Pertanian Organik Terpadu

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
organic farming

Bagaimana pekebun bisa pensiun? Pertanyaan itu memerlukan jawaban yang kreatif. Berbeda dengan pegawai negeri atau swasta, pensiun bagi pekebun bentuknya lebih bervariasi. Secara konvensional melalui menabung atau ikut asuransi dana pensiun, bisa juga dengan pertanian organik terpadu.

Inilah tantangan yang sebenarnya. Pertanian yang dilakukan dengan cerdas dan selaras alam ternyata membuat pekebun semakin kaya bersama lingkungannya. Sampai pada akhirnya mendapat pensiun atas jerih payahnya. Masalahnya bagaimana “bertani dengan cerdas” itu kan?

Bacaan Lainnya

Kata almarhum Haji Hamid, tokoh pertanian organik di Ciawi, cerdas berarti memadukan berbagai kegiatan di lahan yang sama. Pertanian, peternakan, dan perikanan dilangsungkan simultan pada suatu lahan. Sebagai contoh, ia mulai dengan menanam bibit salak. Sambil menunggu besar, di seputar ditanam pisang, bengkuang, cabai, bawang daun, dan bermacam palawija.

Di pinggir kebun dia pelihara domba, kambing, dan sapi. Di tengah kebun, berdekatan dengan sebuah saung atau pondok jaga, dibuat kolam ikan. Kambing digemukkan sampai siap jual dalam 7 bulan. Sekarang, 5 tahun berlalu. Percayakah Anda 4 ha salak memberikan pensiun antara Rp3-juta—Rp5-juta sebulan?

Kreativitas dan kejelian kunci sukses pertanian terpadu. Namun, terpadu belum tentu organik. Menurut para aktivis Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Antanan yang didirikan Haji Hamid, pertanian terpadu adalah langkah menuju pertanian organik. Perlu banyak kelengkapan untuk melaksanakan praktek yang betul-betul organik.

Menuju Eropa organik

Bung Kamo berpesan agar pertanian Indonesia dikembangkan secara organik. Ketika meresmikan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada awal 1950-an, proklamator RI itu sangat yakin indonesia bakal menjadi semakin subur bila menggunakan prinsip-prinsip organik. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Tekanan modernisasi dan intensifikasi membuat pupuk kimia dan pestisida bertakhta. Semua atas nama intensifikasi pertanian dan pelipatgandaan produksi.

Mengapa? Karena semua perlu makan. Penduduk Indonesia meledak dari 60 juta jiwa ketika merdeka menjadi 120 juta pada 1965. Sekarang lebih dari 210 juta. Untuk mengantisipasi ledakan penduduk, para ahli mengupayakan loncatan bioteknologi dan pemanfaatan bahan kimia.

Dampaknya luar biasa, tanah semakin miskin. Bermacam varietas hewan dan tumbuhan punah. Padahal, sebidang lahan menjadi sangat kaya bila mampu menopang bermacam kehidupan. Persawahan organik secara tradisional dipenuhi oleh satwa air, bermacam serangga, reptil, mamalia, dan unggas. Namun, pestisida mencerabut semuanya. Kalau makhluk-makhluk ini habis, manusia tinggal menunggu gilirannya. Kesadaran inilah yang membuat kehidupan organik menjadi penting.

Pada Februari 2004 untuk ke-18 kalinya Eropa mengadakan kongres menuju terbentuknya sebuah benua yang organik. Kampanye untuk mengembangkan pertanian organik sangat gencar. Sejauh ini, baru Swiss dan Austria yang pencapaian lahan pertanian organiknya di atas 10%. Inggris belum genap 5%, Perancis bahkan kurang dari 2%. Namun, itu tidak menyurutkan upaya mencapai sebuah Eropa yang organik di masa mendatang. Rancang tindaknya telah diajukan ke Parlemen Eropa pada awal 2004.

Sekitar 25 negara di benua itu mencanangkan Organic Europe. Dalam pameran pertanian organik di Jerman, Februari kemarin, tak kurang 2000 eksibitor tampil dan menyedot 30.000 peminat serius dari berbagai penjuru dunia. Artinya praktek pertanian ramah lingkungan mulai didamba. Perhatian mulai tertuju pada 5,5-juta ha lahan di Eropa yang dikelola secara organik.

Bagaimanakah upaya di Asia? Barangkali kepemimpinan hidup ramah lingkungan dan pertanian organik harus ditengok ke Jepang dan Tiongkok. Penggunaan limbah biologis dan kotoran manusia, menghasilkan panen palawija yang spektakuler. Jangan heran kalau melihat mentimun sebesar paha atau daun sawi sepanjang setengah meter di pasar-pasar Beijing.

Falsafah organik di luar negri

pertanian organik terpaduPengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (USDA) mencatat, peternakan organik di negeri itu berkembang hingga 12% per tahun. Pada 1999 saja, pasar makanan organik telah menembus angka USS 6-miliar. Kebanyakan produsen berasal dari kalangan peternak berskala kecil. Yang paling pesat di sektor susu dan telur.

Mengapa sampai demikian? Landasan filosofisnya mendekatkan manusia kembali dengan bumi, tempat hidup, dan matinya. Tanpa kedekatan dengan alam, mustahil manusia dapat mencukupi kebutuhan hidup di masa mendatang. Karena itu, setiap pribadi diajak kembali sadar pada asal proses pemenuhan pangan dan sandangnya.

