Panen Unshui di lahan bekas teh

Buah Nyaris tanpa biji

Jarum jam menunjuk angka 12.30 WIB. Berarti tepat 3 jam Mitrausahatani menyusuri jalan sempit berliku menuju Kecamatan Sukanagara, Cianjur Selatan. Dari speedometer tertera angka 40 km jarak kota Cianjur Desa Sukanagara. Toh perjalanan melelahkan itu terbayar begitu melihat hamparan kebun jeruk di depan mata.

Mitrausahatani melihat deretan pohon setinggi 3 m digelayuti dompolan buah berwarna kuning kejinggaan. Barisan tanaman rapi dengan jarak 3 m x 4 m. Total jenderal ada 5.400 pohon terdiri dari 6 jenis jeruk. “Yang bentuk buahnya seperti pir itu namanya dekopong,” tutur Anwar Pulkadang, sang empunya kebun. Citrus sinensis itu asli Jepang.

Bacaan Lainnya

Di negara Matahari Terbit, dekopong paling mahal. Harganya mencapai 400 yen per buah setara Rp320.000. Anwar memboyong bibitnya 2 tahun silam bersama 5 jenis lain: unshui (jeruk dalam bahasa Jepang) niagawa, ohtapongkang, amanatsu, iokang, dan sudachi. Yang disebut pertama, menurut Anwar jeruk paling enak di Jepang. Mitrausahatani sempat mencicipi buah yang baru dipetik dari pohon. Rasanya manis dan segar. Yang istimewa nyaris tak ada biji di dalam daging berwarna jingga cerah itu.

Lahan Tanam Malnutrisi

Lahan bekas teh berganti rupa

Panen unshui dari kebun sendiri, tidak Anwar dapat dengan sekali tepuk. Minimal 12 tahun dihabiskan oleh pengusaha Askaboard itu untuk “belajar” di kebun. Pertama mendatangkan dari Wakayama. Jepang, 100 pucuk yang langsung disambung dengan batang bawah RL-malang. Total jenderal didapat 7.000 bibit yang segera ditanam di kebun di Sukanagara, Cianjur.

Lokasi itu dipilih lantaran unshui hanya tumbuh dan berproduksi baik di dataran tinggi di atas 1.100 m dpi. Lokasi kebun di kaki Gunung Padang, 1.100 m dpi. Syarat lain, terdapat perbedaan suhu ekstrim agar unshui berbunga. Kondisi itu ada di kebun.

Sayang, kondisi tanah kebun buruk. Lahan bekas kebun teh itu terbengkalai selama 40 tahun. Nyaris tak ada tanaman yang sanggup hidup di lahan miskin hara itu. Padahal, jeruk menyukai tanah remah dan subur. Berbekal pengetahuan sebagai eksportir arang, Anwar membenamkan arang kayu untuk menyuburkan tanah. “Arang menyerap racun residu pupuk kimia dan pestisida yang terpendam di tanah, kata alumnus salah satu universitas d: Jepang itu.

Residu pupuk kimia dan pestisida membuat tanah jadi “sakit”. Untuk mengobatinya perlu diberi bahan organik Anwar memilih pupuk kandang kotoran sapi yang dibenamkan ke media sebanyak 10 kg/lubang tanam di awal penanaman. Pemberian diulang 3 kali setahun sebanyak 10 kg per tanaman. Itu ditambah dengan pupuk kotoran kelelawar, guano, yang diberikan 2 kali setahun.

Hasilnya tanah jadi subur. Namun, sukses masih jauh dari kenyataan. Gara-gara alpa menambah pupuk usai jeruk “belajar berbuah” pada umur 6 tahun, 2.000 tanaman mati kekurangan nutrisi. Gejalanya daun mengering dan pohon pun terlihat tidak sehat. Gara-gara kondisi lemah, hama dan penyakit gampang menyerang. Ulat terowong yang membuat buah berlubang pun kerap menyerang. Belum lagi ketika musim hujan tiba, embun tepung sering hinggap di batang dan ketiak daun. Pantas bila Anwar berujar, ’’Lahan itu (kebun ’eruk pertama, red) adalah pemandangan kesedihan.”

Belum lagi kualitas buah yang dihasilkan beragam. “Dalam satu pohon ada yang manis, ada yang asam. Pohon-pohon yang buahnya banyak, rasa buah asam,” keluh sekjen Asean Council of Japan Alumni (ASCOJA) itu. Lantaran tidak pernah dipangkas, sosok tanaman tinggi-tinggi mencapai 3,5 sampai 4 m. Akibatnya, buah sulit dipanen.

Panen Bebas CVPD

Toh, pria kelahiran 1942 itu pantang mundur. Insting bisnisnya mengatakan fpasar jeruk sampai apalagi unshui yang di Jepang begitu digemari sampai terbentang luas. Anwar bertekad menyelamatkan 3.000 tanaman tersisa. Pupuk kandang dengan disiplin dibenamkan sesuai jadwal. Untuk menghasilkan buah yang seimbang rasa manis-asamnya, “ramuan” pupuk dan perlakuan mesti tepat.

Anwar memberikan 10 kg pupuk kandang, 1 kg kapur, dan 5 sampai 10% arang setiap selesai panen. Tujuan penggunaan kombinasi itu, untuk memenuhi nurtrisi yang dibutuhkan unshui. Seiring bertambahnya umur tanaman, jumlah pupuk kandang yang diberikan meningkat. Untuk tanaman umur 6 tahun diberikan 30 sampai 40 kg, umur 10 tahun membutuhkan 50 kg.

Jumlah buah per tanaman diatur. Misal, 1 buah ditopang oleh 20 sampai 30 daun. Selain itu, sinar matahari memacu proses fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat yang berpengaruh terhadap rasa buah. “Intensitas matahari rendah di Cianjur Selatan mempengaruhi tingkat kemanisan unshui,” kata Prof Dr Roedhy Poerwanto. Hal ini diatasi dengan pemberian triakontanol yang merangsang pembukaan stomata. Dampaknya proses fotosintesis berjalan lancar, sebab kebutuhan CO2 terpenuhi.

Untuk mengatasi cendawan upas yang kerap menyerang, ayah 6 anak itu memanfaatkan cuka kayu. Pada bagian terserang, cuka kayu dioleskan. Itu ditambah penyemprotan dengan dosis 1 1/400 1 air sebulan sekali. Cuka kayu juga disemprot saat tanaman mulai berbunga. Untuk mencegah serangan embun tepung, fungisida disemprotkan di seluruh lahan 3 kali sebulan, terutama pada musim hujan.

Lalat buah yang menyerang unshui sejak pentil dikendalikan dengan perangkap kuning. Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) yang jadi momok pekebun jeruk tak pernah menyerang lantaran bibit bersertifikat bebas CVPD. Supaya tajuk kompak, percabangan dipangkas hingga tinggi tanaman dipertahankan 1,5 sampai 2 m.

Keberhasilan Pengolahan lahan hasilkan panen yang maksimal

Siap petik setelah 45—60 hari setelah berbunga

Hasilnya, Anwar mulai menikmati panen rutin. Unshui dipanen 3 kali setahun. Buah berwarna kuning kejinggaan siap dipanen setelah 45 sampai 60 hari pascaberbunga. Pada April panen periode ke-2 sampai 2007, dipetik 450 kg dari 900 pohon di lahan seluas 8,6 ha. Jenisnya, beragam lantaran kebun pertama itu ditanami 900 pohon niagawa berumur 12 tahun, 200 amanatsu, 250 ohtapongkang,500 dekopong, dan 300 sudachi semua umur 4 bulan. Pada Agustus 2007 bakal dipetik lagi 750 kg dari kebun yang sama.

Dua tahun ke depan Anwar berharap bisa memanen dari kebun ke-2. Kebun ke-2 terdiri dari 2.800 pohon niagawa umur 7,5 tahun; 1.155 amanatsu, 119iokang, 350 dekopong, 70 sudachi umur 3,5 tahun, dan 931 ohtapongkang umur 5 tahun yang belum pernah berbuah. Dengan perawatan tepat, target produksi 60 sampai 80 kg per pohon dengan umur produksi hingga 60 tahun. Hasil panen diperam 3 sampai 4 hari agar matang optimal.

Kebun pertama merupakan kebun percobaan. Tinggi pohon mencapai 3,5 sampai 4 m, sedang pada kebun kedua tingginya hanya 1,5 sampai 2 m karena sering dipangkas. Sekarang tiap pohonnya sudah bisa menghasilkan 40 kg/tahun. “Target per pohon per tahun sebenarnya 60 sampai 80 kg” ujar pengekspor guano itu. Umur produktif dari unshui mencapai 60 tahun.

Setelah dikemas dalam paranet, unshui siap dikirim ke pasar swalayan Jepang di Kebayoranbaru, Jakarta Selatan. Di sana niagawa sudah ditunggu pembeli para ekspatriat asal Jepang. Anwar pun mulai mencoba-coba melakukan diversifikasi, unshui diolah menjadi dodol, jelly, dan wine. Di sela-sela lahan jeruk Anwar menanam wortel dan waluh jepang, sawi, dan ubi yang harapannya bisa digunakan untuk biaya perawatan unshui. Kini lahan bekas teh bersalin rupa jadi hamparan unshui.

Editor: Anton Nb

Pos terkait