Persoalan Mahalnya Harga Sayuran Dan Pasokan Yang Makin Sedikit

“Bermain” sayuran memang susah-susah gampang. Memilih komoditas tradisional relatif mudah dalam hal memasarkan. Namun, suatu saat untung besar, kala lain rugi tak tanggung-tanggung. Pasalnya, seperti membeli kucing dalam karung, pekebun sulit memprediksi medan. Harga jual …

“Bermain” sayuran memang susah-susah gampang. Memilih komoditas tradisional relatif mudah dalam hal memasarkan.

Namun, suatu saat untung besar, kala lain rugi tak tanggung-tanggung. Pasalnya, seperti membeli kucing dalam karung, pekebun sulit memprediksi medan. Harga jual dipengaruhi oleh faktor X yang sulit diduga.

Buat sebagian pemain sayuran yang telah lama berkecimpung, hal itu sudah biasa. Dan mereka terkadang tetap setia di “jalurnya”. Namun sebagian lagi punya strategi berbeda. Kelompok tersebut tak ingin terseret arus. Mereka mencari celah lain yang tak dilirik pekebun umumnya.

Niche market, sebut saja begitu. Pasar dengan konsumen dan volume terbatas. Karena serba terbatas, maka fluktuasi harga relatif rendah. Harga cenderung stabil. Dampaknya pekebun bisa menikmati keuntungan yang pasti dan marjin tinggi.

Prospek Bisnis Yang Menjanjikan

“Prospek sayuran ini amat menjanjikan,” tutur M. Saputra, pekebun sayuran jepang di Cipanas. Apalagi kala krisis moneter melanda Indonesia dan meningkat ke krisis ekonomi. Bila sayuran umum terkena dampaknya, bisnis sayuran eksklusif justru sebaliknya.

“Pelanggan sayuran itu tidak akan beralih dan menggantinya dengan sayuran yang lebih murah,” jelas pemilik salah satu los di Pasar Cipanas itu. Bahkan ada kecenderungan permintaan semakin meningkat, tapi barang tak tersedia. Tak heran jika produsen dan distributor ikut kewalahan.

Pendapat senada juga diungkapkan Dudi, staf PT Saung Mirwan. “Kalau dilihat dari permintaan, sebenarnya tren kecenderungan naik itu ada,” kata Dudi. Shisito yang semula 30kg per hari, merambat terus menjadi 70kg per hari.

Namun hal ini masih belum sesuai dengan harapan. “Kita berharap kebutuhan akan naik dalam jumlah besar,” tambahnya.

Tak seperti sayuran konvensional, konsumen sayuran ini bukan pasar tradisional melainkan, “Restoran masakan asing, swalayan besar, dan pemasok sayuran besar,” sahut Agus, staf Dewi Sri, pemasok sayuran.

Restoran masakan asing memang banyak menjamur di kota besar. Saat ini untuk melayani 2 restoran saja, Saputro bisa menikmati omzet sekitar Rp40-juta tiap bulannya. “Padahal biaya produksi untuk satu bulan hanya Rp7,2- juta,” ungkap Agus

Komoditas Sayuran Yang Tak biasa

Jenis sayuran yang diusahakan memang tak biasa. Umumnya komoditas “asing”, seperti shisito, kabocha, daikon, timun mini, okra, gobo, horenso, puki, dan mitsuba.

Jumlah permintaan masing-masing komoditas berbeda. Menurut A. Suparman, manajer Pacet Segar, pemasok sayuran di Cipanas, permintaan sayuran eksklusif untuk satu konsumen rata-rata 50kg/hari.

Sedangkan total pemesanan 200kg hingga 700kg setiap hari. “Permintaan barang tersebut rutin setiap hari,” jelas Suparman

Harga sayuran eksklusif cenderung stabil. Kisarannya antara Rp5.000 hingga Rp12.000 per kg. “Jika bibit sulit, harga bisa melonjak sampai Rp15.000,” papar Saputra. Bahkan horenso yang biasa dijual Rp5.000 per kg pernah naik drastis sampai Rp20.000.

Lebih jauh SM menjelaskan peluang masing-masing jenis yang diusahakan. Untuk shisito “Kebutuhan pasar kami 70kg per hari,” papar Dudi. Pasarnya masih terbatas Jakarta.

Dengan biaya produksi Rp9.000 hingga Rp1O.OOO per pohon, SM bisa menghasilkan l,7kg hingga 2,2kg. Buat pekebun yang hanya menggeluti 1.000 pohon dan dikelola sendiri biaya produksi tentu akan lebih murah sekitar Rp7.500/kg.

Dengan biaya yang jauh lebih tinggi, tak ayal keuntungan yang diraih hanya sekitar 30% hingga 40%.

Harga jual sayuran berbentuk cabai hijau ini antara Rp7.000 hingga Rp8.000 setiap kg. Walaupun demikian SM mengaku masih untung. Pasalnya komoditas ini tetap dibutuhkan.

“Selain shisito, timun mini juga bagus untuk dikembangkan,” jelas Dudi. Sayuran ini biasanya untuk campuran salad.

Karena itu kebutuhannya relatif sedikit. Untuk pasar Jakarta, SM memasok sekitar 30kg hingga 50kg per hari. Mereka menjual Rp4.500 hingga Rp6.000/kg.

Meski sekilas kecil, tetapi “Keuntungan bisa di atas 40%,” sahut Dudi. Dengan masa tanam 3 hingga 3,5 bulan, pekebun bisa memanen 2,5kg hingga 3kg per pohon. Biaya produksinya pun relatif rendah ketimbang shisito.

Timun mini memang tak serewel shisito. Gangguan utama hanya dari penyakit, dan harga fungisida terhitung lebih murah daripada insektisida. Jika dihitung, biaya produksi sekitar Rp7.500 per pohon.

Sayangnya pasar yang dijajaki SM masih Jakarta. “Kita belum mencoba pasar lain. Kita masih kewalahan memenuhi permintaan pasar ekspor untuk paprika,” ujar Dudi. Sementara Dewi Sri sudah menggarap Batam dan Surabaya dengan sayuran gobo, ubi jepang, dan daikon.

Pembudidayaan Sayuran Jenis Tertentu

Pasar yang menggiurkan disebabkan oleh berbagai alasan. Lantaran asing terdengar di telinga, banyak yang tak mengenal cara pembudidayaannya.

Gobo misalnya, membutuhkan teknik khusus untuk bisa menghasilkan umbi sepanjang 70cm. Horenso baru berdaun mulus jika diberi naungan. Sedangkan shisito harus ditanam dengan cara hidroponik dan dalam greenhouse.

Kebanyakan jenis sayuran ini membutuhkan daerah tinggi untuk menghasilkan kualitas terbaik. “Di daerah panas hasil sayuran jadi tak baik meskipun bisa,” tutur Saputro.

Ia menyarankan, ketinggian sekitar 800m hingga 1.OOOm sebagai daerah optimal. Di atas ketinggian 700m hingga 800m memang masih bisa, tapi kualitas sedikit menurun.

Bibit masih berasal dari luar negeri. Lantaran impor, pekebun terkadang harus antri untuk mendapatkannya.

Sulitnya mendapatkan bibit jadi pemicu harga yang terus melonjak. Akhirnya untuk komoditas tertentu mereka terpaksa membibitkan sendiri. Meski hal ini berdampak terhadap turunnya mutu sayuran.

Document Last Updated on 10 November 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.