Penerbang Rindu Sapu-Sapu

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
ikan sapu sapu

Keindahan pantai Kuta, Bali, tidak mengalihkan perhatian Agung dari sapu-sapu yang ditawarkan Herman Oei tadi. Ia membayangkan ikan belang-belang sepanjang 10—15 cm, itu berenang di akuarium. Maklum ikan itu sudah lama diidam-idamkannya.

“Jenis itu belum tentu datang setahun sekali,” ujar Agung. Angannya melayang seiring dengan Foker 27 yang dikemudikannya kembali ke Jakarta. Begitu mendarat di Bandara Soekarno Hatta, bukan rumah yang dituju, la justru memacu mobilnya menuju kantor PT Asher Primatama Lestari di Serpong, Tangerang.

Bacaan Lainnya

Hatinya plong kala melihat “pujaan hati” masih ada. Tanpa pikir panjang diboyongnya ikan itu setelah ditebus Rp800-ribu/ekor. Setibanya di rumah, Banded peckoltia itu dicemplungkan ke dalam akuarium berukuran 80 cm x 50 cm x 40 cm. Setelah melepas seragamnya, pilot sebuah maskapai penerbangan nasional itu langsung duduk di depan akuarium.

“Sungguh mengasyikkan mengamati sapu-sapu berkeliaran di sela-sela kayu,” Ungkap pria kelahiran Jakarta 18 Februari 1975. Tak heran jika sedang “mencumbu” ikan kesayangan itu Agung betah duduk berjam-jam hingga subuh. Kerinduan berpisah selama 2 minggu terbalaskan.

Tangkapan alam

Perkenalan Agung dengan sapu-sapu hias gara-gara membuka situs tentang pleco pada 1999. Di situs ditampilkan informasi tentang sapu-sapu, lengkap dengan foto dan cara pemeliharaan. “Ternyata sapu-sapu itu coraknya beragam dan cantik,” ujar Agung. Karena penasaran, ia tertarik untuk membeli seekor.

Pusat-pusat penjualan ikan hias di pelosok Jakarta ditelusuri. Namun, yang dijajakan kebanyakan jenis lokal. Ukurannya besar, berwarna hitam, dan polos. Suatu hari ketika singgah di pasar ikan Barito, Jakarta Selatan, matanya tertambat pada royal pleco. Meski tidak sreg karena motif dan warnanya kurang ngejreng, Agung tetap membeli ikan itu seharga Rp300-ribu/pasang.

Sejak itu ikan-ikan besar seperti aligator dan catfish yang telah dipelihara selama 2 tahun disingkirkan. Pria berbadan tegap itu jadi ketagihan mengumpulkan ikan asal Sungai Amazon. Sayang ia kesulitan menemukan sapu-sapu bagus di Jakarta. Maklum importirnya sedikit.

Di negara asalnya Brasil, anggota keluarga Loricariidae itu masih mengandalkan tangkapan alam. Setelah berkenalan dengan Herman Oei lewat dunia maya, jalan mengumpulkan sapu sapu semakin mulus.

Satu per satu koleksinya bertambah. Yang diincar kebanyakan hasil tangkapan alam. Alasannya corak dan warnanya lebih eksotis. Lihat saja Baryancistrus niveatus. Totol-totol kuning kontras dengan tubuhnya yang hitam. Corak itu juga ada di ujung sirip punggung dan ekor. Demi ikan seukuran telunjuk itu Agung rela menebus Rp 1,5-juta—Rp2-juta. Dari 17 jenis ikan koleksinya 10 merupakan hasil tangkapan alam.

Dua akuarium

Yang jadi favorit penggemar basket itu jenis Scobinancistrus eareatus dan zebra. Sosok goldy nama dagang Scobinancistrus aureatus mirip dengan Baryancistrus sp. Sedang zebra pleco motif mirip kuda zebra. “Kedua ikan itu ngga membosankan dilihat dan sangat mencolok di akuarium,” ujarnya. Namun sapu-sapu lain seperti Stunsoma aureum, Peckoltia vittata, Parotocinclus maculicauda, Panaque nigrolineatus, Leporacanthicus, dan mini pleco tetap disayangi. Total jumlah koleksi 40 ikan masing-masing berharga Rp500-ribu— Rp2-juta per ekor.

Kehadiran sapu-sapu membuat penampilan 2 akuarium di ruang tamu itu semakin meriah. Akuarium kayu bertingkat 2 itu dilengkapi bonggol kayu lapuk. “Sapu-sapu senang ngumpet, maka saya isi dengan bonggol kayu,” ucapnya. Setelah akuarium didekati memang tampak pleco berukuran 10—15 cm bersembunyi di sela-sela bonggol.

Makanya untuk menambah semarak akuarium Agung mencemplungkan Corydoras metae dan Pygmy corydoras. Di rak bawah akuarium diisi pelco berukuran mini dan pangasius. Sementara akuarium di dalam kamar berisi pleco albino.

Rawat sendiri

Koleksi sapu-sapu Agung kerap ditawar sesama hobiis. “Tetapi saya tidak sembarang melepas,” tutur Agung. Ia bersedia melepas bila koleksinya lebih dari 2 ekor. Itu yang menjadi inspirasi Agung untuk mengembangkan sapu-sapu hias. Bersama rekannya Rusli ia belajar memijahkan jenis Struisoma aureum sejak 2 bulan lalu. Meski hasilnya belum tampak Agung optimis berhasil.

Sibuk dengan jadwal penerbangan yang padat, Agung sedapat mungkin merawat sendiri sapu-sapunya. Dari menguras air hingga memberi pakan. “Toh pleco bukan ikan rewel, perawatannya tidak serepot aligator,” tutur pria berzodiak Aquarius itu. Yang penting suhu dan kualitas air tepat. Pakan selain pelet juga diberikan mentimun dan kacang polong untuk mempercerah warna.

Jika Agung terbang ke Bali atau Kupang perawatan diambilalih sang ayah. Prosedur perawatan ditempelkan di setiap akuarium. Meski begitu, Agung tak lepas tangan. Ketika berada di Bali, setiap 2 hari sekali ia mengecek kondisi ikan lewat telepon. Itu sebabnya jika mendarat di luar kota telepon genggam tak pernah padam. Supaya ia dapat melampiaskan kerinduan untuk puluhan sapu-sapu koleksinya.

Pos terkait