Peranan Raiser Ikan Hias Di Indonesia

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
ikan hias di indonesia

Indonesia memang gemah ripah loh jinawi. Termasuk di dalamnya kekayaan alam berupa ikan hias. Sungai-sungai di Kalimantan, surga bagi penggemar arwana. Ikan dewa itu menghuni sungai besar hingga anak kali di pelosok. Belum lagi danau-danau di Jambi yang melahirkan miliaran botia setiap musim.

Botia, jika musim hujan berkembang biak hingga miliaran ekor. Namun, perdagangan ikan itu dimonopoli pedagang besar Singapura. Mereka membeli dengan harga Rp25/ekor. Ikan dimasukkan ke raiser. Sebulan kemudian si mungil itu diekspor dengan harga US$2/ekor. Dengan asumsi mereka mengeluarkan biaya US$l/ekor, mereka menangguk keuntungan US$l/ekor. Berarti devisa yang disedot negara itu US$1-miliar dari kekayaan alam kita.

Bacaan Lainnya

Itulah Singapura, karena kekayaaan alam yang amat terbatas, mereka rajin mengumpulkan ikan dari berbagai negara. Ikan-ikan itu lalu dikelola di raiser dan dikemas dengan baik sehingga menghasilkan devisa.

Sebaliknya, peternak kita lebih senang mengembangkan ikan-ikan dari luar negeri seperti maskoki dan koi. Begitu piawainya sehingga beberapa ikan seperti diskus dan catfish yang sulit diternakkan di luar negeri dengan gampang dikembangkan di sini.

Sekali pun sukses memijahkan, kenyataannya peternak kita belum bisa menjaga mutu. Itu dipicu oleh ulah pedagang yang hanya berpatokan pada ukuran dengan mengabaikan kualitas. Mereka belum disiplin sehingga mutu ikan amat rendah. Berbeda dengan Jepang dan Cina. Koi dan maskokinya amat bagus karena diseleksi sangat ketat. Mereka mengambil hanya 15—20% dari produksi. Sisanya dimusnahkan. Dengan seleksi ketat mutu keturunan selalu bagus. Ukuran juga sesuai dengan pesanan.

Peranan Raiser

Menyadari situasi itu, pemerintah berusaha membatasi impor dan memfasilitasi pengadaan bibit bagus. Bekerjasama dengan pengusaha, pada 2003 didirikan raiser di lahan seluas 20 ha di Cibinong, Bogor. Diharapkan tindakan itu bisa merangsang pelaku stakeholder ikan hias dan menular ke kota-kota lain.

Raiser ialah lembaga yang memfasilitasi perdagangan ikan hias dari Indonesia ke luar negeri dan sebaliknya. Misalnya, saat ini peternak ikan hias skala rumahan menemui kendala pemasaran. Mereka amat tergantung pada tengkulak yang membeli dengan harga murah. Karena tak ada jaminan harga memadai,akhirnya animo untuk mengembangkan ikan hias secara baik dan berkualitas meluntur.

Di raiser nanti peternak kecil bisa menjual ikan dengan harga layak. Ikan-ikan itu kemudian disortir sehingga yang dipelihara hanya ikan bermutu. Setelah terkumpul banyak, kita bekerjasama dengan pengusaha untuk mengekspor. Sebaliknya importir yang mencari ikan Indonesia bisa langsung ke raiser tanpa perlu repot-repot berkeliling daerah.

Masalah harga tidak menjadi persoalan lantaran ditentukan berdasarkan standar internasional. Tidak seperti sekarang. Kadang di luar harga bagus, tetapi di sini anjlok. Di raiser itu disediakan fasilitas, harga internasional di berbagai tempat dapat terpantau setiap saat. Jadi ada transparansi harga sehingga posisi tawar peternak bisa lebih tinggi.

Pengelolaan raiser

Sementara ini pengelolaan raiser ditangani Departemen Kelautan dan Perikanan. Untuk ke depan diharapkan terbentuk konsorsium sehingga bisa dibuat raiser untuk masing-masing jenis ikan. Ada cupang, diskus, arwana, dan lain-lain. Dari 186 spesies yang diekspor, prioritas 10 besar yang diternak di Indonesia.

Untuk sementara, prioritas pengguna raiser ditujukan kepada peternak ikan air tawar di wilayah Jabotabek. Jenisnya antara lain tetra, botia, dan blackghost. Namun, untuk beberapa jenis khusus, seperti koi dari Jawa Timur dan arwana dari Kalimantan Barat, kesempatan tetap dibuka.

Dengan adanya raiser yang dibuka Maret 2004, diharapkan nilai ekspor ikan Indonesia sebesar US$16-juta dapat meningkat. Agar Singapura selaku pembeli terbesar ikan Indonesia tidak berpaling ke negara lain, disiapkan 2 strategi. Pertama, tidak hanya mengandalkan Singapura sebagai pembeli tunggal. Singapura hanya perantara. Target utama adalah negara pengguna, seperti Amerika dan Eropa.

Kedua, mutu harus dijamin sehingga harga tetap kompetitif. Peternak dibina supaya biaya dapat ditekan. Birokrasi ekspor juga dipangkas dengan mendirikan kantor karantina di situ. Diharapkan juga bekerjasama dengan perusahaan penerbangan sehingga harga bisa ditekan. Itu perlu dilakukan lantaran sektor ikan hias belum mendapat perhatian khusus, dengan hanya mendapat anggran 0,2%.

Pos terkait