Penggiilingan Gabah Demi Itik

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
farmer

Add Farm identik dengan peternakan itik. Maklum perusahan itu mempu mengelola dana 3.000 investor yang menanamkan modal. Bandingkan ketika memulai usaha pada 1995, hanya ratusan investor.

Bila beberapa perusahaan profit sharing tersandung, Add Farm malah semakin berkibar. Bidang usaha peternakan itik yang dirintis Ade Suhidin itu merambah ke penggilingan beras dan ekowisata. Kedua sektor itu diharapkan jadi pendukung bisnis itik yang kian diminati investor.

Meningkatnya jumlah investor menyebabkan Add Farm harus menyediakan lebih banyak itik. Bayangkan jika setiap investor mendapat 100 ekor/paket, Add Farm hams menyediakan 300.000 ekor. Itu belum termasuk anakan yang jumlahnya ratusan ribu ekor. Bebek itu diternakkan di empat lokasi: Desa Cikulak – Kecamatan Waled, Desa Bungko Kidul – Kecamatan Kapetakan, Desa Kiaajaran Kulon -Kecamatan Lohbener, Desa Kalipasung -Kecamatan Babakan. Ketiganya di Kabupaten Cirebon serta Desa Kiajaran Kulon. Kecamatan Lohbener di Indramayu.

Untuk mengimbangi populasi itik yang terus bertambah, Add Farm mengimbangi dengan ketersediaan pakan. Menurut Ade Suhidin, seekor itik membutuhkan rata-rata 150 gram menir/hari. Farm di Kalipasung berisi 320.000 ekor sehingga hams tersedia 64 ton menir. Bila harga menir Rp600/kg, pemsahaan itu hams menyediakan dana Rp38.400.000/hari. Belum termasuk kebutuhan pakan untuk bibit.

Bangun penggilingan

petani menggiling padi
penggilingan padi

Untuk menekan biaya produksi sejak 2002, Ade Suhidin membangun penggilingan padi baru dan membeli pabrik tua hingga berjumlah 10 unit. Pabrik-pabrik itu berlokasi di sentra penanaman padi di Subang, Cirebon, dan Tasikmalaya. Misal Add Farm 06 di Desa Rancabango, Subang memiliki 4 mesin yang menggiling 4 ton gabah/hari. Bila setiap ton gabah menghasilkan 1,2 kuintal beras, dan 480 kg menir/hari, atau senilai Rp288.000.

Kapasitas lebih besar terdapat di Desa Tanjungsalep, Subang. Setiap hari ke-4 mesinnya menggiling 10-20 ton gabah dari padi IR-64 dan pandan wangi. Menurut Oyok, penanggung jawab, pabrik itu menghasilkan menir 1.200-2.400 kg/ hari. Namun, pabrik hanya beroperasi pada musim panen sehingga kelebihan produksi ditampung untuk mengatasi paceklik.

Agar mudah mendapat gabah untuk digiling, Ade Suhidin melakukan “reformasi” sistem. Menurut Ade,“Sejak 30 tahun silam, pabrik penggilingan selalu mengenakan biaya Rp40/kg kepada pemakai jasa. Biaya itu saya hapus, agar petani bisa merasakan untung.” Petani boleh mengeringkan gabah di lantai penjemuran Add Farm. Bahkan untuk menyimpan gabah Add farm menyediakan gudang. Dengan fasilitas serba gratis diharapkan petani mau menggiling gabah di tempat mereka dan mau menjual gabahnya.

sistim terpadu

Bila tidak mengubah sistem, mereka bakal kesulitan mendapat gabah. Pasalnya, banyak penggilingan padi yang aktif turun hingga ke sawah. Dengan mengolah gabah petani, ia lebih mudah mendapat gabah yang dibeli dengan harga pasar Rpl.500/kg.

Keuntungan lain, menir menjadi milik Add Farm. Beli gabah kemudian menjual beras pun jadi kegiatan baru Add Farm. Setiap penggilingan menghasilkan beras rata-rata 6 ton/hari. Untuk menampung beras hasil olahan, 2 kavling gudang di Kawasan Industri Cikarang dibeli. Dalam sepekan 6 truk fuso milik Add Farm datang 2-3 kali. Setiap datang truk mendrop rata-rata 20 ton beras.

Menurut Samo, staf pemasaran, mereka menjul beras Rp2.700/ kg. Dengan harga itu beras mereka bersaing di pasaran karena mutu dijamin asli tanpa pemutih. Setiap hari Samo bisa menjual 20 ton. Beras itu disalurkan ke pasar induk Cipinang (50%), koperasi
Purboyo, koperasi BRI, Dolog, dan pasar di Depok dan Bekasi. Selain itu, peternak itik pun diwajibkan membeli beras sebanyak 25 kg seharga Rp67.500. Seorang pelanggan di Irian pun minta dipasok 20 ton/minggu.

Untuk informasi penjualan hasil: Hary, Sarno, Herwan, dan Purnomo. PT Add Farm. Divisi Logistik, Pemasaran & Distribusi. Kawasan Industri Cikarang, Jl. Industri Utama Blok RR 2D-2E, Cikarang, Telp: (021)-89833180-81 Fax. 021-89833179