lebih banyak rumah daripada populasi burung. Jadi, rumah walet rebutan burung,” kata Boedi. Alih-alih produktivitas sarang meningkat, jumlah burung tetap, produksi sarang tidak pernah bertambah.

Menurut Boedi, bila populasi mencapai 300.000 burung, maka kebutuhan pakan ditaksir 1,5 ton/hari. “Mengandalkan di Jawa jelas kurang,” ujarnya. Masalahnya, pakan walet belum bisa diproduksi secara massal dan berkesinambungan.

Pada musim penghujan, ketersediaan pakan melimpah; kemarau kurang. “Ketersediaan pakan sangat tergantung pada kemurahan alam. Bila pakan sedikit, maka produksi berkurang,” katanya. Contoh, populasi walet di Metro, Lampung menurun lantaran kemarau panjang sehingga sebagian burung mati kekurangan pakan. Kasus serupa pernah terjadi di Bangil, Pasuruan, dan Jawa Timur.

Di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera pakan masih berlimpah. Tak heran bila sepanjang pesisir Kalimantan, seperti Pontianak, Palangkaraya, Sampit, Banjarmasin, dan Balikpapan mulai tumbuh rumah-rumah walet. Daerah lain, seperti Bengkulu, Tebingtinggi, hingga Kepulauan Riau pun potensial.

Lokasi baru

sortir kualitas sarangMemulai bisnis walet di luar Jawa memang menguntungkan. Namun, sebelum memutuskan untuk membangun di daerah baru, sebaiknya melakukan survei lingkungan. Boedi berpatokan bila populasi di atas 300.000 ekor atau produksi sarang 1.200 kg/panen, maka lokasi itu jenuh. Niat membangun sebaiknya jangan dilanjutkan bila rumah walet di sentra makin padat.

Kondisi curah hujan per tahun harus diperhatikan. Pilih lokasi bercurah hujan di atas 2.000 mm/tahun. Kondisi itu mendorong pertumbuhan vegetasi alam sehingga ketersediaan serangga terjamin sepanjang tahun.

Daerah yang sering terkena tiupan angin kencang di musim tertentu sebaiknya dihindari. Lokasi berdekatan pantai sangat riskan hembusan angin kencang. “Mundur 1 km dari daerah pantai sudah aman,” kata Boedi yang berpengalaman puluhan tahun walet itu.

Faktor sosiologi masyarakat sekitar tak luput jadi perhatian. Keamanan, akses ke lokasi, hubungan antarmasyarakat, dan konflik sosial menjadi faktor utama. Di Maluku potensial untuk walet, tetapi keamanan tidak terjamin.

Satu lagi yang menjadi pedoman investor adalah rencana tata kota. Industrialisasi dan pembukaan lahan baru untuk perumahan sangat berdampak pada daya dukung alam. Bukan mustahil daerah di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara pun akan jenuh. Makanya, 4 tahun ke depan harus dipertimbangkan lagi.

Pos terkait