Pertanian organik di Amerika didefinisikan sebagai sistem pengelolaan ekologis yang mengembangkan keragaman hayati, siklus kehidupan, dan daur kehidupan tanah. Dasarnya penggunaan input seminimal mungkin dan penerapan manajemen yang meningkatkan keselarasan ekologi. Akta produksi makanan organik ini telah dicanangkan sejak 1990. Peraturan pelaksanaannya disempurnakan hampir setiap tahun dengan masuknya rambu-rambu baru. Misalnya aturan pengelolaan irigasi, bebas dari rekayasa genetika, dan kriteria penggunaan label, serta pemasarannya.

Lebih dari itu, selalu dikobarkan kesadaran bahwa pertanian adalah identitas setiap bangsa. Upaya penyadaran ini menjadi sangat penting mengingat sekarang hanya 2% warga Amerika yang menjadi pekebun. Dengan demikian bergulirnya isu pertanian organik sangat penting bagi bangsa yang secara historis bertopang pada kekuatan agrikultur.

Industrialisasi pertanian yang ditopang oleh teknologi canggih, bahan-bahan sintetis dan kimia ternyata membahayakan manusia. Banyak pekebun mati kena racun akibat pencemaran nitrat dalam air dan pestisida. Penggunaan antibiotik pada ternak dan residu bahan-bahan kimia juga menjadi bom waktu. Pada 1990 kongres mensahkan undang-undang Farm Bill yang menggaris bawahi pentingnya pertanian berkelanjutan.

Indonesia organik 2010

filosofi pertanianDepartemen Pertanian Republik Indonesia juga punya program untuk mempercepat terwujudnya pembangunan agribisnis berwawasan lingkungan (eCoagribusiness’). Tujuannya untuk meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Visinya tidak main-main, mewujudkan Indonesia sebagai salah satu produsen pangan organik terbesar di dunia pada 2010.

Bagaimana caranya? Pertama, menghindari penggunaan benih dan bibit hasil rekayasa genetika, atau yang dikenal sebagai GMO (Genetically Modified Organism). Kedua, menghindari pemakaian pestisida kimia sintetis. Ketiga, menghindari pupuk kimia, hormon tumbuh, dan bahan aditif sintetis dalam makanan ternak. Sebaliknya, produktivitas dan kesuburan tanah ditingkatkan dengan menambahkan residu tanaman, pupuk kandang, penanaman kacang-kacangan, dan rotasi tanaman.

Secara prinsip dinyatakan pertanian organik bersifat holistik, terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami. Tinggal sekarang siapa dan dari mana memulainya? Semua infrastruktur terkait dengan hal ini diharapkan terpenuhi pada 2005.

Tanpa pelopor, pelaksana, dan pionir-pionir tangguh di lapangan, rumusan sgbagus apa pun tak banyak berguna. Kita memerlukan contoh-contoh, betapapun kecilnya untuk memulai. Juga pusat-pusat pelatihan. Di Jawa Barat ada lembaga pendidikan Teaching Farm Sadagori pimpinan M. Odjak Siagian. Programnya memberdayakan pekebun lahan kering, pelatihan organic farming dan pertanian lahan kering.

Di Jawa Timur ada Yayasan Kaliandra Sejati yang dengan beberapa petak kebun membuka mata pada pentingnya pertanian organik. Di Riau ada Ir Ilyas pengelola program Community Development RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper) yang melatih dan menyediakan bimbingan pertanian terpadu di ratusan desa.

RAPP termasuk perusahaan besar yang memikirkan pemberdayaan pertanian rakyat. Perusahaan ini mengirim para ahli pupuk alamiah untuk memberikan latihan di mana-mana. Melalui pengembangan pupuk bokashi telah dilatih dan diterapkan pembuatan pupuk organik di sejumlah provinsi. Untuk membuat kompos bokashi diterapkan teknologi EM (Effective Microorganism).

Sebagai ilustrasi, untuk membuat 1 ton bokashi diperlukan 600 kg pupuk kandang, 50 kg dedak, 50 kg tepung ikan, 300 kg arang sekam atau tempurung kelapa, 1 liter gula pasir atau gula merah, dan satu liter kultur bakteri yang disebut juga agen hayati, seperti EM4. Agen hayati bisa dipancing dengan nasi basi dan dikembangkan sendiri.

Berdasarkan pengalaman, ada masa-masa transisi yang harus dilalui oleh pekebun yang berani berpaling dari pertanian konvensional. Pertama, biasanya produksinya sejenak turun akibat belum siapnya tanah. Kedua, pemasaran organik memerlukan langkah-langkah yang berbeda daripada menjual hasil panen yang biasa.

Di P. Luzon, Filipina, saya pernah mengunjungi pekebun yang berani menanggung rugi hingga panen keempat setelah beralih ke persawahan organik. Namun, ia yakin situasinya akan berangsur membaik, pulih, bahkan melesat maju setelah panen kelima. Itu bisa terjadi karena, proses penyuburan tanah yang terperah pupuk kimia perlu waktu sedikit lama. Harapan mulai muncul ketika ia melihat belut, kepiting darat, dan ikan bermunculan di petak sawah. Tetangganya pun mulai sadar, sawah tidak hanya menghasilkan beras sebagai karbohidrat, tapi juga protein dari daging belut dan ikan.***

Pos terkait