Pemburu Buah Tropis Nan Eksotis dari Florida

Citra, itulah jambu air yang diburu Maurice Kong. Setibanya di Indonesia ia segera melakukan perburuan ke toko-toko dan kebun-kebun buah di seputar Jakarta dan Bogor. Hasilnya nihil. Saat itu akhir Juni citra sedang tidak berbuah. Meski gigit jari Maurice tak kecewa. Perburuannya selama 3 hari tak sia-sia. Ia menemukan banyak buah tropis eksotik.

Tak heran begitu melihat nangka bersosok mini di kebun buah Cipaku, Bogor, Maurice langsung kepincut. Ia membawa beberapa bibit untuk dibawa ke Florida, Amerika Serikat. Pun ketika melihat citra, rose apple, dan cempedak.

Bacaan Lainnya

Puas menjelajah di Jakarta dan Bogor, perburuan dilanjutkan ke Kalimantan. Di sana Maurice terkagum-kagum melihat aneka buah tropis nan unik. Ada sawo jumbo seukuran bola tenis, lengkeng pingpong, nangka mini, dan putsa. “Ternyata Indonesia surga buah tropis,” pujinya.

Keliling dunia Koleksi Buah Tropis

Nama Maurice R Kong tak asing di dunia buah-buahan. Ia kesohor karena ketekunannya mengumpulkan beragam buah tropis dari seluruh penjuru dunia. Hampir sebulan sekali Maurice melakukan perjalanan ke mancanegara.

Setiap pulang ia selalu membawa bibit. Koleksinya di kebun seluas 2.000 m2 di Florida pun kian banyak. Di sana ada berbagai jenis mangga, sawo, lengkeng, leci, dan buah tropis lain. Itu hasil perburuan selama lebih dari 20 tahun.

Bagi ayah 2 anak itu, Trinidad surga buah tropis. Tak heran jika hampir 2 bulan sekali ia bertandang ke negara itu. Beragam buah eksotis ditemukan di sana. Lihat saja koleksi Zizyphus mauritiana-nya. Putsa itu berukuran sangat kecil, lebih kecil daripada bola golf. Rasanya sangat manis dan renyah. Buah lain, Manilkara bidentata dan Syzygium malaccense bentuknya juga tak kalah unik.

Butuh perjuangan untuk bisa memboyong buah-buahan itu. Pria kelahiran Jamaika itu rela menjelajah hutan dan kebun-kebun. Maklum buah tropis yang diburunya termasuk langka. Belum lagi ia harus merayu si pemilik untuk melepas tanaman tersebut.

Pengiriman hingga ke Florida jadi hambatan berikutnya. Perburuan di Burma misalnya. Ia harus main petak umpet dengan pihak bandara untuk membawa bibit mangga. Saat itu Burma melarang produk pertaniannya keluar dari negara itu. Berkat kelihaiannya mangga es krim itu berhasil diboyong ke kebunnya.

Pencarian xoai cat hoa luc di Vietnam juga tak kalah seru. Mangga berwarna hijau itu sangat terbatas dan hanya terdapat di pelosok Ho Chi Minh, Vietnam. Ia harus menempuh perjalanan berjam-jam hingga menuju lokasi. Sesampainya di sana ternyata ia hanya disuguhi mangga yang bentuknya mirip nam dok mai. Meski kesal karena tertipu, Maurice tetap melanjutkan perburuan hingga memperoleh mangga idamannya.

Buah unik

Berburu di kebun buah di Citeureup

Mangga favorit Maurice. Koleksinya kebanyakan diperoleh dari Vietnam, Karibia, Thailand, Indonesia, Burma, India, Jamaika, Trinidad, dan Malaysia. Salah satu mangga kesayangannya, matrimony dari Jamaika. Jika dibelah bentuk potongan membentuk cincin. Biasanya ia disajikan dalam mangkuk ditambah es serut atau es krim. “Rasanya manis sedikit asam dan segar,” ujarnya.

Koleksi lain yang tak kalah unik adalah jeruk. Ia memiliki jeruk berkulit halus dari Jamaika, namanya ugli. Meski namanya jelek, tetapi penampilannya sangat cantik. Ada juga pamelo dari Thailand yang tidak berbiji.

Maurice juga mengumpulkan berbagai sayuran, herbs, dan tanaman hias yang jarang ditemukan di Florida. Koleksi sayuran dan herb itu didominasi dari Thailand, tanah kelahiran sang istri.

Ketua club Rare Fruit Council International (RFCI)

Sejak pensiun sebagai konsultan bisnis, Maurice banyak menghabiskan waktu di kebun. Sekadar mengotak-atik tanaman atau mendaftar tanaman yang belum dimiliki. Ia melakukan grafting dan pemupukan sendiri. Beberapa tanaman sengaja disambung dengan koleksi lain untuk menghemat tempat.

“Tempatnya sangat terbatas, padahal tanaman yang dikumpulkan sangat banyak,” ungkap Maurice.

Supaya tanaman tumbuh prima Maurice kerap memberikan jerami di sekitar tanaman. Tujuannya untuk menjaga kelembapan tanah.

Tanah Florida berkapur dan kurang subur. Itu sebabnya ia membuat lubang tanam 6 bulan sebelum ditanami agar kandungan kapur tanah menurun.

Ia juga menghindari penggunaan bahan-bahan kimia. Kotoran sapi atau guano dimanfaatkan untuk pupuk. Jika ditemukan hama atau penyakit Maurice menggunakan pestisida organik.

Kecintaan Maurice terhadap buah tropis berawal dari hobinya mengkonsumsi buah-buah itu. Ia pernah menetap selama 3 tahun di surga buah Thailand, setelah kembali ke Florida, ternyata buah kesukaannya sulit di dapat. Ia kemudian bergabung dengan Rare Fruit Council International (RFCI). Aktivitasnya membuat ia terpilih sebagai ketua. Ia banyak memberikan sumbangan baik tanaman atau pengetahuan.

Pos terkait