Pasar Butuh Minyak Daun Cengkih

Pasar dunia butuh sedikitnya 2.500 ton untuk bahan baku obat dan pewangi per tahun. Indonesia termasuk pemasok utama bersama Madagaskar dengan pangsa sekitar 1.000 sampai 1.500 ton/tahun. Ini sebuah peluang. Sebab, dengan harga jual Rp40.000/kg …

Pasar dunia butuh sedikitnya 2.500 ton untuk bahan baku obat dan pewangi per tahun. Indonesia termasuk pemasok utama bersama Madagaskar dengan pangsa sekitar 1.000 sampai 1.500 ton/tahun.

Ini sebuah peluang. Sebab, dengan harga jual Rp40.000/kg dan kapasitas produksi 45 kg/ hari, penyuling bisa meraup keuntungan Rp10-juta/bulan. Sayangnya, bahan baku makin langka.

Menurut TR Manurung, Ketua Asosiasi Pemasaran Minyak Asiri Indonesia, sejak era BPPC pasokan minyak cengkih Indonesia ke pasar dunia terus turun. “Separuh pangsa pasar pun bakal tak sanggup kita penuhi,” papar TR Manurung.

Bahkan sejak 1996 data ekspor minyak daun cengkih tidak tercantum lagi dalam buku Statistik Perdagangan Ekspor BPS. Saking kecilnya volume ekspor, kemungkinan digabung bersama data ekspor minyak asiri lain, demikian duga Mulyono dari PT Jasulawangi, salah satu eksportir.

Krisis bahan baku

Ekspor minyak daun cengkih Indonesia turun karena produksi sangat terbatas. Selama ini produsennya terpusat di Pulau Jawa. Padahal sentra produksi berada di wilayah Indonesia Timur terutama Maluku, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah.

“Usaha penyulingan daun cengkih belum memasyarakat di sentra-sentra cengkih luar Jawa,” papar Mulyono. Di Minahasa, Sulawesi Utara misalnya. Beberapa tahun lalu pernah ada ujicoba penyulingan minyak daun cengkih.

Hanya saja gagal karena petani enggan mengumpulkan dan menjual daun cengkih yang berguguran. “Harganya mungkin dinilai terlalu rendah,” kata Mulyono.

Sentra cengkih di Jawa pun sejak beberapa tahun terakhir tak bisa banyak diharapkan. Sejak monopoli BPPC banyak cengkih rusak lantaran tidak dirawat, bahkan ditebangi karena harga sangat rendah. Akibatnya, daun cengkih bahan baku penyulingan pun makin sulit didapat.

Dari 54 unit alat penyulingan di Trenggalek, tinggal 20% yang masih beroperasi. Itupun tak rutin. “Kalau dulu bisa nonstop 3 sampai 4 kali sehari, kini dalam sebulan hanya 4 sampai 5 hari saja kegiatan penyulingan dilakukan,” jelas Ir. Agus Sudibyo, Kepala Dinas Perkebunan Kab. Trenggalek.

Agus Sudibyo membenarkan berkurangnya bahan baku di daerahnya karena populasi tanaman semakin menyusut. “Dari sekitar 6.000 ha pada 1995, pada 2000 tinggal 2.797 ha,” kata Agus.

Membaiknya harga cengkih mendorong petani merawat kembali tanamannya. Daun yang gugur pun makin berkurang. Padahal, saat ini penyuling tinggal mengharapkan bahan baku dari daun rontok. Hampir tak ada petani yang sengaja menebang tanaman dan menjual daun.

Penyulingan Daun rontok

Produksi minyak daun cengkih di Trenggalek berlangsung sejak 1960-an. Era 1990-an kabupaten itu menjadi salah satu produsen terbesar minyak daun cengkih.

Kegiatan penyulingan marak, terutama di kecamatan Dongko, Pule, dan Watulimo. “Waktu itu banyak petani yang memilih menebang cengkih karena rendahnya harga jual di masa BPPC,” urai Agus.

Daun dikumpulkan untuk disuling, sedangkan kayu laku sebagai kayu bakar. Tanaman yang tak ditebang pun tidak dirawat lagi sehingga banyak daun rontok. Namun sejalan meningkatnya harga bunga cengkih, bahan baku daun semakin sulit didapat.

Akibatnya, penyulingan kekurangan pasokan dan banyak yang berhenti beroperasi. Di Pule, dari 7 unit yang ada tinggal 2 yang aktif. Di Kec. Dongko bahkan tak ada lagi unit penyulingan.

Kisruh, penyuling di Desa Jombok, Kec. Pule, Trenggalek hanya mengoperasikan 1 unit dari 4 unit ketel miliknya. Namun dengan 1 unit pun kegiatan penyulingan tak lancar karena alasan bahan baku. “Untuk mengumpulkan 1 ton daun saja sulitnya minta ampun,” paparnya.

Padahal Kisruh menyebar agen-agen pengumpulnya ke beberapa desa untuk memudahkan perolehan bahan baku. Dalam sebulan, penyulingan hanya berlangsung 5 sampai 6 hari menunggu bahan baku terkumpul minimal 10 ton.

Saat ini Kisruh hanya mampu memproduksi 150 sampai 200 kg minyak daun cengkih per bulan. “Selain bahan baku kurang, rendemen minyaknya juga turun,” timpal ibu kandung Kisruh.

Kalau dulu 1 ton bahan baku menghasilkan 25 kg minyak, kini hanya 14 sampai 15 kg. Alasannya, selain bercampur daun lain, ketebalan daun juga makin berkurang.

Hal senada dialami Sutiyono, penyuling di Desa Tambakasri, Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Dari 2 ton daun yang disuling setiap hari, ia hanya memperoleh 15 kg saja.

Padahal saat memulai usaha pada 1997 ia bisa memperoleh 25 kg dari bahan baku sama. “Sekarang banyak orang mencampur daun dengan tanah atau kerikil,” katanya. Padahal harga bahan baku terus naik karena langka.

kelangkaan daun cengkih
Daunnya kini langka

Dua tahun lalu harga daun kering Rp300 sampai Rp350 per kg, akhir 2000 sudah Rp400/kg. Sekarang Rp500/ kg daun kering. Sutiyono bahkan terpaksa menampung juga daun basah meski kandungan minyak rendah. Contohnya pada Februari ketika banyak pohon cengkih tumbang karena angin besar.

Eksportir Mulai kewalahan

Meski sulit mendapatkan bahan baku Sutiyono tetap eksis menjadi penyuling. Pasalnya, harga jual minyak daun cengkih terus meningkat. Maret tahun lalu PT Anugerah di Dampit, Malang membeli minyak daun cengkih Rp39.000/kg.

Padahal setahun lalu harga baru berkisar Rp31.000 sampai Rp32.000 per kg. Itupun masih berupa crude-oil dengan kadar eugenol sekitar 70%. Untuk bisa masuk standar mutu ekspor, “Kami harus memproses lanjut hingga mencapai kadar eugenol di atas 97%,” papar Hadi Wiyono, Direktur PT Anugerah kepada Mitra Usaha Tani.

Rata-rata setiap bulan PT Anugerah menampung 5 ion minyak cengkih untuk dipasok ke eksportir. Namun diakui Wiyono, tak mudah mendapatkan minyak sebanyak itu dari penyulingan rakyat.

Padahal, “Berapa pun produksinya saya tampung,” ujar Hadi. Karena itu selain menampung minyak petani, PT Anugerah juga melakukan penyulingan sendiri dengan rata-rata produksi 2 ton/bulan.

Keterbatasan produksi minyak daun cengkih ini jelas membuat pelaku ekspor kewalahan memenuhi permintaan. Apalagi saat ini sudah banyak perusahaan pengolah minyak daun cengkih menjadi eugenol dan turunannya di dalam negeri. “Lebih dari separuh produksi minyak daun cengkih kita diserap industri eugenol di dalam negeri,”jelas Manurung yang juga direktur PT Sarana Bela Nusa.

Hasilnya, 90% diekspor ke luar negeri. Sisanya masuk industri kimia dan farmasi di dalam negeri.

PT Jasulawangi misalnya, saat ini butuh sekitar 800 ton/tahun minyak daun cengkih. Sebagian besar diolah menjadi eugenol standar, eugenol technical, ISO eugenol sebelum diekspor.

Untuk menjamin pasokan Jasulawangi membuka jaringan kemitraan dengan beberapa produsen di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Itupun kami masih kekurangan,” papar Mulyono. Oleh karena itu, Jasulawangi bekerjasama dengan CV Indaroma di Yogyakarta untuk memenuhi permintaan pembeli.

Selain memproduksi eugenol standar, CV Indaroma juga mengekspor minyak daun cengkih sekitar 500 ton/tahun. yntuk memperoleh pasokan, perusahaan yang telah berbisnis minyak daun cengkih sejak 1960-an itu menjalin kerjasama dengan sekitar 50 penyuling di berbagai daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Namun karena permintaan yang terus meningkat, Indorama tak bisa memenuhi permintaan tepat waktu. “Diminta hari ini, kami minta ditunda pengirimannya dalam 1 sampai 2 minggu,” jelas Lily Wijaya, pengelolanya.

Sebab, sebelum dikirim ke Amerika Serikat, Jepang, Spanyol, Italia, Singapura, dan Hongkong, minyak pasokan petani harus diolah lagi dari kandungan eugenol 70% menjadi 99%. Lily membeli minyak daun cengkih dari penyuling dan penampung di daerah produksi Rp44.000 sampai Rp46.000 per kg.

Bisnis yang Menguntungkan

Menurut Mulyono, dari segi ekonomi, usaha penyulingan minyak daun cengkih sebenarnya menguntungkan dan dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat pedesaan.

Wajar bila di sentra-sentra produksi cengkih di Jawa, usaha penyulingan seperti ini menjamur. “Bahkan ada penyuling yang mampu memasok 5 sampai 6 ton minyak cengkih per bulan ke Jasulawangi,” katanya.

Kebanyakan penyuling menggunakan alat berkapasitas 1 ton bahan baku. Dengan lama penyulingan 6 sampai 8 jam per periode, berarti dalam sehari dapat dilakukan 3 kali penyulingan.

Dengan demikian bila bahan baku cukup, dalam sehari dapat disuling 3 ton bahan baku. Bila rendemen minyak rata-rata 1,5%, maka dalam sehari dapat menghasilkan 45 kg minyak daun cengkih. Bila sebulan ada 25 hari penyulingan, maka dihasilkan 1.125 kg per bulan.

Dengan harga jual Rp40.000 per kg, pemasukan dari produksi minyak cengkih mencapai Rp45-juta per bulan. Jika bahan baku Rp400 per kg, berarti biaya bahan baku hanya Rp30-juta.

Misal biaya produksi lain mencapai Rp5-juta per bulan, maka keuntungan yang diperoleh Rp10-juta per bulan. Suatu hasil yang menggiurkan kalau saja bahan baku tak jadi masalah.

Document Last Updated on 19 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.