Peluang & Kendala Dalam Beternak Itik

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
ternak itik

Hanya dengan memelihara 500 ekor, setiap pagi bisa dipungut minimum Rp l80.000 dari kandang itik. Padahal, pakan yang harus diberikan paling banter cuma Rp 90.000. Rayuan ini yang membuat Sahat Siagian menolak ketika ditawari untuk bekerja kembali di sebuah bank swasta dengan gaji di atas Rp 2,75-juta per bulan. Namun untung tak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Angan-angan meraup laba besar sirna gara-gara produksi telur rendah.

Bukan hanya Siagian, warga Sawangan, Depok, yang tertarik beternak itik. Pelaku-pelaku bisnis di bidang pertanian tak mau ketinggalan mengincar, karena itik dianggap bisa memberikan keuntungan. Ia merupakan komoditas yang cepat menghasilkan. Sekarang beli itik siap bertelur, sebulan kemudian sudah bisa mendatangkan uang terus-menerus sepanjang tahun. Pemasaran telurnya segampang menjual padi. Yang lebih penting perawatannya mudah. Itik tahan terhadap penyakit, dan tak perlu pakan istimewa.

Bacaan Lainnya

Bisnis Yang termasuk Kategori Riskan

Di balik prospek menjanjikan, sebetulnya beternak itik tidak semudah yang dibayangkan. Risiko kegagalan sangat besar. Kalau dianalogkan dengan tanaman, itik ibarat bawang merah. Modalnya besar. Sebagai gambaran untuk memelihara 500 ekor butuh modal awal tidak kurang dari Rp 20-juta, untuk bibit, kandang, dan pakan sebelum itik bertelur. Dana itu belum termasuk biaya operasional per bulan yang mencapai Rp 4.642.500. Manakala berhasjl peternak menangguk untung berlimpah. Dengan produktivitas minimum 60% dan harga telur Rp 50 per butir, setiap bulan peternak bakal mengantongi laba Rp l.390.000.

Namun, bukan hal gampang untuk meraih mimpi indah para peternak Soalnya, kesalahan sepele sekalipun seperti penggantian pakan mendadak, ruginya tidak tanggung-tanggung. Produktivitas bakal merosot lantaran itik mudah stres. Sulitnya mengelola itik tergambar dari pengalaman Siagian. Ia menuturkan, “Setiap bulan saya menghabiskan sekitar Rp 2,5-juta untuk pakan. Belum termasuk tenaga keija 2 orang. Sementara hasilnya, dari 400 ekor itik cuma 160-170 butir telur per hari.”

Beruntung Siagian bisa menjual telur itiknya dengan harga Rp 750/butir karena langsung di bawa ke pengecer. Ada keuntungan, tapi tidak sebesar yang diharapkan akibat terganjal produksi rendah. Target produksi yang direncanakan Siagian minimum 50%, “Sulit tercapai,” ucapnya sambil mendesah. Kalau mau terjun di itik, teknik budidaya harus betul-betul dikuasai. Sebab, faktor yang mempengaruhi produksi tidak hanya pakan, kandang, manajemen pemeliharan, tapi juga kualitas itik siap telur itu sendiri.

Pakan harus memenuhi kelengkapan gizi yang dibutuhkan itik, tidak asal murah. Akibat teledor sedikit saja, misal memberikan pakan basi, produksi telur langsung anjlok. Atau, penggantian pakan dilakukan sekaligus, dipastikan itik akan mogok berproduksi selama 1-2 minggu. Demikian kandang, baik di areal umbaran maupun tempat istirahat tidak boleh becek. Sewaktu akan turun hujan itik harus segera dikandangkan. Jika tidak, besoknya peternak harus siap-siap mendapat ganjaran berupa pengurangan produksi.

Sifat itik yang mudah stres juga sangat merugikan peternak. “Produksinya turun 10%-15% hanya karena gelegar halilintar yang mengagetkan,” papar Daniel B. Adriant TP, peternak itik di Desa Petir, Serang. Terkait dengan itu lokasi yang dipilih untuk itik tidak sembarangan. Belum lagi pada puncak musim hujan, produksi biasanya turun drastis. “Selama beberapa hari kala hujan terus-menerus produksi telur hanya mampu bertahan pada tingkat 15%-20%. Sama turunnya ketika mengalami rontok bulu atau laring,” tutur H. Hibatullah, ketika ditemui di peternakan itiknya, di Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara.

Sederet permasalahan mengusahakan itik akan menghadang, sehingga dituntut keseriusan peternak. Tak salah bila para peternak yang telah mapan mengatakan, beternak itik tidak bisa dijadikan usaha sambil lalu. “Jangan coba-coba memelihara itik deh seandainya tak punya waktu dan kesempatan untuk teijun langsung,” ujar Wardjo, peternak di Tegal Jawa Tengah. Pasalnya, pengelolaan usaha itik tidak bisa dipercayakan kepada orang lain. Mulai dari pencarian bibit (itik siap bertelur) hingga kelak penjualan itik apkir harus dilakukan sendiri.

Diduga rendahnya produktivitas itik milik Siagian karena bibit yang kurang bagus. Sebab, menurut penuturan Bakur dan Maman, perawat, sewaktu diangkut dari bandar ditemukan beberapa telur itik. Berarti, itik tidak dara lagi, melainkan dalam kondisi berproduksi, entah baru belajar atau malah sudah tua. Bandar-bandar yang bertanggungjawab tak akan menyarankan kepada calon peternak membeli itik yang tengah bertelur. Risikonya besar, akibat pengangkutan akan teijadi stagnasi produksi atau bahkan sistem reproduksinya rusak.

telur asin
Pengepul telur asin

Permintaan Pasar Yang tidak ada habisnya

Terlepas dari penguasaan teknik budidaya, beternak itik memang memberikan peluang usaha cukup memadai. Buktinya, peternak di Tegal bisa hidup layak hanya dengan 100-300 ekor itik. Rumah serta kendaraan bermotor mereka miliki, dan tak jarang yang menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. “Bagaimana tidak, dari 100 ekor itik setiap hari peternak sudah bisa meraih keuntungan Rp l8.500,” papar Darkonah, peternak di Pesurungan Lor, Tegal.

Darkonah yang juga anggota Kelompok Tani Peternak Itik (KTPI) Purwadiwangsa di Tegal, memberi gambaran biaya pakan yang dikeluarkan untuk 100 ekor itik Rp l7.500. Rinciannya, 6kg dedak senilai Rp 4.000, 6kg jagung pecah giling Rp 6.000, dan 15kg ikan rucah Rp 7.500. Produksi telur rata-rata 60% dengan harga jual saat ini Rp 600. “Inilah usaha yang termasuk tahan guncangan. Pada saat masa resesi kemarin para peternak itik hampir tidak merasakan tekanan. Bahkan cenderung berbahagia karena harga telur itik langsung melambung dari Rp 400 menjadi Rp 600,” kata Wardjo, ketua KTPI Purwadiwangsa.

Anggota KTPI Purwadiwangsa sekarang berjumlah 250 peternak dengan populasi itik dari berbagai umur sekitar 125.000 ekor. Setiap anggota rata-rata memiliki 500 ekor. Mereka betul-betul hanya mengandalkan itik tok untuk menghidupi keluarganya. Usaha itu sudah berlangsung hampir sepuluh tahun. Wardjo mempunyai 1.250 ekor, terdiri dari 650 yang tengah berproduksi, sedang 600 lainnya masih dara. Semua itiknya dipelihara semi intensif. Alasannya, “Tingkat produksi lebih tinggi, dalam setahun bisa mencapai 257 butir/ ekor. Sementara itik gembalaan hanya 170 butir.” Di Tegal jumlah itik gembalaan relatif kecil, hanya 10% dari total yang ada.

Pernyataan Wardjo tak hanya berlaku di Tegal. Di Jakarta H. Hibatullah bisa merasakannya. Sudah 10 tahun ia bergeming dari usaha itik. “Saya tak ada usaha lain selain 700 ekor itik ini, tapi bersyukur seluruh keperluan keluarga bisa terpenuhi. Dua anak yang sudah dewasa-satu sedang kuliah-sudah dibangunkan rumah dan kendaraan masing-masing,” cerita lelaki yang naik haji pada 1997 itu. Di sekitar lokasi peternakan H. Hibatullah, ada belasan peternak lain dengan total populasi sekitar 10.000 ekor.

Terserap

Mungkin karena melihat sukses para peternak di daerah, Daniel B Adriaht TP bersikeras untuk menambah populasi itiknya. “Sekarang baru 15.000 ekor, terbagi dari 12.000 ekor yang tengah produksi dan 3.000 masih dara dan itik-itik percobaan. Tahun ini hingga tahun depan rencananya akan ditingkatkan menjadi 40.000 ekor,” paparnya.

Ketika ditanya soal pemasaran kelak, pemilik CV Adilemato (Adil Lestari Makmur Sentosa) itu mengatakan, “Pasar Jakarta masih kurang banyak. Namun, berapa banyaknya saya tidak tahu pasti.” Yang jelas 6.500-7.000 butir dari telur yang dihasilkan bisa dengan mudah dipasarkan. Daniel memasarkan telur di wilayah Depok dan sekitarnya. Ia membawanya dari Serang setiap 2 hari sekali, dan langsung dikirim ke agen-agen. Jalur itu yang ditempuh karena alasan skala usahanya tergolong besar.

“Kebutuhan Depok saya perkirakan mencapai 80.000 butir/ hari. Sementara yang terpenuhi baru 60.000,” kata Daniel. Pasokan telur datang dari kota-kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, seperti Ngawi, Tegal, Brebes, Cirebon, atau Indramayu. Telur-telur ini digunakan untuk berbagai keperluan; dibuat telur asin, martabak, kue, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Telur asin menduduki porsi penggunaan paling tinggi sekitar 40%.

“Ya, kita juga melempar 60% dari total telur 75.000-80.000 butir yang dihasilkan setiap hari ke Semarang, Jakarta, dan Bandung,” ujar Wardjo. Selebihnya untuk pasar lokal, memenuhi kebutuhan pedagang pengecer serta pembuat telur asin di Tegal atau Brebes. Rasanya kalau soal pasar telur tak perlu dikhawatirkan. Pengumpul akan datang ke tempat peternakan. “Sebelum nelor aja udah dikasih duit duluan,” ucap H. Hibatullah yang asli Betawi itu.

Bandar-bandar di daerah pun melakukan hal yang sama. Untuk menjaga pelanggan tidak lari ke orang lain, mereka selalu berusaha melayani peternak. Misalnya-khusus itik gembalaan, sang bandar akan mencarikan alat transportasi dan sekaligus membiayainya ketika itik yang digembalakan akan pindah daerah. Agus Suwondo tak berbeda, pengusaha telur asin di Jl. Raya Simpang Tiga No.3, Babat, Lamongan itu harus memodali para pengumpul agar telur diberikan kepadanya. ’’Kalau tidak ia akan lari,” jelas Agus yang kini memproduksi 1.000 butir telur asin/hari.

“Karenanya saya belum berpikir untuk memenuhi permintaan ekspor. Di dalam negeri sendiri masih kekurangan,” Daniel menjelaskan. Daniel memang pernah ditawari eksportir untuk memasok telur. Tawaran itu ditolak karena alasan kontinuitas produksi serta persyaratan kualitas. Untuk ekspor diperlukan telur yang cangkangnya hijau tua, bobotnya di atas 70gr/butir, dan kuning telur berwarna merah. “Persyaratan kualitas, seperti harus merah bisa dipenuhi dengan tuntutan harga yang lebih tinggi. Namun, apkiran yang 50% mau dikemanakan. Di pasar lokal tak bisa bersaing jika harganya lebih tinggi.” Daniel berargumen.

Peluang beternak itik terlihat jelas, cukup baik. Padahal baru sebatas telur, belum soal daging dan bulunya yang ternyata prospeknya tidak kalah bagus.

Pos terkait