Rabu, Oktober 20, 2021
BerandaperkebunanPasukan Masa Depan si Pedas

Pasukan Masa Depan si Pedas

Provost, varietas yang diteliti Asep Harpenas dari PT East West Seed Indonesia itu bersosok tinggi. Daun hijau segar berukuran 8 cm x 5 cm. Ruas-ruas batang bergaris ungu. Kerapatan kanopi ditopang percabangan yang kompak menjadikan tanaman terlihat rimbun. Pantas buah muncul dari berbagai cabang sehingga tampak lebat. Cabai keriting hibrida, berbunga pada hari ke-33 setelah tanam. Panen perdana pada hari ke-95—100.

Produktivitas per tanaman mencapai 1 kg. Artinya, dengan populasi 16.000 tanaman per ha, pekebun menuai 16 ton. Itu bukan sekadar potensi, tetapi telah dibuktikan oleh banyak pekebun di Garut, Tasikmalaya, dan beberapa daerah lain di Jawa Barat. Buah tampak bernas dengan bobot rata-rata 17 gram per buah. Satu kilo terdiri atas sekitar 55 buah.

Selain itu provost resisten serangan hama dan penyakit terutama thrips dan galling. Varietas baru itu adaptif dibudidayakan di dataran tinggi hingga ketinggian 1.000 m dpi.

Cabai Adipati

Cabai Adipati
Cabai Adipati, tahan layu phythopthora dan layu bakteri

Hasil riset PT East West Seed ini beradaptasi baik di dataran rendah sampai sedang dengan elevasi 10—750 m di atas permukaan laut. Jagoan baru ini berasal dari hibrida persilangan. Buah yang dihasilkan cenderung bulat panjang dengan ujung agak lancip berukuran panjang 16 cm dan garis tengahnya 1,6 cm. Buah berwarna hijau ketika muda dan berubah memerah ketika masak. Potensi yang mungkin dihasilkan sebesar 18 ton per hektar. Tahan terhadap layu phythopthora dan layu bakteri. Mulai banyak dibudidayakan di daerah Banyuwangi, Blitar, Kediri, dan Malang.

Senopati

Cabai Senopati
Cabai Senopati, adaptif di dataran rendah

Varietas baru itu bersosok kokoh. Batang hijau bergaris ungu di ruas-ruas batangnya. Ia beradaptasi baik di dataran rendah sampai ketinggian 750 m dpi. Warna buah hijau saat muda dan merah cerah setelah matang. Keluaran PT East West Seed Indonesia itu mulai berbunga pada umur 30 hari setelah tanam. Panen perdana 20 hari kemudian.

Berat buah per tanaman 0,9 gram dan masing-masing buah bobotnya 17 gram. Menghasilkan potensi produksi hingga 16,1 ton per hektar. Kerapatan kanopi yang kompak mendukung kerimbunan batang dengan daun yang hijau. Tanaman ini tahan layu phythopthora dan layu bakteri. Beberapa sentra yang sudah mengusahakan penanaman cabai ini di antaranya Banyuwangi, Blitar, Kediri, dan Malang.

Cabai Pertiwi

Cabai Pertiwi
Cabai Pertiwi, uji multilokasinya memuaskan

Inilah varietas lokal unggulan hasil riset tangan dingin Mulyono Herlambang dari CV Multi Global Agrindo. Tinggi tanaman berkisar 70—85 cm. Batang hijau berdiameter 1,5—2,2 cm. Bentuk daun oval dengan ujung lancip. Proses pembungaan berlangsung antara 40— 45 hari. Buah bulat panjang, 13—16 cm dengan ujung meruncing mengkilap. Ketebalan kulit mencapai 1,5—2,5 mm sehingga tahan simpan hingga 10 hari.

Ketika muda warna buah hijau dan beranjak memerah saat tua. Panen perdana 70—80 hari setelah tanam. Produktivitasnya terbilang tinggi, 29,73 ton per ha dengan populasi 16.000 tanaman. Produksi itu melahirkan harapan agar pertiwi memenuhi permintaan cabai di pasaran yang didominasi varietas introduksi.

Ia telah melewati uji multilokasi di Karanganyar, Purwodadi, Magelang, Pekalongan, dan Timor Leste. “Keseluruhan uji menunjukkan hasil yang memuaskan,” ujar Mulyono. Produksinya 200—300 buah setara 2,5 kg per tanaman. Kualitas yang baik juga mendorong cabai ini makin diminati. Pertiwi resisten lalat buah, thrips, dan layu fusarium. Keistimewaan lain, tanaman tahan rontok meski musim hujan sekalipun.

Australia

Parung Farm, produsen sayuran hidroponik di Bogor, juga membudidayakan beberapa cabai baru. Menurut Sudibyo Karsono dari Parung Farm, cabai pendatang itu berasal dari Australia. Yang pertama adalah cabai ungu—merujuk pada warna buah menjelang matang—yang ditanam 6 bulan lalu. Cabai bulat panjang itu memiliki kombinasi daun yang unik. Tepi daun kehijauan dan bagian tengah ungu.

Jumlah tanaman berbuah ungu ini memang tak bisa dibilang banyak, tetapi beberapa telah berhasil disemaikan dengan sistem hidroponik. Si ungu ini tahan hama dan penyakit, terbukti sejak dibudidayakan hingga sekarang tidak tampak adanya serangan hama atau penyakit tertentu. Bila menggunakan sistem hidroponik tanaman ini memerlukan asupan air teratur dengan rentang waktu 2 jam sekali.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments