Selasa, September 21, 2021
BerandaPerikananPasupati: Patin Hibrid Silangan Jambal Dan Siam

Pasupati: Patin Hibrid Silangan Jambal Dan Siam

Hal itu menjadi sebuah prestasi besar dibandingkan tetuanya, patin jambal dan siam. Patin jambal Pangasius djambal mencapai bobot 700 g/ekor dalam waktu 7 bulan dan siam Pangasius hypophthalmus 8 bulan. “Kecepatan tumbuh inilah salah satu kelebihan patin pasupati,” kata Drs Sularto MSi, peneliti di Loris.

Keistimewaan lain, dari uji organoleptik rasa dan tekstur pasupati identik dengan jambal yang lebih dahulu disukai. Bahkan pasupati memiliki keunggulan lain dalam jumlah kadar lemak. Lemak pasupati sangat rendah, hanya 14,9%; lemak jambal berkisar 16,8%. “Jadi pengidap kolesterol tak perlu khawatir menyantapnya,” kata Ir Evi Tahapari, peneliti Loris.

Fekunditas tinggi

Patin Pasupati yang dirilis tahun 2006 hadir karena permintaan jambal yang demikian tinggi. Maklum pasar dunia mencapai angka 500.000 ton/tahun menginginkan daging putih. Syarat itu ada pada jambal. Sayang lantaran fekunditas rendah, 10.000 telur/kg induk, produksi sulit digenjot. Vietnam dengan Pangasius bocourti juga jenis berdaging putih berjaya memasok setengah dari kebutuhan dunia itu.

Siam yang memiliki fekunditas tinggi, 100.000 telur/kg induk, tidak disukai pasar karena dagingnya kuning. Namun, ia berpotensi menjadi induk silangan agar produksi daging putih meningkat. “Penyilangan jambal dan siam ternyata menghasilkan fekunditas seperti siam dan fisiologi seperti jambal,” kata Sularto. Dengan demikian silangan yang kemudian diberi nama pasupati itu siap menghadang P bocourti.

Patin Pasupati memang kental mewarisi leluhurnya. Sosoknya mirip siam, tapi dengan tambahan corak biru di punggung. Daging putih seperti jambal. Ia adaptif pada lingkungan berkadar oksigen rendah, kurang dari 3 ppm. Bandingkan dengan jambal, minimal 5 ppm. Pasupati juga tumbuh baik pada suhu tinggi 28 sampai 32°C dan salinitas 10 sampai 15 ppt.

Kentang superjohn
Pasupati capai bobot 700 g/ekor dalam 6 bulan

Steril

Pertumbuhan larva pasupati sangat cepat. Normalnya pada jambal dan siam burayak berukuran 1 inci dicapai dalam 25 sampai 30 hari. Namun, ukuran itu didapat pasupati dalam waktu 21 sampai 23 hari. Penyebabnya ukuran mulut larva pasupati lebih besar sehingga kemampuan menangkap artemia lebih banyak.

Kekurangannya, pasupati steril. Dengan demikian silangan sesama pasupati tidak mungkin menghasilkan telur. “Patin Pasupati tetap lahir dengan mengandalkan penyilangan jambal dan siam,” ujar Sularto. Kini peternak di Bogor, Sukabumi, Subang, Palembang, hingga Banjar, banyak yang tertarik membudidayakan pasupati. Mereka menebar bibit-bibit ukuran 1 inci yang dibelinya seharga Rp90 sampai Rpl00/ekor itu, dengan harapan 6 bulan ke depan mereka bisa mengisi pasar ekspor.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments